JANGAN MENGUSIK ORANG YANG DIPILIH TUHAN (bagian akhir dari tulisan sebelumnya: “Bangkitlah Hai Gembala-gembala”) (S. Tandiassa) ”Gembala-gembala jemaat adalah pejuang-pejuang sejati karena mereka pergi merintis dan mendirikan gereja-gereja baru tanpa jaminan apa-apa dari organisasi atau pimpinan. Gembala-gembala jemaat adalah pejuang-pejuang yang tulus, karena mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung merintis dan membangun gereja-gereja lokal dengan mengorbankan segala harta dan mempertaruhkan hidup mereka. Gembala-gembala jemaat adalah hamba-hamba Tuhan yang berhati mulia, karena mereka merintis dan melayani warga jemaat tanpa mengharapkan sedikit pun imbalan, baik dariwarga jemaat, dari organisasi maupun dari pimpinan”. I. SEBUAH PANGGILAN Menjadi gembala jemaat di lingkungan organisasi gereja-gereja Pantekosta adalah pilihan atau panggilan Allah dan bukan sebuah profesi sebagaimana halnya menjadi pegawai negeri, pengusaha, politisi, TNI, Polisi, atau pedagang. Dalam konsep iman kaum Pantekosta, Allah yang berinisiatif memilih, memanggil, dan menetapkan seseorang untuk menjadi hamba Tuhan, dan selanjutnya mengutus menjadi gembala jemaat. Dalam hal ini harus ditegaskan bahwa bukan organisasi atau pimpinan organisasi yang memilih, memanggil, dan menetapkan seseorang untuk menjadi hamba Tuhan atau gembala jemaat. Proses panggilan Allah pada seseorang untuk menjadi menjadi hamba Tuhan dan kemudian menjadi gembala jemaat tidak mudah. Di dalam tradisi Pantekosta, tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum menjadi gembala, dimulai dari ketika seseorang membuat keputusan untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Selanjutnya, ia harus menjalani proses persiapan yang disebut Training Center (TC) minimal 6 bulan sebelum masuk Sekolah Alkitab (SA). Kemudian ia masuk SA minimal 7 bulan atau 2 X 7 bulan. Selesai SA ia harus magang (istilah Pantekosta menjadi pengerja) minimal 1 tahun, tetapi banyak juga yang dipaksa oleh gembala-gembala senior untuk magang 2 atau 3 tahun. Masa-masa menjalani Training Center dan magang (pengerja) itu, para pengerja, atau calon-calon gembala ini sering diperlakukan seperti “babu, atau pembantu rumah tangga” oleh gembala-gembala tempat mereka magang. Setelah masa magang (pengerja) selesai, hamba-hamba Tuhan yang masih muda-muda itu, berinisiatif mencari tempat untuk merintis gereja-gereja baru. Sebagian besar mereka pergi merintis jemaat hanya bermodalkan iman, semangat, dan harapan. Artinya, gereja tempat magang atau organisasi gereja, apalagi pimpinan organisasinya, kebanyakan tidak memberi jaminan apa-apa. II. MERINTIS JEMAAT Proses perintisan gereja-gereja baru kebanyakan dimulai dari 2 atau 3 orang atau keluarga, yang tentunya bukanlah orang-orang mampu. Pada masa-masa perintisan itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, gembala-gembala perintis ini harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan hidup. Ada beberapa gembala perintis yang harus jadi buruh tani, ada yang jadi pembantu tukang bangunan, ada yang jadi tukang ojek, ada yang bertani dengan cara menggarap tanah orang kemudian bagi hasil, ada yang jadi nelayan, dan lain-lain. Di luar Pulau Jawa, medan perintisan jemaat-jemaat baru sebagian hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki berjam-jam lewat hutan, ada yang dijangkau dengan perahu lewat sungai, ada pula yang harus naik kuda, dan ada juga yang bisa dijangkau dengan sepeda motor melewati jalan-jalan berlumpur. Pada tahap perjuangan merintis dengan kondisi yang demikian, pada umumnya gembala-gembala jemaat belum dikenal apalagi diperhitungkan oleh organisasi terlebih para pimpinan organisasi. Beberapa kejadian, ketika gembala-gembala perintis ini bertamu ke gereja-gereja atau pendeta-pendeta yang sudah mapan, mereka diacuhkan, tidak ditemui, bahkan ada juga ditolak, dengan berbagai alasan seperti: tidak ada tempat di pastory, ada banyak tamu, atau bapak pendeta lagi sibuk tidak bisa diganggu, atau ini hari Sabtu bapak pendeta tidak bisa menerima tamu, dll. Bagi para gembala perintis, masa-masa perintisan jemaat adalah masa penderitaan, masa kesusahan, masa kesedihan karena seringkali dilecehkan, direndahkan, tidak dianggap, dan bahkan sering ditolak oleh gembala-gembala gereja yang sudah mapan, terutama yang di kota-kota. Tahun-tahun perintisan adalah saat-saat untuk menahan rasa sakit karena ketiadaan biaya untuk ke dokter atau membeli obat. Masa-masa perintisan adalah saat-saat untuk menahan rasa lapar karena kekurangan dan saat-saat keluarga gembala harus puas dengan baju-baju bekas pemberian orang-orang kota. Masa-masa perintisan jemaat adalah saat-saat dimana gembala harus menahan atau menyembunyikan derai air mata kesedihan agar tidak terlihat oleh istri dan anak-anak. Butuh belasan bahkan berpuluh tahun bagi gembala-gembala perintis untuk bisa sampai pada tingkat jemaat yang mapan. Penulis sendiri, meskipun merintis di Pulau Jawa, tepatnya di Yogyakarta, tetapi pengalaman-pengalaman perintisan tidak jauh berbeda dari pengalaman-pengalaman teman-teman sesama perintis di pulau-pulau lain. Penulis butuh belasan tahun untuk bisa menyelesaikan tempat Ibadah yang pertama, dan butuh 27 tahun untuk memiliki tempat ibadah yang kedua. Walaupun penulis sudah menjadi anggota Pengurus Daerah GPdI dari tahun 1987 sampai tahun 2022, tetapi tidak ada sepeserpun bantuan dari organisasi atau dari gembala-gembala senior. III. PATERNALISTIK Pada umumnya gereja-gereja aliran Pantekosta menganut kepemimpinan Paternalistik. Paternalistik di dalam gereja-gereja Pantekosta menempatkan pemimpin sebagai orang yang dipilih dan diurapi Allah. Secara umum kepemimpinan paternalistik menempatkan pemimpin sebagai orang yang paling tahu, paling berpengalaman, dan selalu benar. Paternalistik menuntut ketundukan mutlak dari bawahan atau anggota. Bawahan atau anggota tidak boleh mengkritisi, tidak boleh memberi pandangan, apalagi membantah. Orang-orang yang masih muda tidak bisa menjadi pemimpin karena dianggap mereka belum layak, belum tahu apa-apa, belum bisa, karena belum berpengalaman. Para pemimpin paternalistik, khususnya di gereja-gereja Pantekosta, menakut-nakuti bawahan, dalam hal ini adalah gembala-gembala jemaat, dengan cara mengeksploitasi ayat Alkitab untuk menjaga kedudukan mereka tetap langgeng. Teks yang selalu dijadikan senjata untuk membungkam suara-suara bawahan atau para gembala yang kritis atau yang memprotes pemimpin adalah: “Jangan mengusik orang yang dipilih Tuhan”. Para pemimpin Pantekosta manjadikan ayat ini sebagai senjata untuk mengintimidasi bawahan atau gembala-gembala jemaat. Apabila ada bawahan atau gembala yang mengkritisi, mengoreksi, atau membantah, para pemimpin paternalistik langsung mencap mereka sebagai “mengusik orang yang dipilih Allah”. Penggunaan senjata “jangan mengusik orang yang dipilih Allah” ini membuat para pemimpin Pantekosta sering bertidak sewenang-wenang terhadap bawahan atau gembala-gembala jemaat. Tidak sedikit gembala-gembala jemaat di gereja-gereja Pantekosta yang disanksi, diberhentikan, atau bahkan dipecat – seperti yang terjadi baru-baru ini pada seorang gembala jemaat GPdI di Kalimantan Barat, karena dituduh mengusik orang yang dipilih Allah, dalam hal ini pimpinan, meski gembala itu sebenarnya hanya mengkritisi kebijakan-kebijakan pimpinan yang menyimpang, atau yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan organisasi, dan atau yang merugikan gembala-gembala jemaat. Ada satu aliran gereja Pantekosta yang selama 32 tahun atau 8 periode, pemimpinnya hanya satu orang. Organisasi Pantekosta tersebut memang menganut kepemimpinan paternalistik kuno secara ketat. Setiap kali menjelang masa pergantian pemimpin (MUBES), selalu diisukan bahwa belum ada hamba Tuhan di organisasi itu yang mampu memimpin seperti pemimpin yang sudah ada, atau belum ada gembala yang layak menjadi memimpin karena belum ada yang berpengalaman seperti yang sedang memimpin. Apabila ada gembala atau pendeta yang mencalonkan diri menjadi ketua umum di organisasi itu, ia akan dicap sebagai orang yang “melawan” orang tua, orang yang sombong, orang yang tidak tahu diri, atau didiskreditkan dengan bahasa-bahasa yang sangat merendahkan, bahkan tidak jarang dituduh ‘mengusik orang yang dipilih Allah’ Maka terjadilah, selama 32 tahun atau (8 periode), di organisasi Pantekosta itu hanya ada satu pemimpin, dan sama sekali tidak ada proses kaderisasi. Akibat dari kepemimpinan paternalistik itu, adalah bahwa saat ini di organisasi salah satu aliran Pantekosta tersebut, terjadi kekacauan, kegaduhan, konflik, perpecahan, perlawanan dan penolakan terhadap pemimpin. Persoalan-persoalan yang muncul tersebut sedemikian parah sehingga sebagian masalah telah bermuara di ruang-ruang hukum, baik di kepolisian, maupun di pengadilan. IV. DIPILIH ALLAH dan DIPILIH MANUSIA Jika setiap hamba Tuhan masih bisa membedakan antara fakta dan keyakinan, dan masih mampu memilah antara rasionalitas dan perasaan, sudah pasti ia akan mampu juga untuk membedakan anatara mana yang DIPILIH Allah dan mana yang DIPILIH manusia. Fakta-fakta historis membuktikan bahwa eksistensi seorang hamba Tuhan sebagai gembala jemaat di lingkup gereja-gereja Pantekosta adalah karena DIPILIH oleh Allah. Mengenai bagaimana proses gembala jemaat DIPILIH dan dipanggil oleh Allah, sudah dijelaskan sebelumnya di No. I Romawi. Lalu bagaimana proses pemimpin yang dipilih manusia? Fakta-fakta historis pula yang membuktikan bahwa seorang hamba Tuhan dapat “menjadi pemimpin” di dalam organisasi gereja Pantekosta, karena DIPILIH oleh manusia. Tegasnya, seseorang dapat menjadi pemimpin organisasi gereja, itu karena PILIHAN MANUSIA. Paling sedikit terdapat sembilan (9) FAKTA OTENTIK yang menunjukkan bahwa pemimpin organisasi gereja masa kini, dalam konteks gereja-gereja Pantekosta, sepenuhnya dipilih oleh manusia: INISIATIF INDIVIDU: Inisiatif mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin (ketua) organisasi muncul dari individu yang memiliki keinginan untuk menjadi seorang pemimpin. Artinya seseorang mencalonkan diri karena ia memang bercita-cita, atau memiliki Impian untuk mendapatkan posisi ketua atau top leader. Impian, dan cita-cita menjadi pemimpin itu adalah murni keinginan dari manusia. PENCITRAAN: Kemudian, keinginan, impian, atau cita-cita seorang hamba Tuhan untuk menjadi pemimpin tersebut ditindaklanjuti dengan melakukan berbagai upaya ‘PENCITRAAN DIRI’ untuk menarik perhatian atau mempengaruhi orang lain agar memilih dirinya menjadi ketua atau leader. IMBALAN: Selanjutnya, di dalam upaya pencitraan diri dan mempengaruhi orang itu, calon-calon melakukan lobi-lobi, kompromi-kompromi, konsesi-konsesi, tawar-menawar, atau janji-janji kepada para calon pemilih, bahwa kalau nanti dia terpilih sebagai ketua, ia akan melakukan ini dan itu, atau ia akan memberikan ini dan itu sebagai imbalan. MANUVER: Pada waktu tiba hari H untuk memilih ketua di dalam sebuah MUSYAWARAH, calon-calon ketua melakukan manuver-manuver untuk bisa meraih suara sebanyak-banyaknya. Banyak fakta yang menunjukkan para calon tidak segan-segan mengeluarkan sejumlah besar uang untuk memberi insentif kepada para pemilih. TANGAN MANUSIA: Pada saat pemilihan dilakukan, tangan manusia, dalam hal ini para pemilih yang mencoblos nama yang sesuai dengan keinginan mereka, atau mencoblos nama calon yang sudah memberi insentif paling besar. Lalu muncullah pemenang atau leader hasil pemilihan. Posisi leader tersebut diraih melalui berbagai cara mulai dari pencitraan diri, kompromi-kompromi, konsesi-konsesi, dan bahkan insentif berupa uang. PENCALONAN: Adanya proses pencalonan, juga merupakan FAKTA yang tak terbantahkan bahwa pimpinan organisasi gereja-gereja adalah pilihan atau dipilih manusia. Jika Tuhan yang memilih pemimpin, Tuhan tidak perlu melakukan proses mencalonan, dan juga tidak mungkin menunjuk dua atau tiga hamba Tuhan dan menyuruh mereka bertarung di arena pemilihan. Di dalam Alkitab, setiap kali Tuhan memilih seorang pemimpin untuk umat-Nya, tidak pernah ada proses pencalonan. Tuhan selalu menunjuk langsung dan menunjuk hanya satu orang. TEMPORER: Fakta ketujuh yang menunjukkan pemimpin organisasi gereja-gereja Pantekosta “DIPILIH MANUSIA” adalah masa kepemimpinan yang bersifat TEMPORER atau PERIODIK. KONSTITUSI organisasi yang adalah produk manusia, membuat batasan waktu pada kepemimpinan seseorang, yaitu 5 tahun, atau 2 kali 5 tahun. Fakta ini berbeda dari pemimpin yang dipilih oleh Tuhan, yaitu seumur hidup. Begitu pula dengan gembala-gembala jemaat, tidak bersifat temporer, tetapi seumur hidup. MONEY POLITIK: Hampir tidak ada satupun pemimpin di gereja-gereja Pantekosta yang bisa meraih posisi leader tanpa uang. Terlepas dari bagaimana cara atau alasan yang digunakan oleh para calon sehingga uang itu sampai ke tangan para pemilih, tetapi faktanya, calon pemimpin pasti mengeluarkan uang. MANUSIA YANG MENURUNKAN: Oleh karena manusia, yang memilih dan mengangkat pimpinan organisasi gereja, maka manusia jugalah yang menurunkan pemimpin dari posisinya, ketika para pendeta tidak lagi memberi suara kepada yang bersangkutan melalui pemilihan, atau ketika para pemilih tidak lagi menginginkan seseorang menjadi pemimpin. Jika Tuhan yang memilih pemimpin, masa tugasnya tidak bersifat temporer atau periodik tetapi seumur hidup. Lihatlah fakta-fakta sejarah para pemimpin yang benar-benar dipilih Allah di dalam Alkitab. Sembilan (9) fakta ini sekaligus menjelaskan bahwa posisi pemimpin, leader, ketua, di dalam organisasi gereja-gereja Pantekosta itu bukan sesuatu yang sakral, dan tidak perlu disakralkan atau dikeramatkan, karena posisi itu hanyalah pemberian dari manusia. Demikian pula dengan sang pemimpin, atau sang ketua, ia bukanlah sosok ‘malaikat suci’ yang harus dimitoskan. Pemimpin itu hanyalah seorang manusia yang dipilih oleh manusia dan diberi tugas memimpin manusia selama beberapa tahun. V. JANGAN MENGUSIK GEMBALA-GEMBALA JEMAAT Jika sekarang kaum Pantekosta mau menggunakan teks kitab suci yang berbunyi: “Jangan mengusik orang yang dipilih Tuhan”, pertanyaannya, siapakah orang yang dipilih Tuhan itu? Atau jelasnya, pada posisi manakah seseorang disebut ‘orang yang dipilih Tuhan?‘ Apakan pada posisi sebagai gembala jemaat ataukah pada posisi sebagai pemimpin organisasi? Berangkat dari uraian tentang proses menjadi gembala jemaat dan proses menjadi pemimpin organisasi di lingkup gereja-gereja Pantekosta, akhirnya kita diperhadapkan pada fakta-fakta historis dan pengalaman-pengalaman empiris yang tidak terbantahkan, yaitu bahwa seseorang dapat menjadi gembala jemaat karena dipilih oleh Allah, dan seseorang dapat meraih posisi pemimpin organisasi karena dipilih oleh manusia. Atau singkatnya, gembala jemaat adalah hasil pilihan Allah sedangkan pimpinan organisasi gereja adalah hasil pilihan manusia. Paling sedikit terdapat delapan (8) ALASAN mengapa gembala-gembala jemaat tidak boleh diusik oleh siapapun, termasuk oleh pemimpin organisasi gereja: Yang memanggil, memilih, dan menetapkan seseorang untuk menjadi gembala jemaat adalah Tuhan, bukan pemimpin atau organisasi. Yang mengutus seorang hamba Tuhan ke suatu tempat untuk merintis jemaat baru dan sekaligus menjadi gembala Jemaat adalah Tuhan. Pada masa-masa perintisan itu, pada umumnya pemimpin gereja atau organisasi tidak begitu peduli pada gembala-gembala. Yang mengembangkan dan membangun sebuah gereja lokal hingga menjadi sebuah gereja yang besar dan mapan, adalah gembala jemaat. Pada tahap ini pada biasanya mata para pemimpin gereja mulai melotot, mengincar, dan mencari-cari alasan dan cara untuk mengusik gembala jemaat. Pemimpin atau organisasi tidak memiliki andil apa-apa dalam pertumbuhan dan perkembangan pelayanan gembala-gembala jemaat. Sebaliknya, gembala-gembala jemaat memiliki andil besar dalam menghidupi organisasi dan yang membiayai para pemimpin. Setiap bulan gembala-gembala jemaat memnyerahkan uang kepada organisasi yang kemudian digunakan oleh pimpinan organisasi. Adakah timbal balik yang memadai dari pimpinan atau dari organisasi kepada gembala-gembala jemaat. Gembala-gembala jemaat berada di ladang pelayanannya sudah puluhan tahun. Mereka bahkan sudah beranak cucu di sana. Sedangkan pemimpin organisasi baru dan atau hanya 5 atau 10 tahun menjadi pemimpin. Sangatlah tidak beretika bahkan tidak manusiawi bila pemimpin yang bertugas hanya 5 sampai 10 tahun, tetapi serta merta mengusik dengan cara menggusur gembala jemaat bersama anak cucunya dari tanah pelayanan mereka. Gembala-gembala jemaat merintis, mengembangkan, dan membesarkan gereja-gereja lokal dengan susah payah, kerja keras, berjerih lelah, dan sudah mengorbankan harta benda berupa aset-aset keluarganya. Mengusik dan atau menggusur gembala jemaat dan anak cucu dari ladang yang dirintis dengan susah paya dan dibesarkan dengan kerja keras dan pengorbanan, sama dengan merampas dan merampok hak dan harta milik keluarga gembala jemaat. Di ladang-ladang yang dirintis itu, gembala-gembala jemaat telah meneteskan banyak air mata dan keringat. Jika saat ini anda melihat ladang-ladang gembala jemaat subur, hijau, dan berbuah lebat, itu karena gembala-gembala jemaat sudah puluhan tahun, siang malam menyirami pelayanan mereka denga air mata dan keringat. Mengusik dan menggusur gembala-gembala jemaat dari lahan-lahan pelayanan lalu mengganti dengan orang lain, itu sama dengan ‘menari-nari di atas penderitaan orang lain’ Kini kiranya sudah menjadi jelas bagi para pembaca bagaimana dan dimana seharusnya menerapkan secara tepat teks kitab suci: “Jangan mengusik orang yang dipilih Tuhan”. Gembala-gembala jemaat adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih Allah dengan cara yang unik. Gembala-gembala jemaat adalah orang-orang yang DIPILIH secara spesifik oleh Tuhan. Posisi atau kedudukan sebagai gembala jemaat diberikan kepada orang-orang yang dipanggil dan dipilih Allah secara khusus. JANGAN MENGUSIK GEMBALA-GEMBALA JEMAAT, karena mereka adalah orang-orang yang dipanggil, dipilih, dan diurapi oleh Allah untuk tugas dan pelayanan khusus. Siapa pun dan apapun Anda, jangan mengusik gembala-gembala jemaat, karena mereka adalah orang-orang yang dipilih Allah. Allah yang menjadi pembela dan pelindung mereka. JANGAN MENGUSIK POSISI GEMBALA-GEMBALA JEMAAT, hai para pemimpin organisasi gereja-gereja Pantekosta, karena mereka adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih Allah. Allah-lah yang menempatkan para gembala di posisinya sebagai gembala jemaat, BUKAN pemimpin dan bukan pula organisasi. Dan ingat! Anda bisa duduk di posisi pemimpin organisasi saat ini karena para gembala memberi posisi itu kepada Anda, tetapi pada suatu nanti hari mereka akan mengambil kembali. JANGAN MENGUSIK DENGAN MENGGUSUR GEMBALA-GEMBALA JEMAAT, hai para pemimpin gereja, karena mereka adalah orang yang dipilih Allah. Allah-lah yang menjamin kehidupan mereka, bukan pemimpin organisasi dan juga bukan organisasi. Apapun posisi Anda di dalam organisasi saat ini, jangan pernah mengusik gembala jemaat. Ingatlah bahwa manusia yang mengangkat Anda ke posisi itu, dan manusia pula yang akan menurunkan Anda dari posisi itu. VI. BANGKITLAH HAI GEMBALA-GEMBALA JEMAAT! Anda adalah orang yang dipanggil dan dipilih oleh Allah secara spesifik untuk rencana dan tujuan spesifik pula. Allah-lah yang telah memposisikan Anda sebagai gembala jemaat, bukan pimpinan dan bukan pula organisasi. Bangkitkanlah kepercayaan diri Anda sebagai orang yang dipilih Allah. Posisi Anda sebagai gembala jemaat sangat penting dan terhormat karena Allah yang memilih dan menempatkan Anda di sana. Bangkitlah dan jangan pernah merasa kecil atau merasa rendah diri di hadapan siapapun, termasuk di depan para pemimpin Anda, sebab anda menjadi gembala jemaat bukan karena mereka, dan hidup Anda tidak bergantung pada mereka. Bangkitlah hai gembala-gembala jemaat! Anda adalah pejuang-pejuang sejati, tulus, tanpa pamrih, yang rela mengorbankan segalanya demi membangun sebuah gereja. Berjuanglah terus untuk pertahankan setiap jengkal tanah atau ladang pelayanan yang Anda sudah bangun dengan susah payah, dengan tetesan keringan dan air mata serta pengorbanan, jika perlu sampai tetes darah terakhir Bangkitlah hai kawan-kawan, gembala-gembala jemaat! Anda sekalian adalah orang-orang yang paling berjasa di dalam organisasi ini. Tanpa perjuangan Anda, organisasi ini tidak akan pernah ada. Dan tanpa keberadaan Anda sebagai gembala jemaat, tak akan pernah ada seorang pemimpin di dalam organisasi ini……☆☆☆☆☆☆ (ST. Jogja) Bagikan Post navigation RINTIHAN SEJARAH TRAGEDI NATAL DI BETLEHEM