Support System dalam Keluarga

Sianny Tan, S.Pd., M.A.

Waktu remaja, saya menjadi  jadi atlet nasional renang. Tentu bukan hal yang mudah, tetapi hal itu bisa dilakukan karena ada support system  dari keluarga, dari teman sesama atlet dan tentunya coach kami.

Ketika bertanding selalu ada mama yang jadi penyemangat dan yang mengurus semua keperluan saya sebagai atlet zaman old yang jauh berbeda fasilitasnya dengan  zaman now. Tetapi kalau latihan setiap harinya, yang jadi penyemangat adalah papa. Papa selalu  membangunkan diri saya untuk berlatih dari jam 5 pagi sampai  jam 6 pagi dan sarapan juga diarea kolam renang, karena ibu–ibu sesama atlet selalu menyediakan sarapan untuk kami semua yang berlatih. Kemudian Papa akan kembali menjemput sekalian bawa adik saya untuk langsung diantar ke sekolah kami masing-masing.

Sepulang sekolah Papa atau driver di rumah yang akan jemput. Dan sore jam 4, saya diantar lagi ke kolam unt latihan. Selalu ada support system yang terbentuk dalam berlatih dan bertanding bersama dengan para ibu atau ayah atlet lain.

Hidup ini juga seperti pertandingan atau kalau mau dianggap sebagai latihan pun, kita pasti membutuhkan dukungan. Dukungan yg terhebat pasti dari keluarga. Biasanya seorang ibu menjadi seorang supporter terhebat dalam keluarga.

Support system ini dibutuhkan oleh semua anggota keluarga. Suami, istri, anak, semua membutuhkannya. Kami sebagai suami istri pun saling membangun support system. Mensupport suami dalam berbagai tugasnya sebagai seorang gembala, sebagai seorang dosen, sebagai seorang penulis bahkan di dalam berorganisasi.

Saya teringat ketika di dalam sebuah event organisasi yang besar, dan berjumpa dengan ibu-ibu gembala lain yang  bercerita betapa malangnya  suami yang sedang dalam “pertandingan” penting sebuah organisasi tidak didampingi istri. Hal itu nampaknya aneh bagi mereka dam menjadi hot topic saat itu tetapi membuat saya paham, betapa pentingnya support system dalam keluarga.

Salah satu kisah tentang support system yang terbentuk dan bisa menjadi teladan bagi kita di masa sekarang ini tertulis dalam kisah bangsa Israel saat berperang melawan Amalek di dalam kitab Keluaran 17:8-16:

 8  Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.

9  Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.”

10  Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.

11  Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.

12  Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.

13  Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.

14  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.”

15  Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!”

16  Ia berkata: “Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

Kisah kemenangan orang Israel dalam peperangan melawan Amalek ini sungguh unik dan berbeda dengan kisah kemenangan orang Israel melawan bangsa lain. Peperangan pertama mereka dimulai dari serangan Amalek. Sementara itu Israel yang selama 430 tahun menjadi budak bangsa Mesir tidak mempunyai pengalaman berperang, tidak mempunyai persenjataan yang “canggih” di zaman mereka dan mental mereka bukan mental prajurit tetapi mental budak itu tentu sudah mendarah daging dalam diri mereka.

Yosua memimpin “pasukan” Israel saat berperang melawan Amalek, sementara itu pemimpin besar Israel, Musa, bersama Harun dan Hur naik ke puncak bukit. Di atas puncak bukit ini, Musa berdiri sambil mengangkat tongkat Allah di tangannya. Ketika Musa mengangkat tongkat Allah di tangannya, maka kuatlah Israel tetapi ketika ia menurunkan tangannya lebih kuatlah Amalek. Ketika tangan Musa penat, Harun dan Hur menopang kedua tangannya sehingga tidak bergerak sampai matahari terbenam.

Tangan Musa yang tidak bergerak menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, doa yang tak kunjung henti kepada Allah untuk keselamatan Israel. Akhirnya Yosua mengalahkan bangsa Amalek. Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa untuk menuliskan semua peristiwa dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan dan mengingatkan kepada telinga Yosua bahwa TUHAN akan menghapus ingatan akan Amalek.

Kemudian Musa mendirikan dan menamai mezbah: TUHANlah Panji-panjiku!  Musa menyampaikan pernyataan imannya: Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun temurun.

Kisah ini menunjukkan ada support System yang dibangun oleh Musa. Ada Harun, Hur, Yosua, dan bangsa Israel dan di dalam kisah lain kita juga menemukan Miryam dan Kaleb, dll.

Hur adalah salah seorang support system dalam jalinan yang terbentuk saat itu. Namanya tidak “secemerlang” Yosua, atau Harun, tidak dikenal oleh pembaca Alkitab, tidak diperhatikan secara detail tetapi justru kisah Hur ini menarik dan bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita.

1. Selalu Terlibat dalam kegiatan atau peristiwa yang sedang berlangsung (Kel. 17:10; 12)

Hur adalah seorang pemimpin besar seperti Musa; tetapi  dia bukan seorang “jenderal” hebat seperti Yosua;  dan dia tidak diurapi seperti Harun, namun orang-orang yang seperti Hur selalu terlibat dalam pekerjaan Tuhan!

Demikian juga di zaman sekarang ini, bukankah kita bisa menjumpai banyak orang seperti Hur? Ada banyak aktivis di gereja yang terlibat sekalipun tidak semua dipanggil menjadi pengkhotbah, atau pengajar di sekolah minggu, atau sebagai penginjil yang harus pergi tempat-tempat terpencil. Mereka bisa menjadi pendoa dari rumah mereka, mereka bisa berbagi “bahu”, atau berbagi”tissue” saat seseorang curhat dan menangis, atau mengulurkan tangan kita bagi yang sedang kelaparan, atau membantu membersihkan gereja, memberikan waktu kita untuk berkunjung ke teman atau kenalan yang udah lansia.  Semua pelayanan ini tidak terlihat  namun semua itu adalah bagian dari pelayanan seperti yang dilakukan oleh Hur.

Paulus menulis dalam I Korintus 12:4 “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.”  Paulus menunjukkan pada kita bahwa memang ada banyak support system yang Tuhan gunakan untuk menjadikan satu pekerjaan besar terjadi. Allah menggunakan banyak orang dengan berbagai karunia sebagai support system yang terlihat atau tersembunyi tapi semuanya penting bagi Tubuh Kristus.

2.  Seolah Tak Terlihat (Kel. 17:12)

Nama Hur tidak disebutkan sebelum kejadian ini, dan hanya ada beberapa kali lagi sesudahnya. Banyak orang mengatakan bahwa dia adalah suami dari Miriam, saudara perempuan Musa, tetapi kita tidak tahu pasti.

Dia adalah seorang pria yang jelas-jelas hidup dalam bayang-bayang orang lain;  tidak terlihat oleh orang banyak yang memandang kepada Musa, Harun, dan Yosua. Dia ada tetapi tidak menonjol atau sangat nampak .  Banyak orang yang menganggap dirinya sebagai  “nobody”, atau sekedar sebagai bayang-bayang orang lain. Jadi ketika Israel memenangkan pertempuran melawan bangsa Amalek yang dielu-elukan adalah Musa dan Yosua dan bahkan Harun. Tapi Hur mungkin hanya diberi senyuman saja oleh orang-orang Israel. Namun, sekalipun tidak ada yang memberikan ucapan selamat kepadanya, Tuhan pasti berbisik kehatinya dan berkata, “Well done Hur, engkau hamba yang baik dan setia.”

Menjadi Hur berarti siap seperti dirinya yang melakukan pelayanan untuk menjadi bagian dari sebuah support system yang tanpa pamrih untuk suatu pekerjaan besar terjadi. Siap bergabung dalam sebuah rancangan besar tapi tidak terlihat atau dikenali oleh orang-orang lain.

Banyak ibu, atau ayah yang seperti nobody di mata masyarakat, tapi sebenarnya telah menjadi support system yang hebat sehingga seorang ibu yang lulusan SD misalnya, bisa membuat anaknya berhasil menjadi sarjana atau menjadi seorang profesional di bidangnya.

3. Berinvestasi dalam kehidupan orang lain.

Kalau saya bertanya kepada Anda siapa guru SD atau SMP yang paling saudara ingat? Maka saya yakin, hanya 2 jenis guru yang saudara ingat. Guru yang sangat baik dan yang menyenangkan saat mengajar dan satunya guru yang paling menyebalkan. Tapi coba guru-guru yang biasa-biasa  saja, pasti saudara lupa. Saya pun begitu …. ada banyak guru yang saya lupa karena biasa-biasa saja dan  bahkan mereka mengajar pelajaran apa, saya juga lupa. Tapi kita semua tahu dan menyadari bahwa para guru itu bagaimanapun telah membuat investasi dalam kehidupan setiap kita yang pernah sekolah.

Hur juga berinvestasi dalam kehidupannya sehingga ia dan keluarganya menjadi berkat bagi banyak orang. Hal ini nampak dari kehidupan dirinya dan keturunannya yang selalu menjadi berkat bagi bangsa Israel.

Keturunan Hur, seorang pria yang bernama Bezaleel yaitu cucu Hur telah dipilih oleh Allah melalui Musa untuk membangun tabernakel dan membuat pakaian imam. Tidak diragukan Bezaleel telah belajar dengan memperhatikan kakeknya, Hur, dalam pelayanannya kepada Tuhan!

Injil Lukas juga mencatat tentang para wanita atau ibu yang menjadi pengikut Yesus. Tentu mereka bukan sekedar tim hore Yesus. Tetapi mereka telah menjadi support system yang luar biasa bagi perjalanan Yesus bersama para murid saat Yesus mengajar orang banyak. Bahkan Lukas 8: 3 mengatakan  “perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka”

Mereka berinvestasi bagi pelayanan  Yesus yang mereka kerjakan dengan sukarela, tulus, tanpa pamrih. Tetapi memiliki dampak yang besar bagi pekerjaan  Tuhan. Wanita-wanita ini tidak terlihat, namanya pun tidak tertulis atau disebut semuanya di Alkitab kita. Tetapi mereka seperti Hur yang sudah berinvestasi bagi kehidupan orang-orang lain. Tapi saya tahu dan yakin tanpa mereka pekerjaan Tuhan akan  tidak sempurna. Karena pekerjaan Tuhan  selalu membutuhkan support system sekalipun orang yang melakukan itu tidak akan  dikenal, tidak akan dipuji, tidak   mendapat pengakuan dari manusia tetapi mendapat penghargaan dari Tuhan sendiri.

 

Dari ketiga hal di atas, kita bisa melihat support system itu sangat penting untuk kita kembangkan dan lakukan  terutama di dalam keluarga dan gereja dan tentu dalam dunia kerja kita. Tanpa kita sadari kita pun sering tidak melihat adanya tangan-tangan orang-orang lain  yang menjadi support system kita. Paling tidak, mari kita perkuat support system dalam keluarga kita, jadikan keluarga kita sebuah keluarga yang berhasil dan diberkati Tuhan dan memberi dampak bagi orang-orang lain. Dukungan satu dengan yang lain dalam sebuah keluarga menjadikan keluarga yang sehat secara mental, spiritual dan emosional. Hal ini membuat kita merasa tidak sendiri, kuat, dan bahagia.

Dan yang terakhir, miliki support system yang kuat, yang membuat kita semakin berdampak positif karena ada banyak support system yang bisa memberikan toxic things or negative effects. Salah memilih support system justru bisa menghancurkan diri kita. Yosua berkata kepada bangsa Israel dan menunjukkan support system dalam keluarga yang telah dibangunnya secara kuat sehingga berani melawan arus:  “Seandainya kamu tidak mau mengabdi kepada TUHAN, ambillah keputusan hari ini juga kepada siapa kamu mau mengabdi: kepada ilah-ilah lain yang disembah oleh nenek moyangmu di Mesopotamia dahulu atau kepada ilah-ilah orang Amori yang negerinya kamu tempati sekarang. Tetapi kami–saya dan keluarga saya–akan mengabdi hanya kepada TUHAN.” – Yosua 24:12 (ISH)

The very last one, ingat kita memiliki the best support system ketika Allah terlibat di dalamnya. ROMA 8:31b  “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *