TRAGEDI NATAL DI BETLEHEM “Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu”. Suatu hari, setelah kelahiraan Yesus, satu rombongan cendekiawan dari Persia memasuki gerbang kota Yerusalem mengendarai beberapa ekor unta. Sambil berjalan melintasi jalan-jalan raya di dalam kota Yerusalem, mereka bertanya pada setiap orang yang berpapasan dengan mereka di mana raja orang Yahudi yang baru lahir itu. Cendekiawan ini tentu beripikir semua penduduk kota Yesrusalem pasti mengentahui peritiwa kelahiran Raja Yahudi itu, tetapi ternyata tidak ada yang tahu. Beberapa kali rombongan Majusi itu berhenti di depan rumah-rumah mewah milik para pejabat, untuk bertanya pada tuan rumah di mana istana raja Yahudi yang baru lahir itu. Namun mereka pun tidak tahu. Kabar dari para Majusi itu dengan cepat beredar dari mulut ke mulut, dan dari rumah ke rumah, sehingga dalam waktu singkat kota Yerurusalem gempar oleh kabar tentang kelahiran raja Yahudi yang baru. Akhirnya kabar itu sampai ke Istana Herodes, dan ia pun sangat terkejut. Herodes lalu memerintahkan para imam dan ahli Torat untuk mencari petunjuk mengenai tempat kelahiran Raja Yahudi itu. Dari kitab nabi Micha mereka mendapatkan informasi bahwa Raja Yahudi yang bergelar Mesias itu akan lahir di Betlehem. Kemudian Herodes memanggil cendekiawan Persia itu dan menyuruh mereka pergi ke Betlehem mencari Sang Raja, dan setelah menemukannya supaya kembali ke Yerusalem untuk memberitahu Herodes, karena Herodes akan datang juga menyembah Sang Raja Yahudi itu. Setelah menunggu beberapa hari, Herodes mendengar kabar bahwa rombongan Majus sudah kembali ke negerinya tanpa melewati Yerusalem. Mengetahui hal itu, Herodes mengamuk lalu mengirim sejumlah penjagal ke Betlehem untuk membunuh semua anak yang berusia dua (2) tahun ke bawah. Para penjagal itu memasuki rumah demi rumah, merebut anak-anak dari pangkuan ibunya, dan tanpa sedikit rasa kemanusiaan, penjagal-penjagal itu menyembelih anak-anak di depan ayah ibu dan saudara-saudaranya. Ini adalah sebuah TRAGEDI NATAL di Betlehem. DIHANTUI BAYANG-BAYANG Bagi para saintis atau cendekiawan dari Persia, kelahiran Raja Yahudi itu adalah sebuah kabar baik, kabar yang membangkitkan spirit religius, tetapi bagi Raja Herodes, peristiwa kelahiran raja itu justru menjadi kabar buruk karena dianggap sebagai ancaman bagi kedudukannya. Herodes membayangkan raja yang baru lahir itu nantinya akan menjadi raja atas kaum Yahudi, mengambil alih istana, dan sudah tentu ia akan dibunuh. Bayangan-bayangan itu menghantui pikiran Herodes siang dan malam. Maka demi mempertahankan posisinya sebagai raja dan mencegah munculnya raja yang dianggap saingan, Herodes tidak segan-segan melakukan pembantaian masal – semua bayi di bawah 2 tahun di Betlehem. Tiga puluh tahun kemudian, ketika Raja Yahudi yang bernama Yesus itu muncul di tengah-tengah masyarakat Yahudi di Yerusalem, ternyata Ia tidak berniat mengambil alih istana Herodes, walaupun Ia bisa melakukannya. Sang Raja yang disembah para cendikiawan dari Persia itu sama sekali tidak berpikir tentang menjadi raja politis atas kaum Yahudi. Apa yang ditakuti oleh Herodes sehingga ia tega menyembelih ratusan anak tak berdosa di Betlehem? Herodes takut pada bayang-bayangnya sendiri. Herodes dihantui oleh imaginasinya sendiri. KEJAHATAN BERJUBAH RELIGIUS Sejak mendapatkan konfirmasi dari para imam dan ahli Torat tentang kelahiran seorang raja di Betlehem, Herodes sudah merancang dan bertekad untuk melenyapkan Raja Yahudi yang baru itu. Akan tetapi rancangan jahat itu diungkapkan melalui bahasa religius. Kepada rombongan Persia, Herodes berkata: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.” Secara formal Raja Herodes menyatakan kepada publik bahwa ia akan pergi ke Betlehem untuk menyembah Sang Raja Yahudi yang baru lahir itu, tetapi motif, niat, dan rancangan di balik pernyataan formal religius itu adalah membunuh Sang Raja. Dengan kata lain rancangan jahat dibungkus dalam fomalitas dan legalitas religius -menyembah, atau niat dan motif jahat diungkapkan melalui bahasa dan kata-kata rohani. TAKUT MENGHADAPI FAKTA Peristiwa kelahiran Raja Yahudi di Betlehem atau kedatangan seorang Mesias itu merupakan bagian dari keyakinan dan harapan eskatologis Israel, termasuk Herodes tentunya. Kedatangan Mesias itu sudah disosialisasikan oleh nabi-nabi Israel 700 tahun sebelumnya. Nabi VYesaya sudah memberitahukan bahwa kelahiran Sang Raja itu adalah kelanjutan dari dinasti Daud. Sang Raja itu memiliki identitas sebagai Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Sang Raja itu akan memerintah dengan adil, benar, dan damai. Selanjutnya, Nabi Micha menambahkan keterangan bahwa Sang Raja yang lahir di Betlehem itu akan memerintah selama-lamanya. Ketika Sang Raja Yahudi itu lahir, Herodes menghadapi fakta, yaitu Raja yang lahir di Betlehem itu lebih cerdas, lebih berhikmat, lebih bijaksana, lebih berkuasa, lebih berwibawa, lebih terhormat, lebih berkualitas, dan lebih dicintai masyarakat Yahudia daripada dirinya. Fakta itu membuat Herodes merasa takut, karena ia berpikir bahwa lambat tetapi pasti, pada akhirnya dirinya akan kehilangan kredibilitas, pengaruh, kewibawaan di mata masyarakat Yahudi, dan klimaksnya ia akan dilupakan. Fakta adanya raja yang lebih unggul daripada dirinya, tidak dapat dielakkan Herodes. Oleh karena Herodes takut menghadapi fakta, maka daripada menerima fakta itu, Herodes justru berusaha menghancurkan fakta itu dengan cara membunuh semua anak tak berdosa yang dianggap berpotensi menjadi saingannya. Dan Trgadedi Natal Betlehem pun terjadi. TIDAK SIAP MENGHADAPI PERUBAHAN Perubahan adalah sebuah momok yang paling menakutkan bagi para penguasa diktator atau kepemimpinan yang status quo. Bagi para penguasa diktator atau pemimpin status quo perubahan itu dianggap sebagai sebuah ancaman, karena berpotensi untuk melengserkan mereka. Herodes, raja diktator itu sudah menyadari bahwa kelahiran Raja Yahudi itu akan membawa perubahan yang sangat besar, yang dapat membuat ia kehilangan kedudukan sebagai raja dan penguasa atas kaum Yahudi. Di satu sisi Herodes tidak siap menghadapi perubahan itu, dan di sisi lain Herodes sudah tidak mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan baru. Maka satu-satunya yang bisa dilakukan Herodes adalah menghambat arus perubahan itu, atau menghancurkan benih-benih perubahan sebelum bertumbuh, bahkan jika harus melakukan kejahatan sekalipun. Herodes mengetahui bahwa benih perubahan sudah mulai tumbuh di kota Betlehem melalui kelahiran seorang Raja Yahudi. Oleh karena itu, sebelum anak itu bertumbuh dan mengobarkan api perubahan, Herodes bertindak lebih dahulu memusnahkan benih perubahan dengan cara membunuh habis semua anak di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah. Tragedi Betlehem pun terjadi. TRAGEDI BETLEHEM TERULANG. Ternyata tragedi Natal di Betlehem lebih dari 2000 tahun yang lalu, terulang kembali dalam beberapa tahun terakhir ini, bahkan sedang terjadi di depan mata kita. Jika tragedi Natal di Betlehem adalah “pembunuhan anak-anak” yang berusia 2 tahun ke bawah, maka TRGAGEDI yang terjadi di dalam organisasi kita dalam beberapa tahun ini adalah “Pembunuhan Karakter” yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan berkesinambungan, atau dalam bahasa kriminal disebut pembunuhan berantai. Secara sederhana, “pembunuhan karakter” atau dalam istilah lain perusakan reputasi, adalah usaha-usaha untuk mencoreng atau merusak reputasi seseorang. Tindakan “Pembunuhan Karakter” dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan, atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang buruk tentang orang yang dituju”. Pembunuhan karakter terjadi karena adanya persaingan yang tidak sehat, sehingga seseorang berusaha menjatuhkan atau merusak reputasi orang yang dianggap saingan. Alasan-alasan penguasa melakukan “pembunuhan karakter” terhadap para hamba Tuhan, pada prinsipnya tidak berbeda dari alasan-alasan raja Herodes membunuh anak-anak di Betlehem. Para penguasa dihantui bayang-bayangnya sendiri. Mereka selalu membayangkan atau berpikir bahwa ada orang-orang kelompok-kelompok yang mengincar posisi mereka. Setiap kali ada kelompok-kelompok yang berkumpul, para penguasa selalu berpikir atau membayangkan kelompok itu sedang membicarakan atau merencanakan untuk menjatuhkan penguasa. Ini sudah menjadi karakter kepemimpinan otoriter, baik di dunia poilitk, sosial, maupun di dalam gereja. Takut menghadapi fakta menjadi alasan mengapa terjadi “pembunuhan karakter”. Fakta adalah kebenaran dan kebenaran selalu menyakitkan. Pada awalnya para penguasa biasanya merasa paling unggul. Akan tetapi setelah menjadi pemimpin, mereka menghadapi fakta bahwa ternyata ada banyak yang lebih unggul, bahkan banyak bawahan yang lebih unggul dalam banyak hal daripada pimpinannya. Fakta itu mankutkan dan juga dianggap sebagai sebua ancaman bagi kedudukan mereka. Untuk memberi kesan bahwa mereka (para penguasa) tetap lebih unggul dari semuanya, mereka menggunakan kekuasaan untuk melakukan “pembunuhan karakter” (pecat) siapa saja yang dianggap lebih unggul daripada para penguasa itu. Mental tidak siap menghadapi perubahan juga merupakan alasan mengapa terjadinya “tragedi pembunuhan karakter” di dalam gereja. Salah satu karakter dari pemimpinan yang otoriter adalah takut pada perubahan. Ada dua alasan mengapa mereka takut pada perubahan, pertama: Karena kapabilitas dan kapasitas leadership mereka sangat minim sehingga mereka tidak mampu beradaptasi dengan perubahan, kedua: Para pemimpin otoriter takut perubahan itu akan ancaman kedudukan mereka. Maka setiap kali ada gerekan-gerekan perubahan, para penguasa langsung merespons dengan “pembunuhan karakter” – pecat. Metode para pemimpin otoriter melakukan “pembunuhan karakter” pun persis sama dengan metode Herodes membunuh anak-anak, yaitu membungkus niat atau rancangan jahat dengan jubah religius. Mereka mengeksploitasi penggunaan pasal-pasal kitab suci atau pasal-pasal konstitusi gereja, tetapi motif utama seseungguhnya adalah “membunuh karakter” seseorang. Sementara yang menjadi sasaran “pembunuhan karakter” adalah orang-orang yang kritis, yang bicara jujur sesuai kenyataan, dan yang mengungkap fakta tanpa takut kehilangan posisi. Sasaran berikutnya adalah orang-orang yang dianggap saingan, yaitu orang-orang yang memiliki pengaruh yang kuat baik di daerah maupun di pusat. “Pembunuhan karakter” juga menyasar orang-orang yang secara faktual lebih berkapasitas, lebih berkualitas, lebih kredible, lebih berintegritas, dan lebih bermoral. KORBAN PEMBUNUHAN KARAKTER Daftar nama-nama dan jumlah korban “pembunuhan karakter” sebenarnya dapat dibuat secara detail, namun untuk menghemat waktu, penulis hanya menyebut nama-nama daerahnya dan beberapa keterangan lainnya. Berawal dari daerah Banten, di sana terdapat dua rohaniawan senior yang menjadi korban “pembunuhan karakter”. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa “pembunuhan karakter” terjadi karena adanya persaingan, terutama karena penguasa melihat ada sosok-sosok yang lebih kuat dan berpengaruh. Di Banten, seorang pendeta senior diberhentikan sebagai gembala supaya ia tidak bisa maju sebagai calon ketua organisasinya di daerah Banten. Pendeta kedua dipecat karena dianggap terlalu kritis dan memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin pada tahun-tahun mendatang. Selanjutnya, “pembunuhan karakter” begerak ke daerah Lampung. Di sana terjadi “pembunuhan karakter” menimpa seluruh pengurus daerah sebuah organisasi gereja yang terdiri dari 15 orang. Mereka dipecat dari kepengurusan daerah, tentu dengan alasan-alasan yang dibuat-buat dan dipaksakan. Tetapi pada dasarnya alasan “pembunuhan karakter” mereka adalah karena penguasa merasa tidak mampu bersaing dengan putra-putra daerah. Lima belas (15) pimpinan daerah tersebut tidak hanya dipecat dari jabatan kepemimpinan daerah, tetapi mereka juga dilarang untuk menjadi pengurus organisasi selama 2 tahun ke depan. Suatu “pembunuhan karakter” yang sangat kejam. Dari Lampung “pembunuhan karakter” terbang ke Kalimantan Utara. Di sana yang menjadi korban adalah ketua organisasi salah satu gereja di daerah Kalimantan Utara. Bapak Ketua yang terpilih secara demokratis melalui sebuah musyawarah, dipecat dari jabatannya. Alasan “pembunuhan karakter” adalah ‘katanya’ ada pelanggaran etika yang terjadi 21 tahun yang lalu. Ini memang sebuah keanehan dan sangat IRRASIONAL karena sebelum yang bersangkutan terpilih menjadi ketua, beliau sudah dua kali/periode (10 tahun) menjadi pengurus organisasi. Selama 10 tahun itu tidak pernah ada yang mempersoalkan pelanggaran etika yang terjadi 21 tahun lalu. Di sisi lain di antara penguasa yang malakukan “pembunuhan karakter” itu juga terdapat oknum-oknum yang diduga sedang bermasalah secara moral. Bahkan masalah moral oknum-oknum tersebut sudah menjadi berita di media-media umum baik cetak maupun digital, tetapi mereka tidak tersentuh. Selanjutnya dari Kalimantan Utara “pembunuhan karakater” bergerak ke Kalimantan Barat, tepatnya di wilayah Putusibu. Di sana yang disasar adalah seorang gembala yang dianggap sebagai ancaman bagi pimpinan karena sikapnya yang kritis dan jujur dalam menilai kinerja pimpinannya. Gembala tersebut telah berhasil merintis dan membangun sebuah gedung gereja secara mandiri melalui usaha dan kerja kerasnya sendiri. Bahkan gembala tersebut harus membuka usaha sampingan untuk mendukung pelayanan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tetapi semua itu tinggal cerita, karena bapak gembala telah menjadi korban “pembunuhan karakter”, dipecat dari penggembalaan. Dan saat ini usaha “pembunuhan karakter” sedang membayangi keluarga janda tua di daerah kaki Gunung Sindoro Jawa tengah. Di sana para penguasa sedang mengobok-obok warga dan keluarga gembala, merekayasa masalah-masalah internal keluarga untuk menciptakan situasi dan kondisi menjadi semakin kacau. Tujuan mereka adalah mencari cara atau menciptakan alasan-alasan yang dapat dilegalkan secara organisasi untuk menggusur gembala dan keluarganya dari rumah dan gereja yang sudah puluhan tahun dihuni, dibangun, dan dipelihara. Semoga Tuhan melindungi ibu janda dan keluarganya ini dari tangan-tangan kejam dan dari pandemi “pembunuhan karakter”. Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari rangkaian peristiwa “pembunuhan karakter” berantai yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih tujuh (7) tahun ini. Tidak seorang pun yang bisa memprediksi apakah aksi-aksi “pembunuhan karakter” ini masih akan berlanjut atau tidak. WARNING…………………. Pandemi Covid-19 telah berlalu, dan syukur Alhamdulillah, kita bisa selamat melewati situasi dan kondisi yang mematikan itu. Tetapi Anda jangan dulu merasa senang, karena kini kita menghadapi pandemi baru yang disebut “pembunuhan karakter”. Bahayanya virus pandemi “pembunuhan karakter” ini adalah ia berjubah religius, dan yang disasar adalah orang-orang yang baik, orang-orang jujur, berintegritas, dan bermoral. Tahun atau bulan yang lalu, korban “pembunuhan karakter” adalah mereka yang ada di daerah Sumatera atau Kalimantan, atau daerah-daerah lain, dan korbannya adalah si A, B, G, dan X. Tetapi bisa jadi besok lusa, atau minggu depan, bulan, dan tahun depan, “pembunuhan karakter” akan terjadi di daerah Anda, dan korbannya adalah Anda sendiri. Pertanyaannya: Bagaimana sikap Anda terhadap TRAGEDI “pembuhunan karakter” yang sedang terjadi di depan mata Anda? Apakah Anda hanya akan menunggu “pembunuhan karakter” itu datang menimpa Anda, keluarga Anda, atau teman dan tetangga Anda? Ataukah Anda akan melakukan upaya-upaya untuk mencegah dan melawan “pembunuhan karakter itu?” It is better to prevent than to cure – Lebih baik mencegah daripada mengobati. Merry Christmas Friends! ST – Jogja Bagikan Post navigation JANGAN MENGUSIK ORANG YANG DIPILIH TUHAN Rame-rame Hamba Tuhan Anggota Group WA Forum Konstitusi GPdI Kumpulkan Dana Solidaritas Untuk Gembala Jemaat GPdI Ngadi Rejo