PENTINGNYA INTEGRITAS BAGI HAMBA TUHAN Sianny Tan (taken from: pexels.com) Beberapa waktu yang lalu saya benar-benar terhenyak ketika membaca sebuah komen dari seorang ibu. Saya tidak mengenal beliau yang memberikan komentar di postingan kawan saya di Facebook yang memposting tentang berbagi untuk orang susah. Yang saya ingat dari komen ibu ini justru ketika dia menceritakan tentang sang ibu gembala gerejanya. Beliau menulis jika ada acara makan-makan di gereja dan jemaat turut berbagi dengan membawa makanan dari rumah mereka, maka sebagian besar makanan itu justru akan dibawa ke dapur pastori. Ibu gembala ini hanya menyisakan sedikit untuk diletakkan di meja perjamuan di gereja padahal yang akan makan di gereja tentu jumlahnya banyak dan makanan jadi tidak cukup. Dalam tulisannya si ibu ini mengatakan betapa banyaknya makanan yang disimpan untuk diri si ibu gembala dan keluarganya itu….. Ketika membaca tulisan ibu ini, ada rasa marah dalam hati saya melihat sikap si ibu gembala yang seperti itu. Mengapa bisa setega itu. Saya membayangkan ketika makanan itu tidak cukup bagi jemaat, bagaimana sikap si ibu gembala itu? Hal itu juga mengingatkan diri saya betapa bosannya saya ketika di setiap acara seminar di gereja bagi hamba-hamba Tuhan selalu ada tema tentang pendidikan karakter. Tema ini selalu diulang setiap tahun, nah kalau ikut setiap tahun maka hal itu membosankan bukan? Tapi ternyata ada banyak kegagalan dalam membangun karakter bagi hamba-hamba TUHAN sehingga tema tentang pendidikan karakter selalu diulang dan diulang. Memang karakter itu merupakan hal yang paling penting dimiliki oleh para hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan bukan dinilai karena musical skills, bukan karena teaching kids at the sunday school, or karena khotbahnya tetapi ada main point yang harus dimiliki oleh setiap hamba TUHAN yaitu karakternya secara khusus INTEGRITY. Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan bahwa integritas adalah kesatuan utuh kualitas, sifat, dan kondisi dengan potensi dan kemampuan untuk memancarkan wibawa dan integritas. Saya suka penjabaran yang ditulis oleh Stephen R. Covey yang membedakan antara integritas dan kejujuran tetapi keduanya memiliki unseperatable link. “Honesty is telling the truth, in other words, conforming our words reality-integrity is conforming to our words, in other words, keeping promises and fulfilling expectations.” Kejujuran berarti mengatakan yang sebenarnya, dan perkataan kita sesuai dengan fakta yang ada. Kejujuran membuktikan bahwa apa yang dia lakukan adalah apa yang dia katakan. Orang yang memiliki integritas dan kejujuran adalah orang yang mandiri. Mereka menunjukkan kredibilitas mereka sebagai orang yang bertanggung jawab dan setia. Kisah bangsa ISRAEL saat mereka keluar dari tanah Mesir merupakan tindakan yang tidak ada nilai integritas sama sekali. Sungguh mereka begitu pandai untuk bermain kata seperti “lidah tak bertulang”. Bangsa ini begitu mudah berubah sikap, dari awalnya bergantung kepada Tuhan menjadi mengeluh, marah, dan menyebarkan fitnah. Inilah kondisi umat pilihan yang Tuhan kasihi. Tetapi sewaktu mereka menghadapi krisis di tepi Laut Teberau. Mereka dalam posisi terjepit karena dikepung oleh pasukan Firaun. Dan di saat itu, mereka begitu cepat melupakan kebaikan dan pertolongan Tuhan yang sudah dan barusan mereka alami. Ayub adalah salah seorang dari sedikit tokoh dalam Alkitab yang digambarkan sebagai seorang yang memiliki integritas tinggi. Penulis kitab Ayub mengatakan dalam Ayub 1:1 Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ayub seorang beriman, seorang saleh, jujur, dan takut akan Allah namun Allah sendiri mengizinkan iblis untuk menyerang Ayub dan keluarganya karena Allah tahu bahwa Ayub tidak akan jatuh dalam dosa sebagai akibat penderitaannya. Sekalipun Ayub tidak pernah menyalahkan atau mengutuk Tuhan walaupun dia kehilangan hartanya, kesehatannya, dan keluarganya. Dia tidak pernah menyerah kepada dosa. Dia tidak pernah berpaling dari Tuhan. Dia sungguh-sungguh berpegang pada kedaulatan Allah atas hidupnya. Dari kehidupan Ayub kita bisa mengenal nilai-nilai integritas yang dimilikinya yaitu kesalehan, kejujuran, rasa takut akan Tuhan sehingga ia selalu menjauhi kejahatan. Contoh lain dalam tokoh Alkitab yang memiliki integritas adalah Daniel dan ketiga sahabatnya. Komitmen mereka kepada Tuhan merupakan karakter yang luar biasa sehingga membawa kehidupan mereka menjadi orang sukses di negeri asing. Komitmen kepada Tuhan mereka tunjukkan dengan tetap berpegang teguh kepada kepercayaan mereka, hidup kudus sesuai ajaran firman Tuhan, mereka tidak berkompromi dengan dosa, dengan kehidupan adat istiadat baru di Babel, mereka juga lebih takut kepada Tuhan daripada menerima kenyamanan-kenyamanan hidup yang ditawarkan kepada mereka. Contoh lain dari integritas kita temukan di dalam diri seorang wanita yang bernama RUTH seorang wanita Moab, wanita asing yang pindah ke Israel, mengikuti “mantan” mertuanya yang kembali ketabahan asalnya. Integritas Ruth ditunjukkannya melalui kesetiaannya: loyalty and faithfulness; setia kepada sesama manusia tetapi juga setia secara iman kepada Tuhan. Ia setia terhadap Naomi, dan tidak meninggalkannya sekalipun suami Ruth sudah meninggal dan dia setia kepada Tuhan yang dia kenal melalui Naomi. Sungguh integritas yang luar biasa sampai akhirnya dirinya menjadi bagian dari nenek moyang Yesus. Dan berbicara tentang integritas tentu tidak akan lengkap jika tidak berbicara tentang Yesus. Dialah sosok teladan integritas yang sempurna bagi kita semua. Integritas Yesus menjadi sempurna karena Dia hidup melakukan hal yang benar dan menyenangkan hati Bapa. Komitmen-Nya menjadi luar biasa karena teruji melalui penderitaan dan kematian di atas kayu salib. Pengorbanan tertinggi Dia persembahkan melalui pengorbanan nyawa-Nya untuk kita. Seandainya setiap hamba TUHAN, memiliki integritas yang baik di hadapan manusia dan Tuhan, tentu tidak akan ada banyak kegaduhan yang timbul yang menjadi bahan pembicaraan atau bahkan berbagai perpecahan. Karena karakter buruk menimbulkan ketidakpercayaan dari orang lain, kehilangan respek, menjadi sumber masalah, menimbulkan tindakan amoral, merusak hubungan atau ikatan keluarga, sikap tamak akan uang, dan bahkan lebih mengandalkan manusia lain yang lebih mapan daripada dirinya, serta banyak dampak negatif lainnya. Membangun karakter diri bukan hal yang sulit, hanya memerlukan kemauan diri kita sendiri untuk mau mengubah diri menjadi lebih baik, menjadi seorang yang benar di hadapan Tuhan. Terapkanlah prinsip kebenaran Allah itu di dalam diri kita sendiri dan bukan hanya untuk orang lain. Karena terlalu banyak hamba Tuhan hanya bisa mengajar atau berkhotbah tetapi hidupnya tanpa integritas dan tanpa takut akan Tuhan. Nasihat yang ditulis oleh Paulus ini kiranya menjadi prinsip kita juga. Filipi 1:27-30 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku. Bagikan Post navigation SUPPORT SYSTEM DALAM KELUARGA