(Catatan: Kejadian sungguh-sungguh. Nama gembala/tempat disamarkan atas pertimbangan etis)

 

(S. Tandiassa)

Pdt. Johanes merintis jemaat di suatu daerah dengan modal 4 jiwa yg terdiri dari satu keluarga. Awalnya kegiatan ibadah dilakukan di rumah jemaat tersebut. 2 tahun kemudian, jemaat sudah menjadi 4 keluarga, yang terdiri dari 16 jiwa plus keluarga Pdt. Johanes, sehingga total 21 jiwa. Di tahun ke-3, karena kebutuhan tempat ibadah dan tempat tinggal (pastori), Pdt. Johanes menyewa sebuah rumah yang terbuat dari papan dan lantainya masih tanah. Untuk mencukupi keperluan sewa rumah 3 tahun tersebut, Pdt. Johanes menjual sepeda kesayangannya buatan Belanda merek Gazelle.

Mengorbankan Semua Aset Keluarga

Selama 4 – 5 tahun, jemaat bertumbuh pesat menjadi 30 keluarga sekitar 100 anggota, dan kebutuhan mereka yang paling mendesak adalah gedung gereja. Jemaat ternyata bersemangat mengumpulkan dana, namun karena kondisi ekonomi jemaat masih pas-pasan, hasil pengumpulan dana mereka hanya 20 % dari total kebutuhan. Untuk mencukupi kebutuhan, Pdt. Johanes pulang ke kampung dan menjual tanah berupa kebun yang cukup luas milik sang istri, yang merupakan warisan dari orang tuanya. Dalam waktu 1 tahun lebih berdirilah sebuah gedung gereja permanen ukuran 12 X 25 m dan di sampingnya dibangun pastori ukuran 10 X 15 m

Bersamaan dengan selesainya bangunan gedung gereja dan pastori, anak pertama Pdt. Johanes, Yehezkiel, masuk sekolah Alkitab kls 1, bersama ibunya yang masuk kls 2 di sebuah SA. Dan 6 bulan kemudian mereka tamat. Yehezkiel berpraktek di gereja teman Pdt. Johanes, sementara ibu Johanes kembali ke rumah melayani bersama suami. Setahun kemudian, Yehezkiel, kembali berkumpul dengan keluarga setelah selesai masa praktek. Ketika itu Pdt. Johanes sudah berusia 67 tahun. Dengan kembalinya ibu Johanes dengan putranya, Yehezkiel dari SA, tentu saja jemaat semakin bersemangat dan gereja pun semakin berkembang pesat, jumlah jemaat semakin bertambah. Saat itu jumlah jemaat sudah mencapai 57 keluraga, atau sekitar 200 lebih anggota aktif.

Pesan-pesan Sang Pejuang
Setiap kali keluarga pastori berkumpul di meja makan, Om Johanes selalu bilang pada istri dan  anak-anaknya bersama para pengereja: “Ternyata perjuangan, kerja keras, jerih payah, tetesan keringat dan air mata, serta pengorbanan kita tidak sia-sia”. Tidak lupa, bapak gembala selalu memberi dorongan kepada istri dan anaknya: “Kalian harus terus bekerja keras, dan jangan segan-segan berkorban demi kemajuan jemaat. Karena segala jerih payah dan pengorbanan kita untuk pelayanan tidak akan sia-sia”.

Larut dalam semangat dan sukacita melayani, tanpa terasa waktu terus berputar, dan Pdt. Johanes kini telah berusia 69 tahun. Perjuangan yang tidak kenal lelah, kerja keras yang tanpa batas waktu, dan beban-beban hidup yang berat yang ditanggung sejak dari masa perintisan, tidak jarang membuat Pdt. Johanes harus meneteskan air mata, meski ia tidak pernah mengeluh baik pada istri dan anaknya, maupun kepada jemaat, sampai pada suatu hari sang pejuang di ladang Tuhan ini tak mampu lagi tegak berdiri menghadapi penyakit.

Setelah dua minggu terbaring di tempat tidur pastory, akhirnya terditeksi sang perintis dan pejuang gereja ternyata menderita sakit paru-paru yang akut. Tanpa dikomando, seluruh jemaat bersehati dan bahu membahu untuk mengusahakan kesembuhan bapak rohani mereka. Setiap malam warga jemaat berkumpul di gereja untuk doa bersama demi kesembuhan bapak gembala sangat menyayangi mereka, sementara perawatan intensif dilakukan di sebuah rumah sakit daerah (RSUD).

 

Sang Perintis itu Berpulang
Mungkin Tuhan melihat hamba-Nya yang bernama Johanes sudah sangat lelah kerena perjuangan dan kerja keras selama hampir 40 tahun, sudah benyak berjerih lelah, meneteskan keringat dan air mata, dan bahkan telah memberikan segala aset milik keluarganya untuk Tuhan, dan mungkin Tuhan pun melihat sudah ada ibu Johanes bersama putranya Yehezkiel yang telah siap untuk melanjutkan perjuangan dan pelayanan pada jemaat. Tiga bulan sejak hamba-Nya yang setia masuk Rumah Sakit, Tuhan memanggil hamba-Nya yang tulus dan setia itu untuk pulang dan beristirahat dalam damai di rumah Bapa.

Kepergian itu meninggalkan kesedihan dan kehilangan mendalam di hati seluruh jemaat, namun mereka masih bisa terhibur, karena masih ada ibu gembala dengan Yehezkiel yang bersama mereka. Dan seluruh jemaat pun berkomitmen untuk mendukung sepenuhnya pelayanan ibu gembala mereka bersama.

Pembawa Nasib Buruk

Enam bulan setelah kepergian Pdt. Johanes, ketika suasana hati jemaat sudah pulih dan semangat mereka sudah bangkit kembali, pada suatu hari, dan tanpa diduga-duga, sebuah mobil Pajero hitam mengkilap terparkir di depan gereja Ibu Johanes, lalu empat penumpang mobil itu turun, yang ternyata adalah rombongan pimpinan gereja. Sebagai keluarga yang baru 6 bulan kehilangan suami dan sebagai jemaat yang masih dibayang-bayangi rasa duka, ibu Johanes dan jemaat tentunya berpikir bahwa rombongan pimpinan gereja ini datang untuk memberi kekuatan, dorongan, dan penghiburan. Ibu gembala bersama jemaat pun menyambut dengan sukacita rombongan petinggi-petinggi gereja itu.

Sesaat setelah minum teh, salah satu dari rombongan itu membuka pembicaraan. Dengan lemah-lembut ketua rombongan itu menyampaikan  kepada ibu Johanes dan jemaat yang hadir di ruang tamu pastory, bahwa sesuai kebijakan pimpinan gereja, ibu Johanes akan dimutasi ke suatu gereja di desa yang jaraknya sekitar 50 km dari gereja ibu Johanes. Kondisi gereja di desa itu persis sama seperti kondisi tempat ibadah Pdt. Johanes 35 tahun lalu, yaitu terbuat dari papan dengan lantai tanah.

Kata-kata lembut sang pimpinan gereja itu bak petir di siang hari yang menyambar ibu gembala bersama tua-tua jemaatnya. Kalimat-kalimat yang disisipi dengan kata-kata rohani itu bagai pisau yang merobek-robek hati dan memperdalam luka-luka kesedihan ibu gembala, Yehezkiel, dan para pelayan yang mendampingi ibu Johanes. Mendengar kebijakan pimpinan itu, Ibu Johanes, Yehezkiel bersama para pelayan jemaat yang hatinya belum pulih sepenuhnya akibat dukacita, hanya bisa diam.

Pada hari minggu setelah doa penutup, ibu gembala menyampaikan kepada jemaat kebijakan pimpinan bahwa penggembalaan di sini akan dilanjutkan oleh salah satu pimpinan gereja, dan ibu Johanes dipindahkan ke gereja di desa sebelah. Dan seperti dikomando, seluruh jemaat – lebih dari seratus orang, bangkit berdiri dan berteriak: “Tidaaaak…. Tidaaaaak!!! Sesaat kemudian, sebagian dari mereka marah, sebagian menangis, dan sebagian lagi diam karena tidak mampu menalar kebijakan pimpinan gereja mereka.

Kira-kira sebulan kemudian, tepat pada hari minggu, mobil Pajero hitam terparkir lagi di depan gereja ibu Johanes, dan seluruh penumpangnya ikut beribadah dengan khusuk, Firman Tuhan disampaikan oleh ibu Yohanes, sampai doa penutupan. Saat amin, salah seorang dari rombongan pimpinan pusat minta waktu untuk bicara. Sang pemimpin sebelum dipersilahkan, langsung naik ke mimbar membacakan dua SK sekaligus, yaitu SK mutasi ibu Johanes dan SK gembala pengganti Ibu Johanes, yang tidak lain adalah salah satu dari rombongan pimpinan itu.

Jemaat ibu Johanes tentu saja tidak mau menerima begitu saja kebijakan pimpinan pusat itu. Maka terjadilah pertengkaran yang sengit, saling dorong, dan saling maki antara jemaat dengan pimpinan. Pertengkaran itu berlangsung dari pukul 10.00 sampai pukul 12,00, dengan hasil kebijakan pimpinan pusat sudah final dan tidak dapat diganggu gugat. Selanjutnya pimpinan pusat bilang: “saudara-saudara, minggu depan akan dilakukan serah terima penggembalaan dari ibu Johanes ke Pdt. X, sesuai keputusan pimpinan”. Pdt. X adalah salah satu dari tim pimpinan itu.

Warga jemaat yang merasa kebijakan pimpinan pusat itu terlalu kejam, sewenang-wenang, dan tidak manusiawi, menyatakan diri keluar dari organisasi. Mereka kemudian beramai-ramai mendukung ibu Johanes bersama Yehezkiel membuka persekutuan di rumah jemaat. Delapan puluh lima – sembilan puluh persen jemaat sepakat keluar dari organisasi. Hanya saja tanah dan gedung gereja yang notabene 95% adalah hasil dari menjual aset ibu Pdt. Johnases, tidak bisa diambil oleh ibu Pdt. Johanes bersama jemaat karena sudah telanjur diatasnamakan organisasi. Untungnya pastori masih bisa ‘diselamatkan’ dari tangan-tangan pimpinan yang kejam karena baik tanah maupun bagunan pastori menggunakan nama Pdt. Johanes.

Tuhan Tidak Tidur

Spirit dan teladan perjuangan, kerja keras, serta pengorbanan yang ditanamkan alm. Pdt. Johanes kepada keluarga dan jemaat tetap membara dalam diri ibu Pdt. Johanes, Yehezkiel, dan seluruh jemaat yang berjumlah hampir 100 orang. Mereka kembali berjuang, bekerja keras, dan berkorban untuk memiliki sebuah gedung gereja. Tuhan ternyata tidak berdiam diri, Tuhan tidak menutup mata terhadap derita yang dialami hamba dan jemaat-Nya yang tulus, dan Tuhan tidak menutup telinga terhadap jeritan batin hamba-hamba-Nya yang diperlakukan secara kejam. Singkatnya, Tuhan tidak tidur.

 

Akhirnya hanya dalam waktu setahun lebih, berdirilah sebuah gedung gereja yang megah ukuran 15 m X 30 m sekaligus dengan balkon, yang berjarak sekitar 700 m dari lokasi gedung gereja yang didirampas oleh pimpinan dari tangan mereka.

Demikian sekilas cerita tentang sukaduka dan nasib gembala perintis. Semoga peristiwa ini memberi HIKMAH kepada pembaca, terutama kepada para gembala jemaat, sehingga tidak mengalami nasib seperti ibu Pdt. Johanes dan anaknya, Yehezkiel.  (ST)

 

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *