HERMENEUTIKA DALAM TEOLOGI

 ( Dr. Kevin T. Rey, M.Th )

PENDAHULUAN

Segala sesuatu yang ada – yang tiadapun itu ada – berkaitan dengan proses pemaknaan. Proses pemaknaan berkaitan dengan simbol-simbol yang mewakilinya. Contohnya, simbol gambar meja, kursi, mobil, bintang, salib, darah dan sebagainya. Simbol tersebut diciptakan, dimaknai dan dipahami melalui penggunaan suatu kata/verbal yang diterima dalam suatu kesepakatan bersama atau komunitas. Simbol itu ada dan terikat oleh akal budi manusia yang meliputi kemampuan berpikir, daya cipta, daya rasa dan daya karsa. Suatu kata tidak lepas dari bahasa manusia dan bahasa manusia manusia terikat dengan perubahan karena di dunia ini tidak ada yang bebas dari perubahan. Artinya, segala hal dalam dunia ini termasuk bahasa tidak lepas dari apa yang dinamakan perubahan. Adanya perubahan menunjukkan bahwa dunia ini berada dalam dimensi ruang dan waktu, dunia dan peradabannya ada dalam suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik. Simbol akan tetap menjadi simbol, jika tidak ada kata atau kalimat yang menjelaskannya. Simbol tergantung pada bahasa dan bahasa muncul karena ada suatu komunitas yang menggunakannya dalam berelasi dan berkomunikasi. “Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa ini bisa terjadi karena adanya kemampuan untuk menciptakan lambang (simbol): bunyi-bunyi melambangkan sesuatu (sekarang diketahui, bunyi itu adalah lambang dan ‘sesuatu’ itu bisa makna, maksud, gagasan, konsep dan sebagainya) (Sumarsono, Filsafat Bahasa, 13).” Hal itu berarti segala hal yang ada di dunia ini merupakan rangkaian simbol-simbol yang harus dimaknai melalui bahasa manusia. Bahasa manusia bukan sebagai objek mutlak melainkan alat untuk memperoleh penjelasan dan kejelasan yang terikat oleh perubahan.

Kalimat atau rangkaian kata dalam suatu bahasa akan dapat dipahami jika melalui interpretasi atau penafsiran/hermeneutika. Manusia dalam memahami objek tidak mungkin lepas dari suatu kalimat/kata yang memberikan makna pada objek itu dan faktanya, objek itu memiliki makna dalam dirinya sendiri yang manusia tidak dapat memahaminya jika bukan manusia sendiri yang memaknainya (memberi makna pada objek). Objek yang diamati untuk dapat dipahami tidak lepas dari aksi-reaksi manusia sehingga dalam konteks ini manusia dalam keadaan dinamis dan berproses terus menerus. Dinamisasi manusia berkaitan dengan suatu kebutuhan dan kebutuhan membutuhkan tindakan pemenuhan dalam kerangka konsepsional dan metodologis.

Objek yang ada di dunia ini dipahami melalui kata – bahasa manusia – yang ditata dengan sistematisasi tertentu. Objek yang dipahami melalui bahasa membutuhkan hermeneutika – metode memahami melalui seni tafsir – untuk mendapatkan makna dan arti yang sesungguhnya. Pernyataan terhadap objek simbol dikatakan benar jika sesuai dengan analisis definisi (batasan kata) dan sintesis empiris (pengalaman makna). Bahasa adalah tanda atau lambang yang melambangkan objek atau sesuatu dan sesuatu itu adalah makna. Kata merupakan unsur bahasa yang yang melambangkan suatu konsep/gagasan/objek yang dari padanya si pembaca memahami maksud kata atau teks itu.

Dalam konteks teologi, pemahaman yang benar diperoleh melalui pemaknaan yang benar. Artinya, bahasa yang menghasilkan makna melalui proses hermeneutika – seni tafsir – tidak lepas dari suatu persepsi berdasarkan analisis definisi dan sintesis empiris. Teologi berkaitan pemaknaan terhadap Teos = Allah dan logos = firman/ penyataan Allah. Hal itu berarti, bahasa dalam hermeneutik teologi sebagai alat manusia untuk memahami hal-hal spiritual dalam dimensi terbatas serta membahasakannya dalam implementasi masa kini.

Teologi membutuhkan hermeneutika – seni tafsir – karena segala yang berkaitan dengan Allah, manusia memahaminya hanya melalui analogi-analogi yang disampaikan melalui bahasa manusia. Pemaknaan teologis tidak dapat memenjarakan Allah dalam bahasa manusia. Allah tidak dapat dibatasi oleh batasan-batasan definisi atau istilah yang semuanya bersifat terbatas dan terikat oleh proses perubahan. Dalam hal ini, Allah tetap menjadi Allah yang dalam satu sisi Ia adalah Allah yang misterion dan disisi yang lain Ia adalah Allah yang dapat dipahami. Ditegaskan bahwa bahasa manusia hanya alat untuk manusia dapat memahami Allah sepanjang Allah memampukan manusia (umat Allah) memahami-Nya. Bahasa manusia untuk memahami Allah/teos  bukan menjadi alasan untuk Allah hanya dapat dimaknai melalui kata atau bahasa tertentu. Allah mengatasi segala hal termasuk bahasa manusia.

FOKUS BAHASAN

Hermeneutika merupakan ilmu tafsir yang bertujuan untuk mendapatkan makna kata penulis bagi pembaca atau penafsir melalui metode historical. Istilah kata hermeneuein memiliki arti menafsir. Menafsir berkaitan dengan mengerti dan  memahami. Artinya, menafsir terikat oleh bahasa (lisan/tulisan) yang digunakan suatu komunitas atau masyarakat tertentu untuk mendapatkan kejelasan makna. “Bahasa merupakan sarana dalam dan lewat mana kita dapat hidup dan mengetahui dunia kita. Bahasa menjadi pengantar proses pemahaman (Mispan Indarjo, Driyarkara 3/XX, 5)”. Hal itu berarti hermeneutika berusaha menerjemahkan bahasa penulis ke dalam bahasa pembaca/penafsir sehingga memperoleh makna yang benar dan tepat atau mendekati makna teks yang dimaksud.

Secara umum hermeneutika merupakan suatu process pemahaman – membawa sesuatu untuk dipahami – yang berkaitan dengan bahasa sebagai media hermeneutika. Arti umum hermeneutika adalah mengungkapkan, menjelaskan, menerjemahkan/to interpret. Hermeneutika merupakan process penafsiran yang berorientasi pada kejelasan, yang dulu kabur dan gelap maknanya menjadi sesuatu yang jelas dan dapat dipahami.

Hermeneutika merupakan process pemahaman yang dalamnya terjadi dialog. Dialog antara teks/tulisan dan pembaca/penafsir. Teks adalah suatu pernyataan yang membawa berita atau masalah yang penulis hadapi, selanjutnya pembaca teks berusaha untuk mengerti dan memahami teks itu. Dialog antara pembaca dan teks harus dilakukan dengan hati-hati, karena pembaca berhadapan dengan tulisan baku yang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Dalam dialog, pembaca/penafsir menghidupkan teks sehingga menghasilkan makna yang kontekstual yang tidak lepas dari makna teks baku. Teks itu bermakna, jika persepsi pembaca/penafsir bergabung dengan persepsi teks yang menjadi objek tafsiran. Persepsi berkaitan dengan tanggapan atau olah pikiran/akal budi. Teks dipahami melalui persepsi sehingga dapat dikatakan bahwa segala hal yang berkaitan dengan bahasa dan interpretasinya terbatas dalam suatu persepsi. Persepsi berkaitan dengan subjektivitas sehingga tidak ada kemutlakkan. Sebelum dialog, pembaca telah memiliki persepsi selanjutnya masuk dalam persepsi teks. Persepsi pembaca dan persepsi teks diolah selanjutnya menghasilkan pemahaman baru dalam perspektif pembaca/penafsir.

Hal tersebut di atas merupakan deskripsi umum tentang hermeneutika yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Pada dasarnya manusia adalah manusia yang menafsir atau melakukan interpretasi dengan menggunakan bahasa sehingga diperoleh suatu kejelasan tentang suatu hal yang belum jelas atau masih kabur.

Dalam bidang teologi yang berkaitan erat dengan bahasa manusia, hermeneutika sangat diperlukan. Teologi berbicara tentang penyataan Allah yang tertulis dalam dimensi ruang dan waktu dan memiliki nilai histories membutuhkan konsep hermeneutika yang dapat memahami teks-teks dalam Alkitab secara kontekstual. Manusia tidak dapat memahami Allah sesuai dengan keberadaan-Nya sebagai Allah, namun demikian Allah telah menyatakan Diri-Nya melalui penyataan tertulis yang terjadi dalam sejarah kehidupan manusia untuk manusia dapat memahami Allah dengan benar sesuai dengan maksud Allah dalam penyataan-Nya.

Hermeneutika adalah teori dari exegesa sedangkan exegesa merupakan praktik dari hermeneutika. Alkitab harus ditafsirkan karena telah melalui suatu process terjemahan yang disesuaikan pada kebutuhan pemaknaan jamannya. Tidak ada suatu tafsiran yang benar 100%, absolute perception. Tafsiran berhubungan dengan makna kata (semantic: ilmu tentang kalimat, semiotic: ilmu tentang tanda) dan sifatnya bukan permanen sebaliknya akan selalu disesuaikan dengan konteks masanya namun tidak meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Alkitab yang disepakati sebagai firman Allah yang tertulis. Hermeneutika harus dilakukan berdasarkan metode Gramatikal sintaksis dan historical context dari Alkitab. Terjemahan Alkitab tidak sempurna karena manusia yang menerjemahkan tidak sempurna. Bahasa Alkitab meliputi antropomorfis dan antropofatis.

Berkaitan dengan bahasa/kata,  kata-kata yang kita ucapkan merupakan symbol dari pengalaman mental kita sedangkan kata-kata yang tertulis adalah symbol dari kata yang diucapkan. Adanya terjemahan berarti telah terjadi penafsiran/interpretasi kata/text (telah masuk wilayah rasio dan penyelesaiannya melalui metode ilmiah dan asas penalaran). Hasil terjemahan bukan hasil baku karena tetap terikat oleh perubahan. Penafsiran teks masa lalu tidak dapat ditafsirkan dari sudut pandang masa kini/modern.

Penafsiran Alkitab terikat oleh kaidah-kaidah dan akidah-akidat yang ada, sehingga menghasilkan tafsiran yang benar. Process penafsiran teks Alkitab menggunakan alat Tanya: Where, what, who, when, why and how. Penafsiran teks berkaitan dengan segala hal yang terkait dengan tulisan (secara politik, ekonomi, tradisi kehidupan pada masa teks tertulis).

Prinsip hermeneutic adalah: memahami teks (kiasan/prinsip), konteks: 5 ayat ke atas dan ke bawah), memahami latar belakang sejarah, budaya/tradisi masa lalu saat teks ditulis, memahami hubungan PL dan PB. Selanjutnya aspek dasar dari hermeneutika adalah analogy of faith and sacra Scriptuta sui interpres: Alkitab menafsirkan dirinya sendiri. Perlu diperhatikan bahwa Allah tidak akan dan tidak pernah menggantungkan otoritas/wewenang firman-Nya pada kesimpulan para ahli tafsir. Otoritas kebenaran hanya pada Allah, manusia hanya diijinkan untuk menafsirkan FA.

Secara teologis, hermeneutika adalah media yang digunakan untuk memahami Allah dalam bahasa manusia dan bukan menjadi alat untuk memenjarakan Allah dalam persepsi penafsir yang terbatas yang berusaha untuk menyampaikan makna teks pada masa kini. Segala hal yang berkaitan dengan hermeneutika harus menghasilkan tindakan yang memuliakan Allah bukan sebaliknya yang menjadikan pembaca sulit untuk memahami.

 

Sumber:

  1. W. Poespoprodjo, Hermeneutika, Pustaka Setia Bandung,2004.
  2. Palmer, Hermeneutika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004.
  3. Sumaryono, Hermeneutika, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

 

 

 

 

 

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *