SUDUT-SUDUT GELAP PEMIMPIN (Psikologi Leadership) OLEH SAMUEL TANDIASSA Kita sering bertanya mengapa terdapat pemimpin-pemimpin yang berperilaku begitu dan tidak sebagaimana mestinya? Mengapa ada sebagian pemimpin bersikap seperti itu dan tidak bersikap seperti ini? Tidak hanya bertanya, kita bahkan sering menjumpai kenyataan-kenyataan adanya tindakan, kebijakan, keputusan, perilaku, gaya, watak, atau karakter beberapa pemimpin religi, termasuk pemimpin-pemimpin gereja yang sangat sulit diterima secara nalar, karena sangat kontras dengan norma-norma leadership. Di dunia religius, terdapat juga pemimpin-pemimpin yang justru menimbulkan banyak masalah. Religi atau agama (gereja) yang sesungguhnya identik dengan kedamaian, ketenangan, kasih sayang, harmoni dan persaudaraan, berubah menjadi kegaduhan, konflik, ketegangan, yang berkembang menjadi permusuhan, dan memuncak pada perpecahan, akibat dari perilaku atau karakter kepemimpinan sang pemimpin. Ketika kita melihat atau pun mengalami kenyataan-kenyataan yang demikian, kita pasti terheran-heran dan bertanya-tanya, mengapa pemimpin religi yang notabene adalah rohaniawan, yang seharusnya membawa damai, ketenangan, harmoni, dan rasa aman justru menciptakan ketegangan-ketegangan dan konflik? Mengapa rohaniawan yang dalam khotbah-khotbahnya menyampaikan kabar surgawi, tetapi dalam kepemimpinannya justru menimbulkan kegaduhan dan perpecahan di mana-mana? Rohaniawan yang menjadi pemimpin umat Allah seharusnya mengayomi, membina, mensejahterakan, dan menginspirasi umat, tetapi terdapat banyak pemimpin religi yang justru memimpin dengan tangan besi? Psikologi leadership memberikan jawaban-jawaban yang tepat dengan cara mengungkap sudut-sudut gelap pemimpin, baik itu pemimpin-pemimpin di dunia politik maupun pemimpin-pemimpin di dunia religi. Terdapat paling sedikit lima (5) problem psikologis yang membuat pemimpin bertindak atau berperilaku bertentangan dengan norma-norma moral leadership, dalam hal ini disebut sebagai “Sudut-sudut Gelap Pemimpin”. CURIGA dan TAKUT BERLEBIHAN. Di dalam istilah psikologi sering disebut ‘Paranoid’. Paranoid adalah masalah psikologis yang ditandai dengan munculnya rasa curiga dan takut berlebihan. Orang yang paranoid cenderung sulit atau bahkan tidak bisa memercayai orang lain dan memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan paranoid: 1)Selalu khawatir bahwa orang lain memiliki motif tersembunyi. 2)Mencurigai bahwa ia akan dieksploitasi (digunakan) oleh orang lain. 3)Meragukan komitmen, kesetiaan, atau kepercayaan orang lain, yakin bahwa orang lain menggunakan atau menipu mereka, 4)Inferior, yaitu merasa orang lain lebih baik dari diri mereka. Pemimpin-pemimpin paranoid persis seperti kedengarannya, yaitu berpikir bahwa orang lain lebih baik daripada mereka, sehingga mereka memandang kritik, bahkan yang paling ringan sekalipun sebagai hal yang menghancurkan mereka. Mereka bereaksi berlebihan jika merasa sedang diserang, terutama di depan orang lain. Ini dapat memanifestasikan dirinya dalam sikap permusuhan terbuka. Sikap ini adalah hasil dari rasa rendah diri yang menganggap kritik yang paling konstruktif sekalipun sebagai serangan untuk menjatuhkan mereka. Pemimpin paranoid akan berhati-hati dalam berurusan dengan orang lain karena mereka kawatir kelemahan-kelemahan mereka terungkap lalu diserqng atau diremehkan. Pemimpin-pemimpin paranoid takut dianggap tidak pantas di posisinya, oleh karena itu mereka sangat curiga terhadap rekan kerja akan merebut posisi mereka. Di sisi lain sering juga, meskipun jarang, dosis paranoid yang sehat dapat menjadi kunci sukses dalam bisnis. Hal itu terjadi karena paranoid dapat juga membuat para pemimpin tetap waspada, dan selalu sadar akan peluang yang tidak boleh dilewatkan. Ini adalah kebalikan dari sikap berpuas diri dan dapat menghasilkan usaha yang sangat sukses. PERILAKU MEMAKSA Perilaku memaksa, atau istilah umum kompulsif, adalah problem psikologis, yaitu suatu gangguan kecemasan di mana pikiran dipenuhi dengan gagasan-gagasan yang tidak dapat dikendalikan yang memaksa seseorang untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu, dan menyebabkan distress yang cukup berat serta mengganggu keberfungsian sehari-hari. Sedangkan kompulsi adalah tindakan-tindakan yang biasanya dilakukan secara berulang untuk mengurangi kecemasan. Pemimpin kompulsif selalu merasa harus melakukan semuanya sendiri. Ia selalu mengelola dan menagani sendiri setiap aspek dalam kepemimpinannya dan tidak mau mendelegasikannya karena ia tidak bisa percaya pada orang lain. Bawahan dianggap gagal bila tidak mengikuti kemauan mereka. Selanjutnya, para pemimpin kompulsif sangat mengagungkan status atau kedudukan. Oleh karenanya, mereka selalu berusaha untuk menciptakan kesan bahwa mereka adalah sosok-sosok pemimpin yang tekun, efisien, dan berintegritas, meski semua itu hanyalah kedok untuk mencari kepercayaan, dukungan, dan persetujuan. Akhirnya, compulsive leaders akan melakukan segala cara untuk tetap memegang kekuasaan. Dalam rangka itu, mereka selalu berusaha menyembunyikan perasaan-perasaan emosional, kemarahan, dan kebencian terhadap kelompok atau orang yang dianggap tidak mendukung. Akan tetapi kemudian perasaan-perasaan emosional, kebencian, dan kemarahan itu akan meledak melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang mengatasnamakan organisasi untuk menyingkirkan lawan-lawan. Bagi mereka, semakin banyak lawan yang disingkirkan, dianggap semakin sukses, karena bagi pemimpin-pemimpin kompulsif, sukses adalah mampu bertahan selama mungkin di posisi atau kedudukan sebagai pemimpin. BERPIKIR TERLALU TINGGI TERHADAP DIRINYA Perilaku ini sering disebut ‘Narsisme’ yaitu suatu kondisi kesehatan mental orang-orang yang memiliki rasa kepentingan diri sendiri yang terlalu tinggi atau berlebihan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), narsistik atau narsis artinya kepedulian yang berlebihan pada diri sendiri, yang ditandai dengan sikap percaya diri berlebih, sikap arogan, dan egois. Orang narsis membutuhkan dan mencari banyak perhatian agar orang lain mengagumi mereka. Tetapi mereka biasanya mudah kecewa dengan kritik sekecil apa pun. Pertanyaannya: Apakah narsis itu kelainan jiwa? Sejatinya narsis itu gangguan mental yang muncul ketika seseorang memiliki kecenderungan untuk memuja diri sendiri dan suka meremehkan orang lain. Pemimpin-pemimpin narsis berfokus pada dirinya sendiri. Mereka berusaha menjadikan dirinya sebagai pusat dari semua yang terjadi. Mereka selalu melebih-lebihkan jasa atau karya-karyanya, tetapi mengabaikan bahkan merendahkan karya orang lain. Pemimpin narsis memandang prestasi orang lain sebagai ancaman terhadap kedudukannya. Mereka berfokus pada upaya-upaya untuk bisa mendapatkan pujian demi memperkuat rasa berkuasa mereka. Mereka haus akan pujian atau pengakuan. Sikap seperti adalah gejala dari rasa rendah diri yang mendalam. Para pemimpin narsistik tidak dapat mentolerir sedikit pun kritik dan perbedaan pendapat. Untuk menjaga kewibawaan, mereka mengelilingi diri mereka dengan para penjilat. Mereka akan menggunakan jasa orang untuk meningkatkan pengaruh dan popularitas mereka, tanpa pernah berpikir untuk kemajuan orang lain. Perasaan mementingkan diri sendiri sangat kuat sehingga tak ada lagi rasa empati pada orang lain. Tidaklah mengherankan bila ada pemimpin-pemimpin yang membuat kebijakan atau mengambil keputusan yang tidak peduli pada perasaan orang lain, mengorbankan orang lain tanpa merasa berdosa, atau singkatnya, membuat kebijakan dan atau keputusan yang tidak manusiawi. KETERGANTUNGAN Secara lengkap perilaku ini disebut “ketergantungan dalam hubungan”. Di dalam istilah moderen disebut “Kodependensi”, yang artinya seseorang yang memiliki ketergantungan dalam hubungan. Kodependensi dapat menyebabkan hal negatif karena memprioritaskan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan pribadi. Secara ekstrim kodependensi sering dimaknai sebagai “kecanduan hubungan”. Seorang kodependen akan menghindari ketidaknyamanan atau masalah emosional demi memenuhi keinginan orang lain. Orang-orang dalam hubungan kodependensi sering kali ketakutan ketika pasangan mereka menghilang meski hanya sebentar. Para pemimpin yang kodependen, biasanya lebih memprioritaskan kepentingan-kepentingan koleganya daripada kepentingan organisasi yang dipimpinnya. Oleh karena kodependen, mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi, perubahan, atau pembaharuan. Mereka selalu meniru apa yang telah atau sedang dilakukan orang lain. Para pemimpin kodependen selalu menghindari konfrontasi dan lebih suka menutupi masalah daripada menghadapinya secara langsung. Perencanaan ke depan bukanlah keahlian mereka. Ganti daripada bekerja keras untuk meningkatkan prestasi atau mencapai tujuan, mereka justru sibuk bereaksi terhadap apa pun yang menghadang mereka. Pemimpin-pemimpin kodependen sangat reaksionis dan memiliki kebiasaan menyimpan atau tepatnya menyembunyikan untuk diri mereka sendiri tentang informasi-informasi penting, karena mereka tidak siap dan tidak mampu untuk menindaklanjutinya. Ini jelas dapat menyebabkan hasil yang buruk karena semua fakta terkait dengan organisasi tidak diketahui oleh mereka yang berada di bawah kepemimpinannya. Namun apabila muncul masalah di dalam organisasi akibat kurangnya informasi, pemimpin-pemimpin kodependen akan menya bawahnnya. PERILAKU PASIF-AGRESIF Perilaku pasif-agresif didefinisikan sebagai perilaku yang tampaknya tidak berbahaya, tidak disengaja, atau netral, tetapi secara tidak langsung menunjukkan watak agresif yang tidak disadari. Perilaku pasif-agresif bisa muncul dalam berbagai bentuk. Orang dengan kepribadian pasif-agresif mengekspresikan perasaan negatif mereka melalui tindakan-tindakan mereka. Kepribadian pasif-agresif bersifat implisit atau tidak langsung sehingga seringkali agak sulit dikenali. Orang yang memiliki kepribadian pasif-agresif, suka menunda-nunda, tidak bisa bekerja secara optimal, tidak bersedia minta maaf atau memaafkan. Dalam hubungan sosial, orang dengan watak pasif-agresif lebih banyak mencari kesalahan orang lain, bahkan pada orang yang berjasa pada pada dirinya sekalipun. Atau dalam bahasa yang lebih ekstrim, mudah mengkhianati orang lain tanpa merasa bersalah. Pemimpin-pemimpin yang pasif-agresif selalu merasa bahwa mereka perlu mengendalikan segalanya, dan ketika mereka tidak bisa memegang kendali, mereka dengan sengaja menciptakan masalah bagi pihak-pihak yang dipandang sebagai lawan. Tentu saja pemimpin-pemimpin pasif-agresif licik dalam taktik dan sangat sulit untuk bersikap konsisten. Karakteristik utama mereka adalah keras kepala, sengaja (pura-pura) lupa, tidak efisien atau boros yang cenderung berfoya-foya, suka mengeluh untuk mencari simpati, dan mereka selalu menangkis setiap tuntutan dengan cara menunda-nunda. Karakter para pemimpin pasif-agresif digambarkan demikian: “Saat mereka merasa tidak kuat di kursi pengemudi, mereka akan melompat keluar dan menusuk ban mobilnya saat tidak ada yang melihat, kemudian mereka berlagak seolah-olah merasa ngeri melihat apa yang terjadi, lalu mereka berpura-pura mencari-cari paku yang menusuk ban mobilnya”. Tipe pemimpin ini biasanya cepat beraksi untuk maju tetapi kemudian cepat juga berhenti kerena tidak mampu mewujudkan apa yang dipikirkan. Ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan, alias gagal, mereka akan menawarkan imbalan pada mereka yang mau mendukung sepenuhnya atas keputusan-keputusan mereka. Selanjutnya mereka akan menciptakan gosip dan fitnah untuk dijadikan alasan penundaan atau pembatalan keputusan-keputusan. Pada saat dikonfrontasi, mereka akan mengaku telah disalahtafsirkan. Pada umumnya para pemimpin agresif-pasif tidak bisa diandalkan dalam hal janji. Mereka lebih sering mengingkari janjinya dengan cara mencari-cari seribu satu macam alasan untuk menjastifikasi pengingkaran janji-janjinya. Bahkan mereka bisa mencari alasan ingkar janji dengan cara menyalahkan anda atau orang lain atau keadaan. Berurusan dengan pemimpin pasif-agresif sama dengan membuang waktu dan energi dengan sia-sia. Ada yang menyarankan untuk menghindari berurusan dengan pemimpin-pemimpin yang berkarakter pasif-agresif. PERTANYAAN-PERTANYAAN PUN TERJAWAB Pertanyaan-pertanyaan, mengapa terdapat pemimpin-pemimpin – baik di dunia sekuler maupun di dunia religi (gereja) – yang memimpin organisasi dengan perilaku dan karakter atau watak yang jauh dari standard norma-norma leadership? Mengapa terdapat pemimpin-pemimpin religi, yang notabene adalah rohaniawan, tetapi dalam praktek kepemimpinannya, ia sama sekali tidak mencerminkan integritas sebagai sosok rohaniawan? Dan secara spesifik, kita pun dapat mengajukan pertanyaan mengapa terdapat sebagian pemimpin gereja yang membuat kebijakan-kebijakan hanya sebagai luapan dari kebencian dan balas dendam, atau membuat keputusan-keputusan atas nama organisasi hanya untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap lawan? Dan terakhir, secara ekstrim mungkin ada yang mempertanyakan, mengapa terdapat pemimpin-pemimpin Rohani yang kebijakan-kebijakan dan atau keputusan-keputusannya menggunakan nama Tuhan atau didasarkan atas Sabda Tuhan akan tetapi mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga hasilnya justru mengorbankan sesama manusia? Kiranya uraian singkat tentang lima (5) problem psikologis yang menjadi “SUDUT-SUDUT GELAP PEMIMPIN” tidak terkecuali para pemimpin gereja, telah cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan memahami sisi-sisi gelap pemimpin, kita dapat memaklumi apabila kebetulan menemukan pemimpin-pemimpin yang berperilaku atau berkarakter seperti salah satu dari poin-poin tersebut di atas. Akan tetapi memaklumi tidak berarti bahwa kita harus menerima begitu saja kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang menyalahi kepatutan, atau yang menyimpang dari aturan-aturan yang berlaku secara sah di dalam organisasi. Sebagai rasa tanggung jawab moral terhadap organisasi, tentu kita harus berusaha sedapat-dapatnya untuk membenahi, meluruskan, mengoreksi, dan bahkan menolak bila ada kebijakan-kebijakan yang merugikan pihak-pihak lain. Jangan biarkan citra, reputasi, dan masa depan organisasi rusak akibat dari adanya praktek-praktek organisasi yang didominasi justru oleh perilaku-perilaku yang mengalami masalah-masalah psikologis…. Amin. Catatan: Tulisan ini merupakan hasil dari upaya penulis mencari Jawaban atas Pertanyaan yang sekaligus sebuah Problem yang sangat mengganggu rasionalitas penulis, yaitu: “Mengapa Terdapat Pemimpin-pemimpin Gereja Yang Memiliki Perilaku Leadership yang Tidak Mencerminkan Nilai-nilai Kristiani?”. Dari penulusuran Pustaka dari buku-buku tersebut di bawah ini, penulis menemukan gambaran-gambaran tentang jawaban-jawaban, baik secara eksplisit maupun secara implisit Change Leadership Non-Finito – Rhenald Kasali, Mizan, 2015 How The Best Leaders Lead – Brian Tracy – Kompas Gramedia, 2015 Kekuasaan – Bertrand Russel – Obor Indonesia, 2019 Leaders Eat Last – Simon Sinek – Pengguin Random House UK, 2019 Mindset – John Naisbitt – Daras, 2007 Pemimpin Yang Memimpin – Eka Darmaputera – Kairos, 2011 Proactive Visionary Leadership – Dr. Anthony D’Souza, Trisewu, 2002 Sacred Powers – Davidji – Hay House, 2017 Self-Theories – Carol S. Dweck – Baca, 2020 Take The Stairs – Rory Vanden – Kompas Gramedia, 2013 The 3rd Alternative – Stephen R. Covey – Gramedia, 2011 Unlimited Power – Anthony Robbin – Phoenix Publishing House, 2019. 48 Hukum Kekuasaan – Robert Greene – Kharisma Publishing Grup, 2007 Yogyakarta: ST Bagikan Post navigation MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI GEREJA BAHAYA GAYA KEPEMIMPINAN AUTOKRASI DALAM ORGANISASI GEREJA
Memang sedianya tidak bisa mendiamkan model-model kepemimpinan tersebut diatas, tetapi paling tidak memberikan gagasan-gagasan/ide2 melalui tulisan itu perlu, mantap mencerdaskan!!!! Reply