MUDIK Dafid Tandiassa Mudik merupakan sebuah tradisi yang melekat dalam diri hampir semua masyarakat di Indonesia, bahkan mungkin semua suku bangsa di dunia, terutama masyarakat urban. Sehingga dalam momentum tertentu, mudik seolah-olah menjadi sebuah keharusan yang mau tidak mau harus dilakukan, kecuali ada alasan yang sangat prinsip untuk menundanya. Secara etimologis, dalam KBBI mudik berarti “ke udik”, selain itu mudik juga berarti, pulang ke kampung halaman. Senada dengan KBBI online, dalam kamus Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, mudik berarti berlayar/pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman), disamping itu mudik juga diartikan sebagai pulang ke kampung halaman. Sedangkan untuk kata udik baik KBBI Online maupun KBBI terbitan Balai Pustaka memberi definisi yang sama yakni sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber), dan udik juga berarti desa, dusun, atau kampung yang merupakan lawan dari kota. Dengan demikian mudik dapatlah kita artikan sebagai sebuah tindakan dari seseorang untuk kembali kampung halaman (kembali ke udik) dimana dia dilahirkan untuk berjumpa dengan orang tua atau keluarga besarnya, karena didorong oleh hubungan emosional antara masyarakat dan tempat kelahirannya. Bangsa Indonesia menganut beragam agama dan kepercayaan, namun hampir di semua agama dan kepercayaan, tidak ada yang menentang nilai-nilai menghormati (sungkem) kepada orang tua, mengasihi sanak keluarga, kerabat, dan tetangga, penghormatan kepada leluhur, ziarah kubur, dst. Oleh sebab itu hari raya keagamaan biasanya dijadikan momentum mudik untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Krusialitas mudik begitu terasa saat masa pandemi Covid-19 dimana semua orang tetap berada dirumah, dibatasi ruang geraknya, dan tak mungkin bersua dalam mudik. Timeline media sosial penuh dengan status kekecewaan masyarakat, kerinduan, bahkan berita-berita tentang beberapa individu yang tetap nekat melaksanakan mudik dengan segala dramanya. Itulah sebabnya ketika larangan mudik lebaran dicabut pada tahun 2022 serta merta semua orang menyambutnya dengan sukacita. Dengan demikian terlihat bahwa mudik bukan sekadar ritual tahunan melainkan kebutuhan hidup. Secara lebih mendalam, mudik harus dilihat bukan sekadar momen liburan ke kampung halaman melainkan proses pembelajaran hidup sesehari yang membawa pada pemaknaan yang lebih dalam. Dari mudik kita belajar mengenai hakikat atau substansi. Mudik menunjukkan bahwa setiap orang berasal dari udik dan suatu saat akan kembali ke udik. Rupa-rupanya sesukses atau segagal apapun seseorang, kampung halaman merupakan tempat terbaik untuk kembali menepi, recharging, yaitu mengumpulkan tenaga baru untuk melanjutkan perjalanan hidup. Dengan demikian kita perlu mawas diri. Tidak perlu terlalu jumawa akan keberhasilan, pun terlampau sedih akan kegagalan. Semua perlu disikapi sesuai takarannya karena selalu ada tempat untuk kembali yakni pada momen-momen mudik. Bagi orang percaya, mudik mengajarkan kita untuk mengingat “kampung halaman” yang asali. “Tetapi tanah air kita ada di surga, dari sana juga kita menantikan Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus.” (Filipi 3:20 – TL). Paulus mengingatkan bahwa tanah air, kampung halaman, dan asal kita yang hakiki adalah surga dimana kita akan bersama Tuhan selama-lamanya. Setiap orang pasti akan “mudik” berjumpa dengan Allah dan saudara-saudara seiman yang telah kembali terlebih dahulu. Pada akhirnya mudik bukan sekadar ajang “bermacet-macet ria” melainkan sarana kembali. Kembali pada asal, kembali mengumpulkan tenaga, dan kembali mengingat kemana kita akan pulang sesungguhnya kelak. Tabik. Bagikan Post navigation MITOS “DOELOE”