Pertemuan Rapat MPR – MP diselenggarakan di Grand Mercure Hotel Jakarta pada 15 -17 Feb. 2023. Pertemuan ini seharusnya dilaksanakan pada tgl 1-2 Feb. 2023 sesuai dengan kesepakatan bersama dalam suatu pertemuan khusus di Jakarta pada tgl. 11 Jan. 2023, antara Ketum dan Sekum MP dengan Ketua dan Sekretaris MPR. Di dalam pertemuan tersebut telah disepakati pula untuk membicarakan secara bersama-sama dalam rangka mencari solusi atas konflik-konflik dan gejolak perpecahan yang terjadi di berbagai daerah, akibat dari adanya kebijakan-kebijakan organisasi yang bermasalah. Tetapi karena sesuatu hal, oleh MP, jadwal pertemuan diundur ke tgl 15-17 Feb. 2023.

Di dalam undangan MP tertanggal 1 Feb. 2023, tertulis, Hal: Undangan Rapat Bersama MP – MPR, dengan Agenda: SINKRONISASI ORGANISASI dan Fellowship. Hampir semua hamba Tuhan GPdI mengetahui adanya pertemuan untuk Rapat Bersama MP – MPR ini. Sinkron maksudnya: sejalan, sejajar, dan selaras.  Dengan topik SINKRONISASI ORGANISASI MP – MPR, pendeta-pendeta GPdI di seluruh tanah air berharap bahwa pertemuan khusus Sinkronisasi MPR – MP ini dapat membuahkan kebijakan-kebijakan dan atau keputusan-keputusan organisasi yang dapat menciptakan suasana kondusif di internal GPdI yang selama ini mengalami disharmoni di beberapa daerah.

INSIDEN
Tibalah tanggal 15 Feb, 2023, tepatnya pukul 14.00, ketua bersama sekretaris MPR tiba di lokasi pertemuan, yang mengambil tempat di Grand Mercure Hotel Jakarta Utara dan langsung ke meja registrasi untuk mengambil semua kelengkapan rapat, antara lain “NAME TAG”. Tetapi ternyata ada dua anggota MPR yang tidak terdaftar sehingga dengan sendirinya tidak ada name tag kedua nama tersebut di meja pendaftaran, yaitu Pdt. F. Rewah dan Pdt. S. Tandiassa, masing-masing sebagai anggota dan sekretaris MPR. Ketua MPR kemudian mempertanyakan kepada beberapa pengurus MP yang ada di lokasi, namun jawaban mereka sama yaitu bahwa ‘pimpinan’ tidak memperkenankan sekretaris MPR mengikuti Rapat. Akibatnya terjadi sedikit ketegangan antara ketua MPR dengan beberapa personal MP. Oleh karena tidak tercapai kompromi, maka ketua MPR memutuskan untuk meninggalkan arena pertemuan untuk kembali ke hotel Sunlake sambil menginformasikan kepada semua anggota MPR yang sudah berada dilokasi bahwa MPR secara kelembagaan ‘tidak menghadiri’ Rapat MP – MPR.

Sekitar pukul 16.00 WIB, acara dimulai dengan ibadah. Di dalam ibadah tersebut dilakukan pelantikan terhadap dua anggota MPR dan satu  bendahara MP. Setelah makan malam, acara yang disebut sebagai Rapat SINKRONISASI ORGANISASI MP – MPR GPdI dilanjutkan tanpa kehadiran lembaga MPR GPdI. Tentu saja suasana Rapat menjadi tidak seperti yang dibayangkan karena gagasan dan harapan tentang SINKRONISASI ORGANISASI MP – MPR tidak dapat terwujud.

SUASANA RUANG MEETING
Tanggal 16 Feb. Pukul 08.00, Sekum MP, atas nama ketum MP menelpon ketua MPR, memohon agar ketua dan sekretaris MPR hadir dalam pertemuan. Tepat pukul 09.30 ketua dan sekretaris MPR masuk ke ruang Meeting dan mengambil posisi duduk di depan. Saat itu seseorang sedang berbicara di depan forum Rapat MP-MPR. Kami mengira si pembicara adalah anggota MP, ternyata bukan. Pembicara adalah majelis jemaat lokal dari Langoan Sulut. Kami heran mengapa masalah jemaat lokal di Langoan Sulut yang secara Konstitusional berada di bawah domain MD Sulut, bisa di bawa masuk ke dalam Forum Rapat MP – MPR? Lebih heran lagi ketika rombongan majelis jemaat lokal dari Langoan itu dengan leluasa bergantian maju ke depan menyampaikan berbagai masalah mereka, ditambah lagi dalam komunikasi MP dengan mereka muncul istilah-istilah bahasa Langoan, ynag entah apa artinya.

Rombongan Majelis Jemaat Langoan ini menuntut supaya yang menjadi caretaker gembala jemaat GPdI Langoan adalah Pdt. X yang notabene berdomisili di Jakarta. Berulangkali mereka menyatakan tidak akan pulang ke Langoan sebelum tuntutan mereka dikabulkan. Lalu secara bergurau Ketum MP menjawab, “kalau tidak mau pulang ke Langoan, mampir jo di Manado”. Dan situasi Rapat MP – MPR pun berubah menjadi seperti Rapat Majelis jemaat GPdI Langoan dengan MP.

DUA KUBU DARI MALUKU UTARA
Giliran rombongan Maluku Utara yang terdiri dari 6 orang maju ke depan untuk menyampaikan Masalah MUSDA di MD Maluku Utara. Tiga orang dari kubu Pdt. Arie Nelwan bersama ketua PANOM yang menolak hasil MUSDA, dan tiga orang dari kubu Pdt. Herry Mangadil, ketua MD Maluku Utara. Dua kubu ini sedang berkonflik atas proses dan hasil MUSDA Maluku Utara. Mereka saling mengklaim diri atau kelompoknya benar dan juga saling menyalahkan. Untuk mengklarifikasi klaim kedua kubu tersebut, pimpinan rapat mengundang anggota MP yang menjadi utusan ke Maluku Utara. Lalu majulah dua anggota MP yaitu alm. Pdt. Budi Tutu dan Pdt. Jefry Manitik.

Sebelum alm. Pdt. Budi Tutu memberikan klarifikasi, terlebih dahulu alm. menghadap ke kedua kubu yang berdiri di dinding sisi kiri dari meja pimpinan, dan memberi semacam nasehat kepada kedua pihak. Setelah itu alm. kembali ke posisi menghadap ke peserta rapat, sambil membelakangi meja pimpinan rapat di atas panggung, sedangkan ketua & sekretaris MPR duduk di kursi dekat dinding sebelah kanan dari meja rapat pimpinan menghadap ke tengah, sekitar 2 – 3 meter dari posisi berdiri Pdt. Jefry Manitik bersama alm. Budy Tutu.

KEMATIAN MELENGGANG MASUK KE RUANG RAPAT PARA PEMIMPIN GPdI
Berdiri di depan semua peserta rapat dengan membelakangi meja pimpinan, di sebelah kanan ketua dan sekretaris MPR, dan di sebelah kiri berdiri dua kubu dari Maluku Utara, dan didampingi Pdt. Jefry Manitik, alm. Pdt. Budi Tutu mulai mengklarifikasi tentang: 1) alasan-alasan mengapa utusan MP meloloskan Pdt. Herry Mangadil menjadi calon ketua MD, 2) tentang adanya beberapa surat perjajian antara kedua kubu,  –  namun salah satu kubu merasa tidak pernah menandatangani salah satu dari surat-surat perjanjian yang disebutkan.

Sekitar pukul 11.30, di tengah-tengah memberi penjelasan atau klarifikasi tentang masalah-masalah tersebut di atas, tiba-tiba Pdt. Budi Tutu terhenti berbicara, lalu bergerak seakan mau melangkah ke depan, tetapi langsung terjatuh (tengkurap). Microphone yang ada di tangan alm. terlempar ke arah meja peserta, dahi bagian atas alis beliau sempat mengenai sudut meja Proyektor LCD, yang mengakibatkan luka berdarah. Dan secara spontan terdengar teriakan-teriakan: ‘darah Yesus! O Tuhan tolong!’.

Beberapa peserta yang duduk di depan segera membalikkan posisi dari tengkurap ke terlentang, dan selanjutnya beberapa orang menekan-nekan dada alm. untuk memancing nafas beliau, sebagian lagi bernyanyi ada kuasa dalam darahnya, ada pula yang berdoa sambil tumpang tangan, beberapa orang berteriak memanggil dokter, sementara sebagian lagi berdiri terdiam karena kaget seakan tidak percaya melihat apa yang sedang terjadi di depan mata.

Seketika situasi berubah menjadi sangat mencekam, perasaan takut tampak jelas di wajah-wajah para pendeta, di bagian belakang beberapa ibu menangis dalam suasana takut, sementara di depan beberapa orang masih terus berjuang untuk membuat bernafas Pdt. Budi yang sedang tergeletak tak bergerak dikelilingi oleh peserta rapat. Beberapa saat kemudian seseorang mengatakan: ‘Sudah meninggal’. Dan sebagian dari peserta yang nampaknya dari tadi menahan diri, akhirnya meledakkan tangisan.

Tanpa diundang, sang maut melenggang masuk ke tengah-tengah rapat MP – MPR tanpa ada satu kekuatan yang mampu mencegahnya, walau tanpa NAME TAG

MENCARI WAKTU YANG BAIK
Kemudian dari meja pimpinan diumumkan bahwa karena adanya kejadian yang tidak terduga ini, maka Rapat ditutup secara resmi, lalu diakhiri dengan doa penutup. Sesaat kemudian, pimpinan rapat – Ketum MP, turun dari panggung meja pimpinan, datang dan menyapa, menyalami kami, lalu duduk di samping kiri ketua MPR, dan sekretaris MPR duduk di sebelah kanan ketua MPR, sementara jenazah alm. Pdt. Budi Tutu masih terlentang di depan kami. Pembicaraan antara ketum MP dengan ketua MPR berkisar masalah penyakit yang kemungkinan diderita alm. Pdt. Budi Tutu dan soal kelanjutan rapat MP – MPR. Kedua ketua sepakat untuk mencari waktu yang memungkinkan untuk melanjutkan Rapat MP – MPR.

YANG TERSISA ADALAH PERENUNGAN AKAN PESAN TUHAN DALAM PERISTIWA INI
Beberapa saat kemudian, para petugas sekuriti dari hotel masuk membawa usungan dan mengusung jenazah Pdt. Budi Tutu keluar untuk selanjutnya di bawa ke Rumah Sakit Cikini. Bersamaan dengan itu, seluruh peserta pun meninggalkan ruang rapat  untuk selanjutnya kembali ke daerah masing-masing dengan membawa duka dan sedih, merenung dengan pertanyaan-pertanyaan dalam rasa penyesalan: ‘Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di antara kita? Mengapa ini terjadi di tengah-tengah rapat pimpinan gereja? Mungkinkah ada sesuatu dengan gereja kita ini?’.

Pdt. H.S. Gultom & Pdt. S. Tandiassa
Ketua & Sekretaris MPR GPdI.

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *