MITOS “DOELOE” (S. Tandiassa) Hanya karena dulu sudah dilakukan, tidak berarti bahwa harus dilakukan seperti itu sekarang, dan hanya karena dulu tidak pernah dilakukan, tidak berarti bahwa tidak dapat dilakukan sekarang MITOS Mitos merupakan suatu kepercayaan yang tidak harus melibatkan fakta ilmiah. Mitos atau mite merupakan prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh mereka yang memiliki cerita. Cerita itu kemudian dipercaya oleh masyarakat sebagai kebenaran meskipun isi ceritanya sering diluar nalar atau hanya sekedar wacana. Memitoskan – mengeramatkan, mengagungkan secara berlebih-lebihan tentang pahlawan, benda. Menjadikan mitos artinya mendewakan. Dalam konteks tulisan ini, cerita tentang pengalaman-pengalaman spiritual, tradisi-tradisi, gaya hidup, atau sistem dulu, menjadi MITOS ketika hal-hal tersebut diagung-agungkan, didewa-dewakan, dan dipercayai sebagai kebenaran, kemudian dijadikan sebagai standar yang dimutlakkan meniadi acuan untuk masa kini. Sudah menjadi sikap kebanyakan kaum Pantekosta untuk selalu melihat dan berpedoman pada hal-hal masa lalu atau ‘dulu’, seperti: pengalaman-pengalaman spiritual, tradisi-tradisi, gaya hidup, atau sistem dulu, dll. Hal-hal tentang yang ‘dulu’ selalu dianggap lebih baik daripada yang sekarang, sehingga kebanyakan kaum Pantekosta, terutama para rohaniawannya, mempunyai impian untuk kembali ke situasi atau kondisi masa lalu atau ‘dulu’. Akhirnya hal-hal ‘dulu’ menjadi sebuah MITOS yang kemudian DIMITOSKAN. TENTANG “DOELOE” Seorang hamba Tuhan melihat kakek, nenek, dan ayahnya, ‘dulu’ kalau mau berdoa, mereka pergi ke gunung atau ke hutan. Kakek nenek dan ayahnya berhasil membangun gedung gereja besar dan memiliki ratusan jemaat. Lalu ia berkesimpulan bahwa cara berdoa dulu itu yang membuat kakek dan ayahnya berhasil. Maka ia pun mempraktekkan cara yang ‘dulu’ itu, bahkan ia mengajarkan pada jemaat bahwa berdoa seperti yang ‘dulu’ dilakukan kakek dan ayahnya itu lebih besar hasilnya daripada berdoa di rumah atau di gereja. Sebagian pendeta Pantekosta bercerita, ‘dulu’ ketika belum ada AD/ART atau peraturan-peraturan organisasi gereja yang tertulis, jarang sekali terjadi masalah di dalam organisasi. Jika ada masalah, gembala-gembala atau pimpinan menyelesaikan masalah-masalah tersebut hanya dengan berdoa dan berpuasa, lalu mujizat terjadi dan persoalan-persoalan pun terselesaikan dengan sendirinya. Tidak sedikit hamba Tuhan Pantekosta bercerita bahwa, ‘dulu’ kalau pendeta-pendeta Pantekosta mau berkhotbah, mereka tidak menggunakan catatan, tidak menentukan teks apa yang akan dibacakan. Saat mereka sudah duduk di dalam ibadah di gereja baru mereka meminta petunjuk dari Tuhan, teks apa yang akan dikhotbahkan. Dan ternyata khotbah-khotbah mereka diurapi, bahkan sangat memberkati. Hamba-hamba Tuhan ini berkesimpulan bahwa khotbah yang diilhamkan Roh Tuhan, bukan yang dipersiapkan dengan menggunakan berbagai referensi dan metode, lalu membawa catatan, melainkan yang didapatkan pada saat sudah berada dalam suasana ibadah, yang dikhotbahkan tanpa catatan. Sebagian rohaniawan Pantekosta mengatakan bahwa ‘dulu’ hamba-hamba Tuhan tidak berpendidikan, sebagian hanya lulus sekolah dasar, bahkan ada yang tidak lulus SD, lalu masuk sekolah Alkitab hanya enam bulan, dan ada juga yang tidak sekolah Alkitab, tetapi mereka dipakai Tuhan luar biasa dan khotbah-khotbahnya diurapi. Ada pula yang bercerita, dulu ketika belum ada pendeta-pendeta yang sarjana, gereja tenang, tidak ada masalah, dan tidak ada konflik dalam gereja. Mitos ‘doeloe’ mengandung resiko yang sangat serius bagi gereja baik untuk masa kini, terutama untuk masa depan. Secara ekstrim dapat dikatakan mitos ‘dulu’ dapat menjadi ‘setan’ yang menghambat kemajuan, perkembangan, perubahan, dan pembaharuan gereja masa kini dan masa yang akan datang. Beberapa bahaya bisa disebutkan di sini antara lain: 1. MENGHAMBAT PERUBAHAN DAN PEMBAHARUAN Antara tahun 1980 – 1990 an, muncul sebuah fenomena baru di dalam tatacara ibadah kaum Pantakosta. Tatacara ibadah baru itu dikenal dengan istilah ‘Praise and Worship’. Gereja-gereja Pantekosta yang ketika itu mau beradaptasi dan menerima serta mengikuti arus perubahan tersebut, mengalami pembaharuan, pemulihan, perubahan, dan kemajuan yang sangat pesat, dan terus berkembang sampai pada saat ini. Sebaliknya gereja-gereja Pantekosta, khususnya GPdI, menolak perubahan atau pembaharuan pola ibadah yaitu “Praise and Worship”. Mereka menganggap bahwa model atau pola penyembahan Pantekosta ‘dulu’ itulah yang alkitabiah. Bahkan beberapa tokoh Pantekosta ketika itu mencap pola ibadah “Praise and Worship” itu sebagai roh daging dan sesat. Akibatnya, sejarah membuktikan, sejak tahun 1990 an, terjadi eksodus besar-besaran dari gereja-gereja Pantekosta penganut mitos “doeloe”, dan pada saat yang sama bermunculan gereja-gereja aliran Pantekosta baru, yang mungkin 60 – 70 % jemaatnya berasal dari GPdI. Sekitar tahun 1990 an, seorang gembala jemaat di sebuah kota di pulau Jawa, membuat aturan: jemaat tidak boleh memakai celana Jins dan wanita tidak boleh memakai celana panjang saat datang beribadah di ke gereja. Gembala memiki keyakinan bahwa model-model dan gaya berpakaian ‘dulu’ itu lebih baik, lebih rohani, lebih mencerminkan kesalehan, sedangkan model dan gaya berpakaian sekarang keduniawian. Hasilnya, hari demi hari, satu persatu jemaat yang muda-muda tidak muncul lagi dalam ibadah, dan akhirnya yang tertinggal di gereja adalah ibu-ibu dan bapak-bapak tua yang kebanyakan masih memakai jarik atau sarung. Dan sampai ibu gembala itu berpulang, jemaatnya yang masih tersisa hanya beberapa keluarga lansia. 2. MENGHAMBAT DAYA KREATIF BERPIKIR Resiko berikutnya dari mitos ‘doeloe’ adalah menghambat para pendeta atau warga jemaat untuk mendayagunakan daya berpikir kreatif. Kemampuan berpikir secara kreatif merupakan daya Ilahi yang melekat pada diri seluruh manusia, apapun agama dan kepercayaannya, bahkan jika seseorang itu adalah atheis. Allah sendiri mengakui dan melihat daya kreatif berpikir pada manusia begitu hebat, sehingga Allah berkata, “mulai sekarang apapun yang direncanakan manusia, tidak ada yang tidak akan terlaksana” (Kej. 11:6). Akan tetapi jika mitos ‘doeloe’ telah menguasai alam pikiran para pendeta, sehingg daya berpikir kreatif dan inovatifnya akan mandeg dengan sendirinya. Mitos ‘doeloe’ akan membuat mereka takut untuk memikirkan dan merancang perubahan atau inovasi tatacara ibadah baru yang sesuai dengan zaman. Mitos ‘doeloe’ akan membuat mereka tidak berani memikirkan pola-pola penginjilan baru yang sesuai dengan konteks masa kini atau konteks masyarakat yang menjadi obyek penginjilan. Akhirnya pola penginjilan kaum Pantekosta sampai sekarang hanya berputar-putar berkhotbah dari mimbar ke mimbar di dalam gedung-gedung gereja. Mitos ‘doeloe’ membuat para pendeta Pantekosta merasa takut untuk mencari makna-makna atau pesan-pesan baru dari teks-teks Alkitab. Mereka menganggap tafsiran-tafsiran yang ‘dulu’ diajarkan para pioneer, atau para senior itulah yang paling benar. Kelompok ini selalu apriori apabila ada penafsiran-penafsiran yang berbeda ari para pionir, berbeda dari guru-guru senior SA, dan jika hamba Tuhan yang membuat penafsiran yang berbeda, kelompok penganut mitos dulu pasti mencapnya sesat. Dalam skala yang lebih luas, Mitos ‘dulu’ telah menghambat kreatifitas para pendeta Pantekosta dalam berteologi. Faktanya, meski GPdI sudah berusia satu abad, tetapi tidak ada perubahan atau pembaharuan di dalam konsep-konsep teologinya. Bahkan dapat dikatakan tidak ada konsep teologi baru yang muncul dalam kurun waktu 100 tahun. Mitos ‘doeloe’ sangat sulit menerima pandangan-pandangan atau konsep-konsep teologi yang baru, karena bagi kaum penganut mitos ‘dulu’, semua tafsiran, konsep, dan pandangan teologi yang berbeda dari yang dari ‘dulu’ sudah diwariskan oleh para pioneer atau yang diajarkan oleh para guru senior di SA, itu dianggap sesat. Sekitar tahun 1996 – 2012, ketika penulis mengajar di sebuah STT Pantekosta di Jawa Tengah, penulis pernah duduk minum kopi dengan salah satu dosen yang mengajar Bibliologi. Beliau bergelar S2 dan S3 dari sebuah STT Injili yang terkenal di Yogyakarta. Penulis iseng-iseng membuka map beliau yang tergeletak di meja kopi. Di dalam map terdapat diktat ‘ketikan’ yang sudah kumal, yang isinya adalah pelajaran tentang Alkitab yang beliau dapatkan waktu di SA Pantekosta sekitar tahun 1971an. Iseng-iseng lagi, penulis bilang ke beliau: “diktatnya kok sudah tua sekali pak, mungkin sudah waktunya dimusiumkan”. Dengan semangat Pantekostanya, pak dosen itu menjawab: “Bro Tandiassa, saya mau melestarikan pelajaran tentang Alkitab yang ‘dulu’ diajarkan oleh para pioneer kita. Saya meyakini bahwa pelajaran-pelajaran dari para pioneer itu adalah ilham langsung dari Tuhan, karena para pioner mendapatkannya bukan dari Sekolah-sekolah teologi, tetapi melalui doa-doa dan puasa” Dapatkah Anda membayangkan, seorang pendeta Pantekosta, jebolan S2 dan S3 Teologi tahun 1990 an dari sebuah STT Injili yang sangat kualifaid, tetapi materi yang diajarkan di tingkat STT Pantekosta masih konsep bibliologi dari kelas 1 SA tahun 1970 an, yang katanya telah diwariskan oleh para pioneer Pantekosta sejak dari 70 – 100 tahun lalu. Sementara era di mana sang dosen mengajar, konsep-konsep Bibliologi telah mengalami banyak inovasi, pembaharuan, dan perubahan sebagai hasil dari penelitian dan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi itulah fakta, betapa mitos ‘dulu’ demikian kuat membelenggu pikiran sebagian pendeta Pantekosta sehingga mereka tidak dapat beradaptasi dengan situasi dan kondisi zaman. 3. MENJASTIFIKASI KESALAHAN DAN DOSA MASA KINI Penganut mitos ‘doeloe’ menggunakan kesalahan-kesalahan masa lalu ‘dulu’, untuk membenarkan kesalahan-kesalahan dosa-dosa masa kini”. Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah rapat pimpinan pusat sebuah organisasi gereja di Jakarta, salah seorang dari pimpinan pusat menyatakan: “Pelanggaran terhadap konstitusi organisasi bukan susuatu yang baru di dalam gereja kita. Pelanggaran itu sudah biasa. Dari dulu pelanggaran terhadap AD/ART sudah sering terjadi”. Ketika itu para peserta rapat sedang mempersoalkan fakta-fakta adanya pelanggaran-pelanggaran konstitusi organisasi yang dilakukan oleh oknum-oknum pimpinan. Selain itu peserta rapat juga meminta klarifikasi tentang beberapa kebijakan organisasi dari pusat yang secara jelas dan nyata melanggar AD/ART organisasi. Pelanggaran-pelanggaran aturan organisasi tersebut sesungguhnya sangat serius karena telah menimbulkan kegaduhan, konflik, dan bahkan perpecahan umat di berbagai daerah. Lalu bagaimana solusi atas fakta-fakta adanya banyak pelanggaran konstitusi organisasi yang telah menimbulkan berbagai macam dampak buruk terhadap organisasi gereja itu? Sampai rapat, yang berlangsung dua hari, itu selesai, kasus-kasus pelanggaran konstitusi organisasi tidak terklarifikasi dan tidak terselesaikan karena pimpinan sudah memiliki prinsip mitos ‘dulu’. Maksud dari sang pemimpin adalah, karena ‘dulu’ juga sudah sering terjadi banyak pelanggaran konstitusi organisasi, maka pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang terjadi saat ini tidak perlu dipersoalkan apalagi dikenai sanksi. Dengan kata lain, kesalahan-kesalahan, atau pelanggaran-pelanggaran hukum, atau dosa-dosa masa kini, dianggap benar atau dibenarkan atas dasar mitos ‘dulu’, yaitu bahwa karena dulu pelanggaran, kesalahan, dan dosa terhadap organisasi sudah sering dilakukan maka yang terjadi saat ini tidak perlu dipersoalkan dan harus dianggap biasa-biasa saja. 4. MENCIPTAKAN GENERASI MASA DEPAN GEREJA YANG BODOH Dampak buruk dari mitos ‘doeloe’ sangat besar dan bisa berkepanjangan. Telah disebutkan sebelumnya bahwa penganut mitos ‘doeloe’ mengatakan bahwa ‘dulu’ hamba-hamba Tuhan tidak berpendidikan, sebagian hanya lulus sekolah dasar, bahkan ada yang tidak lulus SD, lalu masuk sekolah Alkitab hanya enam bulan, ada juga yang tidak sekolah Alkitab, tetapi mereka dipakai Tuhan luar biasa dan berhasil. Bahwa dulu ketika belum ada sekolah-sekolah tinggi teologi dan belum ada pendeta-pendeta sarjana, gereja tenang-tenang saja, tidak timbul banyak masalah dan tidak ada konflik dalam gereja. Sekarang setelah banyak pendeta sarjana, lulusan-lulusan universitas dan sekolah-sekolah Tinggi Teologi, justru sering timbul masalah, terjadi konflik, dan bahkan perpecahan. Mitos ‘doeloe’ ini membuat sebagian besar pimpinan atau pendeta Pantekosta bersikap APRIORI terhadap pendidkan, dan berpendapat bahwa untuk menjadi hamba Tuhan yang berhasil dan dipakai Tuhan, tidak perlu berpendidikan tinggi, tidak ada gunanya belajar ilmu-ilmu teologi dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Cukup Sekolah Alkitab, penuh Roh Kudus dengan berbahasa lidah, lalu banyak doa puasa, pasti dipakai Tuhan dan berhasil, karena yang paling penting adalah urapan. Fakta mitos ‘doeloe’ masih sedemikian kuat mencengkeram pikiran sebagian pendeta Pantekosta sampai sekarang adalah soal masuk SA Pantekosta. Sampai saat ini tidak ada syarat standard pendidikan untuk masuk SA dan kemudian menjadi pendeta Pantekosta. Bahkan yang tidak selesai Sekolah Dasar pun boleh masuk SA. Satu – dua tahun kemudian lulus SA, lalu praktek satu tahun, dan selanjutnya merintis jemaat dan kemudian menjadi gembala jemaat atau pendeta. Dengan background pendidikan yang hanya demikian, maka mitos ‘doeloe’ akhirnya menciptakan generasi pendeta-pendeta masa depan yang serba minim, yaitu minim pendidikan, minim pengetahuan teologis dan sains, minim wawasan sosial, dan dst.. Bahwa “doeloe” pendeta-pendeta Pantekosta sukses dan dipakai Tuhan dengan menggunakan cara, metode, dan kapasitasnya dulu, walaupun mereka kurang berpendidikan, memang sesuai untuk kondisi dunia dan masyarakat saat ‘dulu’. Sementara masyarakat masa kini, kondisi sosial, budaya, pendidikan, teknologi, dan ekonominya sudah ada pada tingkat yang sangat maju dan canggih. Bila yang “doeloe”- standar pendidikan, metode, tradisi, gaya hidup, dan kapasitas pendeta dulu dijadikan acuan untuk masa kini, dipastikan para pendeta akan gugup dan gagap menghadapi dunia dan masyarakat masa kini. Dapatkah Anda membayangkan jika saat ini masih ada hamba Tuhan Pantekosta yang background pendidikannya hanya lulus Sekolah Dasar, lalu masuk SA dua tahun, kemudian menjadi gembala dan pengkhotbah, sementara warga jemaat yang dilayani atau dikhotbahi sebagian besar adalah sarjana-sarjana lulusan perguruan tinggi atau universitas S1, S2, dan S3? Apa jadinya bila di era sains dan teknologi canggih ini hamba-hamba Tuhan yang standard kapasitasnya adalah yang “doeloe” lalu menjadi seorang pemimpin organisasi masa kini di tingkat jemaat lokal, wilayah, daerah, dan Pusat? Apa yang dapat dilakukan seorang pemimpin Pantekosta yang masih berpegang pada standar ‘dulu’, kemudian masa kini memimpin ratusan atau ribuan jemaat yang notabene sebagian besar adalah kaum intelektual? Jawaban yang pasti adalah KONFLIK. Jika ini yang terjadi, maka teori kepemimpinan yang mengatakan bahwa, “Cara yang sering digunakan oleh pemimpin untuk menutupi kekurangan, kebodohan, kelemahan, dan kesalahannya adalah menggunakan kekuasaan untuk mendiskreditkan, merendahkan, mempermalukan, dan menyingkirkan orang yang dianggap lebih baik dari dirinya”. Dan sepertinya teori ini sudah menjelma menjadi kenyataan yang sedang dipertontonkan di depan mata kita. BERADAPTASI Terlepas dari hal-hal yang menyangkut Diri Allah, semua produk peradaban manusia, selalu berubah, berevolusi, berinovasi, atau berkembang dari waktu ke waktu menyesuaikan diri dengan zaman. Hal-hal yang dulu mungkin dianggap hebat, canggih, baik, dan benar, tidak mutlak seperti itu lagi masa kini, apalagi untuk masa depan, demikian sebaliknya. Maka jikalau gereja atau pendeta-pendeta Pantekosta tidak ingin tertinggal dan terisolasi dari dunia masa kini, harus bisa melepaskan diri dari mitos-mitos ‘dulu’ lalu berupaya keras untuk BERADAPTASI dengan zaman. Berkenaan dengan upaya beradaptasi dengan zaman, kiranya pernyataan futuristik Paulus dari Tarsus sangatlah tepat: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh”(Fil. 3:13-15) (ST) Bagikan Post navigation MUDIK