RINTIHAN SEJARAH

(S. Tandiassa)

 

Orang sering menyapa atau menyebut namanya Pinkster. Kurang lebih 100 tahun lalu, ada yang bilang Maret 1921, ia masuk ke Indonesia dan menjejakkan kakinya di Pulau Dewata bersama dua warga AS. Di Pulau Dewata, ia berusaha merintis jalan untuk membangun sebuah kehidupan dengan budaya dan tradisi baru. Namun masyarakat Bali yang kala itu masih sangat kuat dalam tradisi dan kepercayaannya,  rupanya belum siap menerima kehadiran budaya dan tradisi asing. Setelah berusaha dan berjuang di Bali kurang lebih dua tahun dan tidak berhasil, mereka lalu hijrah ke pulau Jawa dan mendarat di kota minyak, yang sekarang dikenal dengan nama Cepu di Jawa.

Di Cepu ia berkenalan dengan salah satu pegawai tambang minyak, yang juga warga negara asing. Di sini ia berhasil menjadikan kenalan barunya itu sebagai sahabatnya. Dari sinilah ia memulai sebuah kehidupan baru yang ditandai dengan sebuah ritual yang disebut kebaktian. Selanjutnya dari kota minyak, ia melebarkan sayapnya dan bergerak ke berbagai kota di pulau Jawa, lalu melintasi lautan untuk menjangkau pulau-pulau, yaitu Sulawesi, Maluku, Sumatera, Kalimantan, NTT, dan Irian Jaya. Selanjutnya, tanpa kenal lelah, ia terus bergerak, bekerja keras, dan berjuang merambah ke desa-desa dan kampung-kampung sampai akhirnya, hampir tidak ada lagi desa dan kampung di Nusantara ini di mana ia tidak hadir.

Dari seluruh mission trip itu, ia telah behasil membangun kurang lebih 10 ribu rumah, yang disebut tempat kebaktian, 16 ribu lebih anak yang dinamai gembala jemaat, dan lebih dari 916 ribu cucu yang disebut warga atau anggota jemaat. Dan waktu ternyata berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, ia kini telah berusia lebih dari 100 tahun, tepat Maret 2021 yang lalu ia berusia satu abad.

KEMBALI KE PULAU DEWATA

Tepat 100 tahun sejak ia mendarat di Pulau Dewata, anak-anaknya merancang sebuah acara akbar, mewah, dan megah untuk merayakan dan mensyukuri usianya yang sudah satu abad di Indonesia. Anak-anaknya berharap HUTnya yang ke seratus tahun, yang jatuh pada bulan Maret tahun 2021 itu, akan menjadi suatu moment yang paling indah, paling meriah, dan membahagiakan sepanjang sejarah hidupnya di bumi Indonesia.

Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu. Hari ketika gawe akbar, yaitu rangkaian perayaan hutnya yang ke 100 tahun akan dimulai. Semua mata anak-anaknya dari seluruh pelosok Nusantara terarah ke Pulau Dewata. Mereka berdoa semoga hari itu cuaca akan lebih sejuk dan segar, dan berharap hari itu matahari akan bersinar lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Bahkan mereka ingin alam semesta turut bergembira menyambut perayaan HUTnya yang mungkin langka itu.
Bersamaan dengan munculnya sang mentari dengan warna kemerah-merahan di ufuk timur, sekelompok anaknya bergegas menuju ke suatu tempat membawa balon-balon yang berwana-warni dengan sejumlah burung burung merpati. Tampak jelas kegembiraaan dan kebahagiaan menghiasi wajah-wajah anak-anaknya. Terbayang di pikiran mereka sebentar lagi langit Pulau Dewata akan dipenuhi ribuan balon-balon yang berwarna-warni, biru, merah, dan kuning. Terbayang pula ratusan atau bahkan ribuan burung merpati akan beterbangan di udara dan menari-nari di dengan bebas layaknya burung yang lepas dari sangkarnya. Dan terasa ledakan sukacita, kegembiraan, dan tepuk tangan kebahagiaan anak-anaknya akan segera memecah keheningan Tanah Dewata di pagi itu.

SANG MERPATI ENGGAN TERBANG

‘Haleluya…, puji Tuhan…, shalom…, sekali Pantekosta tetap Pantekosta…” demikian seruan sejumlah anak-anaknya yang saling menyapa sambil bersalam-salaman pada pagi yang cerah itu di suatu tempat di Pulau Bali. Di lokasi itu umbul-umbul dan bendera yang didominasi warna kuning, biru, dan merah telah berkibar-kibar menyambut kedatangan para ‘petinggi’. Tanpa membuang-buang waktu, mereka mulai berbaris dengan rapi untuk memulai sebuah ritual sakral. Sebagian dari mereka memegang tali-tali balon balon-balon berwarna-warni, kuning, merah, biru, sebagian lagi memegang burung-burung merpati. Mereka bersiap-siap untuk melepaskan balon-balon dan burung-burung merpati ke langit Negeri Dewata.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara doa dengan format kata-kata yang khas: “Dalam nama Bapa, Anak Laki-laki, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus, kami buka rangkaian perayaan satu abad HUT ‘nya,.. Amin…, amin…., amin! Tanpa dikomando, mereka serempak melepaskan balon-balon kuning, merah, dan biru ke udara, disusul dengan burung-burung merpati yang beterbangan bebas di udara Pulau Dewata. Bagai berlomba, balon-balon itu naik menjulang tinggi ke udara, sementara burung-burung merpati terbang berbaris, seakan dikomando, mereka berbelok ke kanan, ke kiri, menurun, dan naik lagi, sampai akhirnya balon-balon dan burung merpati itu hilang dari jangkauan mata.

Tetapi terlihat seekor merpati putih yang enggan mengepakkan sayapnya untuk terbang bersama kawan-kawannya. Beberapa kali si pemegang merpati berusaha melepaskan dengan cara membuang ke atas, tetapi sang merpati putih itu justru mendarat depannya. Si merpati putih terlihat bersedih dan berat hati untuk terbang, meski ia tidak sakit. Beberapa orang bergantian mencoba membujuk sang merpati untuk terbang lagi dan lagi, namun sang merpati terlihat tidak ada niat dan gairah untuk terbang. Dari gerak-geriknya tampak jelas sang merpati sedang berduka dan bersedih. Duka dan kepedihan di hatinya itu tampak terlalu berat sehingga membuat dirinya kehilangan daya dan gairah untuk terbang.

Mereka semua heran, demikian pula semua penonton dari seluruh penjuru Indonesia. Sebagian penonton bertanya-tanya pesan apa gerangan yang mau disampaikan oleh sang merpati itu. Mengapa di hari-hari ketika sang merpati seharusnya merepresentasikan luapan sukacita, kegembiraan, dan kebahagiaan di perayaan HUT 100 tahun, justru sang merpati enggan terbang, tetapi justru mengekspresikan duka, gunda, kesedihan, dan kepedihan?  Sebagian sebagian lagi penonton menafsirkan keengganan sang merpati untuk terbang itu sebagai pertanda akan ada kejadian atau peristiwa buruk terjadi di dalam keluarga besar Mrs. Pinkster. Pertanyaan-pertanyaan dan ramalan-ramalan mengenai sang merpati yang enggan terbang itu mendominasi pembicaraan selama berbulan-bulan, bahkan setelah peristiwa itu telah berlalu dua tahun, masih saja sering dibicarakan.

DUKA KARENA LUKA

Merpati memang tidak pernah ingkar janji, merpati juga tidak pernah bohong. Hatinya terlalu suci untuk ingkar janji, berdusta, atau berpura-pura. Demikian mulianya hati sang merpati, sehingga seorang Rabbi dari Nazaret yang juga sering disebut Anak Daud menasehati murid-murid-Nya supaya mereka ‘tulus seperti merpati’. Rupanya sang merpati yang ketika itu diposisikan sebagai representasi dari ekspresi kebagiaan, kegembiraan, sukacita, rasa keberuntungan, dan keberhasilan, ternyata secara naluri atau insting, menangkap dan sekaligus merasakan situasi batin dari sahabatnya yang berHUT itu. Ada duka dan gundah, ada rasa sedih, dan susah, ada kepedihan, dan kekecewaan, serta ada tangis dan rintihan di batin.

Bagaimana ia tidak berduka dan bersedih jika 100 tahun sudah ia berkarya di bumi Indonesia, tetapi hasil-hasil jerih payahnya itu kacau dan berantakan akibat ulah dan perilaku dari segelintir anak-anaknya yang merasa diri berkuasa. Bagamana hatinya tidak gundah gulana, terluka, dan pedih, jika ia melihat tembok-tembok rumah yang telah dibangun selama 100 tahun itu ternyata di sana-sini sudah pecah-pecah dan tak terurus. Bagaimana itu tidak merintih dan menangis melihat tiang-tiang rumahnya sudah rapuh, kropos, goyang, dan sewaktu-waktu bisa runtuh, sementara ia melihat sebagian anak-anaknya justru bergaya hidup mewah, makan minum dan tidur nyenyak di hotel-hotel berbintang dari satu kota ke kota yang lain dengan alasan meeting, meeting,dan meeting lagi.

Melihat kondisi rumahnya yang sudah rapuh dan nyaris runtuh itu, sementara perilaku sebagian anak-anaknya hanya mengejar kenikmatan, kepuasan, dan kebanggaan yang disertai dengan kekerasan, rasa duka, pedih, gundah, dan sedih di hatinya pun menjelma menjadi luka.

Luka itu terasa semakin dalam menusuk hatinya ketika ia mengetahui dan melihat dengan mata kepala sendiri sebuah kenyataan yang lebih menyedihkan, yaitu ternyata degradasi moral juga sedang melanda anak-anaknya. Media-media masa memberitakan adanya skandal-skandal moral, seperti perselingkuhan antar sesama anak-anaknya, perselingkuhan majikan-majikan dengan pekerja-pekerjanya. Ia juga pernah mendengar dan membaca bahwa ada juga anak-anaknya yang memiliki dua sampai tiga WIL, tidak terkecuali anak-anaknya yang bersatus pemimpin. Bahkan ia pernah melihat langsung di medsos-medsos, anak-anaknya mempertontonkan perbuatan-perbuatan cabul tanpa sedikit rasa malu.

LUKA MENJELMA MENJADI MALU

Ia duduk di teras rumahnya di suatu pagi yang cerah dan sejuk. Dalam imaginasinya ia melihat kenyataan skandal moral yang menjamur antar sesama anak-anaknya sendiri. Ia  menjadi sangat malu terutama malu pada dirinya sendiri. Ingin rasanya ia membenamkan wajahnya ke dalam tanah. Rasa malu atas perilaku moral anak-anaknya, membuat ia merasa dirinya sedang menjadi sorotan mata dari segala makhluk. Dan seperti ada suara-suara dari segala penjuru alam semesta yang terus-menerus menuduh dan menghakimi dia. Ada yang berteriak: “Hei, mengapa itu terjadi di rumahmu? Hei, katanya kamu keluarga kudus? Hei, katanya di rumahmu ada aturan tentang hidup kudus? Hei, katanya ciri khas khotbah-khotbah anak-anakmu adalah tentang kesucian? Tetapi mengapa skandal moral merajalela justru di rumahmu dan antar anak-anakmu sendiri? Masih beranikah engkau bicara kesucian, kejujuran, kebenaran, dan integritas?”

Wajar kalau ia ingin membenamkan wajahnya ke dalam tanah karena rasa malu. Bagaimana tidak malu? Seratus tahun lalu, ketika ia mendarat di negeri yang bernama Indonesia ini bersama dengan 2 orang bule dari negeri Paman Sam, ia membawa misi untuk memberitakan kabar dari surga yang sarat dengan nilai-nilai moral yang disebut: kesucian, kejujuran, kebenaran, kemurahan, dan kebaikan. Kecintaan pada nilai-nilai moral itu membuat ia menanamkan sebuah prinsip hidup pada anak-anaknya, yaitu “Hidup kudus. Tanpa kekudusan tidak ada yang berkenan kepada Tuhan”. Syair-syair lagu tentang hidup kudus atau kekudusan pun bermunculan dan menjadi lagu-lagu favorit mereka.

Oleh karena terobsesi pada “hidup kudus” itu, ia lalu menciptakan simbol kekudusan dalam  wujud warna PUTIH. Ia menanamkan filosofi “hidup kudus” dengan cara mengenakan busana-busana berwarna putih. Baginya, warna putih adalah lambang kesucian. Hingga pada era 10 – 15 tahun lalu, filosofi hidup kudus dengan simbol busana-busana warna putih, masih sangat kuat.

Tetapi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini filosofi hidup kudus dengan simbol-simbolnya telah dilumat oleh keserakahan terhadap materi dan kedudukan.  Prinsip-prinsip hidup kudus telah hancur dan hangus oleh api hawa nafsu seksual yang tak terkendali. Dan nilai-nilai kekudusan, tinggal syair-syair lagu-lagu rohani. Kenyataan itu degradasi moral yang sangat parah membuat sang ibu yang sudah sepuh merasa malu pada dunia. Ia pun berandai-andai. “Andai aku punya sayap seperti burung rajawali, aku akan terbang jauh dan menghilang di ujung langit daripada berada di sini dan terus menjadi buah bibir tetangga”. Tetapi kemudian ia berpikir, melarikan diri tidak akan menghilangkan kenyataan-kenyatan tentang perilaku buruk yang dilakukan anak-anaknya. Akhirnya demi menahan rasa malu itu, ia terpaksa harus berwajah tebal dan berlagak seakan-akan semuanya baik-baik saja.

PRIHATIN

Matahari tampak semakin tinggi, dan beban-beban batinnya terasa semakin berat. Duka dan luka terasa menikam semakin dalam di hatinya. Rasa malu semakin menggerogoti harga dirinya, sehingga ia hampir-hampir tidak lagi memiliki keberanian untuk menampakkan wajahnya. Sementara bergumul dengan berbagai peritiwa yang menyedihkan dan melukai hatinya, ia terkejut melihat peristiwa-peristiwa memprihatinkan yang terjadi di antara anak-anaknya dalam tahun-tahun terakhir ini. Peristiwa-peristiwa itu sangat tragis dan sesungguhnya tidak pantas dilakukan oleh anak-anaknya. Ia berharap peristiwa-peristiwa buruk yang ia lihat itu hanyalah sebuah mimpi buruk dan tidak sungguh-sungguh terjadi. Akan tetapi akhirnya tersadar, ia tidak bermimpi, ia tidak sedang mengkhayal, tetapi ia melihat peristiwa-peristiwa yang sungguh-sungguh nyata dan terjadi. Kini rasa prihatin membuat batinnya semakin tersiksa.

Di depan matanya, ia menyaksikan ada segerombolan anak-anaknya merasa kelompok eksklusif, yang berlagak dan bersikap terlalu arogan, bahkan bertindak seperti penguasa atau pemilik atas semua ini. Ia menyaksikan setiap hari, perilaku gerombolan anak-anaknya itu tidak berbeda dari apa yang sering disebut premanisme. Dan iapun berpikir mereka inilah yang sekarang disebut preman berdasi. Anak-anaknya yang merasa kelompok eksekutif tatapi berkarakter preman itu menindas, menggusur, merampas, memaksakan kehendak, mengintimidasi, bahkan tidak segan-segan membunuh karakter siapa saja yang dianggap tidak sejalan, yang mengkritisi, dan apalagi yang berseberangan dengan mereka.

Gerombolan anak-anaknya itu menuntut setoran rutin dari berbagai daerah. Mereka mengintimidasi siapa saja yang terlambat menyetor, atau yang tidak menyetor. Orang-orang yang tidak menyetor langsung disingkirkan. Ia juga menyaksikan dengan mata kepala di suatu daerah di pulau Sumatra, ada 20 lebih orang yang disingkirkan hanya karena terlambat menyetor atau karena belum menyetor, sementara di pulau Jawa dan Sulawesi gerombolan anak-anaknya itu memaksa mereka di sana untuk menyetor, jika tidak, mereka akan didiskualifikasi dari kompetisi calon-calon ketua. Karena mereka takut akan kehilangan kedudukan, akhirnya mereka terpaksa menyetor ratusan juta rupiah.

Ia semakin prihatin ketika ia melihat geng anak-anaknya itu melakukan tindakan-tindakan pembersihan ‘gaya orde baru’. Tanpa peduli lagi pada norma-norma, tata krama, etika, sopan santun, atau aturan-aturan yang berlaku, mereka menggunakan ‘palu’ secara otoriter untuk membunuh karakter siapa saja yang mereka tidak sukai. Mereka membuat skenario dengan cara mencari-cari alasan, bahkan mereka tidak segan-segan menciptakan alasan-alasan yang irrasional, hanya untuk menjegal dan menyingkirkan siapapun yang dianggap tidak memihak mereka. Dan korban pun berjatuhan di berbagai daerah, antara lain: di kota Gudeg, di kota Empek-empek, di tanah para Ratu, di daerah Kesultanan Empat Gunung, di kota Tepis Berseri, di kota Bumi Panguntaka, Borneo’ dan daerah-daerah lain.

Tentu saja tindakan-tindakan premanisme ini tidak dapat diterima begitu saja oleh para korban. Para korban kemudian bangkit untuk mempertahankan hak-hak azasi mereka, dan melakukan perlawanan tetapi tentunya tidak dengan cara atau gaya premanisme, melainkan dengan cara-cara yang lebih bermoral, beradab, terhormat, dan legitimated yaitu melalui proses hukum. Dan konfrontasi antar anak-anaknya di ruang-ruang pengadilan dan di markas-markas kepolisian pun tidak dapat dihindari lagi, bahkan semakin hari semakin banyak.

DAN AIR MATANYA PUN MENETES

Matahari tampak mulai menurun ke barat seakan menyambut datangnya sang malam. Ia belum beranjak dari tempat duduk. Ia tidak mau percaya, tetapi ia melihat kenyataan. Tidak masuk akal, namun di depannya fakta-fakta tampak jelas. Ia berharap semua yang ia lihat itu hanyalah mimpi, tetapi ternyata semua itu adalah kejadian sungguh-sungguh.

Ia sedang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana geng anak-anaknya terus melakukan aksi-aksi premanisme yang dilegitimasi dengan cap dan jabatan, dan korban-korbannya terus berjatuhan. Sementara itu adegan-adegan konfrontatif di arena-arena pengadilan dan di markas-maskas kepolisian terus berlangsung.  Tanpa ia menyadari, air matanya mulai membasahi pipinya yang sudah mulai keriput dimakan usia.

Melihat aksi-aksi premanisme dari geng anak-anaknya terus memakan korban, ia menerawang ke belakang sambil merenungkan riwayat perjuangannya di tanah Indonesia. Dalam hening itu ia mendengar suara yang sangat lembut tetapi jelas, berbisik di telinganya: “Selama 100 tahun engkau meneteskan air mata dalam perjuangan untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak dan cucu-cucumu, dan engkau berhasil. Tetapi saat ini di usiamu yang 100 tahun, anak-anak yang engkau besarkan dengan kasih sayang, kemurahan, kebajikan, dan dengan pengorbanan itu, sebagian telah berubah menjadi makhluk-makhluk yang buas terhadap sesamanya”. Tanpa menunggu respons, suara itu langsung mengajukan pertanyaan yang baginya amat sulit untuk dijawab: “Jika saat ini sebagian anak-anakmu berperilaku buruk demikian, dan terus menelan korban di sana sini, bagaimana nasib seluruh anak-cucumumu 5 sampai 10 tahun mendatang”.

Kini air matanya berderai tak terbendung lagi. Terbayang baginya, jika perilaku anak-anaknya tidak berubah, maka segalah jerih payahnya, pengorbanannya, tetesan air matanya selama 100 tahun, atau 1200 bulan, akhirnya akan menjadi sia-sia. Ajaran-ajarannya tentang kasih, kekudusan, harmoni, persaudaran, dan pelayanan yang telah ditanamkan selama satu abad, akan lenyap tak berbekas, terhapus oleh perilaku kepemimpinan premanisme anak-anaknya.

Rasa sakit dan pedih menusuk semakin dalam di hatinya. Seluruh badannya gemetar dan keringat dingin ketika ia membayangkan, jika keadaan masa kini tidak berubah menjadi lebih baik, jika geng anak-anaknya tidak bertobat, jika tindakan-tindakan premanisme tidak dihentikan, dan jika gaya hidup mewah mereka terus berlangsung, ia memastikan di dalam dirinya, pada akhirnya anak-anaknya akan tercerai berai, masing-masing akan mencari jalannya sendiri-sendiri dengan membawa luka, kemarahan, kekecewaan, marah, dendam dan penyesalan seumur hidup

ANTARA “HOPELESS” dan “HOPE”

Dan tampak di ujung barat, matahari tinggal memerah, menandakan sang malam segera tiba. Ia duduk diam dan berusaha untuk tampak tenang di depan anak cucunya yang sering ia sapa ‘gembala-gembala dan warga jemaat’. Ia tetap tersenyum dan menyapa dengan ramah seakan-akan semuanya ‘baik-baik saja’. Namun pandangan matanya tidak dapat menyembunyikan suasana batinnya yang sesungguhnya sedang hopeless. Ia hopeless karena ia menyadari bahwa sesungguhnya tahun-tahun ini semuanya ‘tidak baik-baik saja’. Bahkan ketika ia berusaha bersikap jujur pada dirinya, ia harus mengakui bahwa 10 tahun terakhir ini adalah yang masa yang paling buruk, yang paling menyedihkan, dan paling manyakitkan baginya selama 100 tahun berada di Indonesia. Lebih menyedikan dan menyakitkan lagi baginya, karena ia tidak berdaya menghadapi, apalagi mengubah realita situasi dan kondisi buruk masa kini yang diakibatkan oleh perilaku dan tindakan-tindakan merusak dari sebagian anak-anaknya yang merasa berkuasa.

Walaupun begitu, namanya ‘Pinkster’, meski sudah hopeless, ia masih tetap memiliki alasan-alasan untuk berharap, walau tidak terlalu optimistis. Ia berharap besok atau lusa, bulan depan atau tahun depan, akan ada satu atau dua peristiwa mengejutkan yang dapat mengubah perilaku dan karakter merusak dari anak-anaknya. Ia masih berharap Yang di Atas Sana tidak berdiam diri melihat ‘korban-korban’ yang terus berjatuhan akibat ulah dan nafsu serakah kekuasaan dari geng anak-anaknya sedang berkuasa. Ia menunggu Yang Mahakuasa dan Yang Mahakasih berkenan untuk segera bertindak menghentikan dan membatalkan semua niat dan rancangan buruk, kebohongan, skandal moral, serta perilaku dan tindakan-tindakan tak manusiawi dari anaknya yang merasa penguasa. Ia berharap walau tidak optimistis, dalam beberapa tahun ke depan, akan terjadi sebuah perubahan dan pemulihan kondisi rumahnya, anak-anaknya, dan cucunya.

Mrs. Pinkster semakin larut duka dan kepedihan, antaraA hopeless dan hope, hanyut dalam emosi geram dan marah, ketika jam dinding kuno yang tergantung di tembok tepat di depannya membunyikan tanda pukul dua belas malam. Dan sang malam pun memohon kepadanya untuk menghapus air matanya sebelum sang fajar muncul dengan senyum menjumpai dia……

(ST – Jogja) 

 

 

 

 

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *