Oleh: Pdt. Dr. Frans Setyadi M., M.Th. Pendahuluan Persoalan pasar atau apa yang umum orang sebut sebagai bisnis, adalah salah satu bentuk interaksi yang cukup tua terjadi di dalam sejarah manusia. Pasar dibutuhkan oleh manusia. Berbagai aktifitas yang dilakukan di dalamnya menolong manusia untuk dapat memaksimalkan kualitas kehidupannya. Walau demikian, pandangan manusia atas dunia pasar atau bisnis tidaklah seindah manfaat yang didapat darinya. Mencermati berbagai kondisi yang terjadi dalam dunia pasar, tidak jarang orang memiliki pandangan miring atas dunia pasar tersebut. Dalam kesadaran adanya stereotipe negatif atas dunia pasar, nampaknya menghadirkan ketidak-sinambungan antara dunia pasar, kewirausahaan, dan teologi atau gereja. Namun benarkah demikian? Dalam hubungannya dengan tujuan pertemuan kali ini. Saya justru ingin memperjelas kedudukan dunia pasar, melalui beberapa kajian Paul Stevens[1] dalam bukunya yang berjudul “God’s Business,” bahwa dunia pasar pun adalah dunia yang layak diapresiasi dan dipahami sebagai dunia di mana panggilan Allah dapat ditemukan di dalamnya (teologi dunia pasar). Dari situ kita dapat melihat peluang di dalamnya untuk dapat memperluas jangkauan pelayanan umat (gereja) di dalam rangka menghadirkan shalom Allah di dalam dunia, khususnya melalui dunia pasar dengan nilai-nilai yang benar (spiritualitas dunia pasar). Teologi Dunia Pasar Dalam bagian ini akan ditampilkan secara ringkas persoalan dalam memandang dunia pasar dan bagaimana memperjelas situasi tersebut secara objektif. 1. Pandangan negatif atas dunia pasar Berbagai pandangan negatif terhadap dunia pasar yang seringkali dianggap provan dan karenanya dipahami sebagai dunia yang jahat, bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ada beberapa sebab yang dapat dirujuk antara lain adalah pengaruh filsafat Yunani dalam perkembangan pemikiran Kristen di Abad Pertengahan mempengaruhi pemikiran dualisme dan tingkatan spiritualitas.[2] Hal ini pada gilirannya mempengaruhi cara pandang gereja terhadap dunia pasar, sehingga seakan-akan ada jurang besar antara dunia pasar dan konsep tentang spiritualitas. Dalam sekian rentang waktu kondisi ini begitu kuat terpelihara, sampai adanya kesadaran baru di dalam memahami dunia pasar. Kesadaran itu memunculkan pertanyaan benarkah dunia pasar adalah sebuah dunia yang tidak layak dihidupi oleh mereka yang sungguh-sungguh mau menghidupi konsep spiritualitas yang benar? 2. Panggilan Allah dalam dunia pasar Seringkali istilah “panggilan” dipahami bagi mereka yang mengemban tugas tanggung jawab di dalam pelayanan keimamatan atau mereka yang mengambil bagian di dalam pelayanan gereja secara penuh waktu. Tetapi jika kita memeriksa teks Alkitab istilah “panggilan” adalah istilah yang dikenakan bagi setiap manusia (bdk. Mrk. 3:14; I Kor. 1:9; Rm. 8:28). Pada bagian pertama dalam panggilan-Nya, Allah memanggil setiap orang untuk masuk di dalam realitas keselamatan-Nya. Pada bagian kedua Allah mempersiapkan setiap mereka yang dipanggil untuk menjadi saksi-saksi-Nya di dalam proses penyelamatan dan pemulihan yang Allah kerjakan atas dunia ini dalam seluruh aspeknya. Walaupun tidak ada teks-teks Alkitab yang secara langsung berbicara mengenai panggilan Allah di dalam suatu pekerjaan kemasyarakatan, namun Alkitab menuliskan banyak alasan yang kuat untuk mendukung pendapat bahwa dunia pasar adalah bagian dari panggilan Allah kepada sebagian orang.[3] Beberapa pandangan yang dapat mendasari pandangan bahwa di dalam dunia pasar Allah pun memanggil sebagian orang sebagai bagian dari karya dan rencana-Nya atas manusia di antaranya adalah sebagai berikut: Dipanggil untuk mengembangkan potensi ciptaan melalui mandat budaya. (bdk. Kej. 2:15-19) → manusia ditempatkan sebagai co-creativity atau sub- creativity dalam proses penciptaan secara terus menerus. Dipanggil untuk meningkatkan dan memperbaiki kehidupan manusia. Dalam Perjanjian Lama, rencana penebusan Allah melalui Israel terkandung di dalamnya penatalayanan tanah, hukum ekonomi dan pengembangan ciptaan dan sebuah langkah untuk memulihkan kembali suatu langkah penyelarasan terhadap tujuan-tujuan ekonomis awal dari Allah dalam ciptaan (shalom). Yesus menunjukkan bahwa proses meningkatkan dan memperbaiki kehidupan manusia melalui karya penebusan. Richard Higginson menunjukkan bahwa para pelaku bisnis berpeluang untuk melakukan fungsi penebusan melalui pelayanan dengan kerendahan hati, melalui penciptaan awal yang baru, menanggung resiko dan memikul tanggung jawab. Bentuk nyata dari semangat untuk meningkatkan dan memperbaiki kehidupan manusia dapat dilakukan dengan menghadirkan: Pasar atau bisnis sebagai arena kesaksian (kerygmatik): akses, konteks berhubungan, waktu bebas, isu-isu dan nilai-nilai hakiki, berpusat pada hidup, kedekatan dengan orang-orang yang kekurangan dan kesusahan. Pasar atau bisnis sebagai sarana pelayanan sosial (diakonik). Bukan sekadar Corporate Social Responsibility (CSR) tapi beberapa perusahaan multinasional telah menjadikan pelayanan sosial sebagai bagian dari praktik dalam berusaha. Pasar atau bisnis sebagai sebuah sarana pembangunan komunitas (koinonik). 3. Spiritualitas dunia pasar Ketika berbicara tentang spiritualitas Kristen maka sseseorang sebenarnya sedang bicara tentang bagaimana cara hidup murid-murid Kristus. Spiritualitas Alkitabiah ditandai dengan masuknya Allah di tengah-tengah kehidupan, sehingga setiap orang percaya memiliki hubungan dengan Allah. Bagaimana hal itu diwujudkan dalam dunia pasar atau bisnis? Beberapa prinsip penting yang dapat dilihat dalam hubungan spiritualitas Kristen dengan dunia pasar dan bisnis yaitu: Monoloyalitas Membangun integritas Menjadi kreatif (kewirausahaan) Membangun sikap mementingkan diri secara tepat Penutup Allah memanggil setiap manusia untuk masuk dalam keselamatan dan tugas pengutusan dalam rangka restorasi kehidupan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Sasaran Allah adalah dunia dan sistem yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya gereja perlu mempersiapkan umat untuk dapat bersaksi di dalam dunia – termasuk dunia pasar atau bisnis – dan memaksimalkan mereka untuk dapat menghadirkan shalom Allah dalam dunia aktual mereka masing. [1] Paul Stevens, God’s Business (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2006) [2] Paul Steven, hlm 55-57 [3] Paul Stevens, hlm. 29 Bagikan Post navigation MEMAHAMI KARYA KENOSIS YESUS KRISTUS: SEBUAH PRINSIP PELAYANAN PASTORAL GEREJAWI (Tinjauan Singkat Filipi 2:6-7)