FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN DAN KEHANCURAN KEPEMIMPINAN ORGANISASI. Oleh: Pdt. Stephen Hanny Pongoh, S.E., M.B.A. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, keberhasilan sebuah organisasi sangatlah ditentukan oleh kualitas dari kepemimpinan yang ada. Kepemimpinan dalam hal ini tidaklah menunjuk seorang pemimpin secara spesifik, melainkan lebih pada pengertian suatu kelompok para pemimpin secara kolektif. Pakar manajemen dan kepemimpinan John C. Maxwell dalam bukunya ”Developing the Leaders Within You 2.0” mendefinisikan kepemimpinan adalah suatu Pengaruh[i] karena memimpin pada dasarnya adalah upaya untuk mempengaruhi, sehingga Kepemimpinan pada hakekatnya merupakan Kekuatan untuk mempengaruhi, atau dapat dikatakan sebagai kekuatan yang mengendalikan jalannya organisasi. Berdasarkan definisi ini maka jelaslah bahwa kepemimpinan merupakan faktor penentu dari keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi dalam mencapai tujuan sesuai yang digariskan dalam visi dan misinya Permasalahannya adalah, bagaimana kita dapat mengevaluasi apakah suatu kepemimpinan itu merupakan kepemimpinan yang baik atau buruk? Seorang konsultan kepemimpinan terkemuka di USA Lolly Daskal, dalam blognya menuliskan tentang adanya 13 faktor yang mematikan Kepemimpinan yang hebat[ii]. Mengacu pada tulisan tersebut dan ditambah dengan berbagai informasi dari sumber-sumber yang lain, berikut ini adalah beberapa faktor yang menentukan apakah suatu kepemimpinan merupakan kepemimpinan yang baik yang akan membawa keberhasilan bagi organisasi, ataukah merupakan kepemimpinan yang buruk atau gagal yang pada gilirannya akan membawa kehancuran dari organisasi. Kejujuran – Integritas. John Maxwell mengatakan bahwa Integritas merupakan bahan baku yang paling penting dari Kepemimpinan, sementara Jenderal berbintang lima USA, Dwight Eisenhower meneguhkan arti penting integritas dengan berkata: “The supreme quality for leadership is unquestionably INTEGRITY” (Kualitas terpeting bagi kepemimpinan tak diragukan lagi adalah INTEGRITAS). Berpijak pada definisi bahwa memimpin adalah mempengaruhi, maka untuk dapat mempengaruhi seseorang, kita harus terlebih dahulu mendapatkan kepercayaan atau TRUST dari orang yang akan kita pengaruhi tersebut. Dan untuk mendapatkan kepercayaan tersebut, kita harus mampu membuktikan bahwa apa yang kita katakan sesuai dengan apa yang kita lakukan atau apa yang kita ucapkan dapat dibuktikan kebenarannya atau sesuai fakta yang ada. Tidak ada orang yang mau percaya, apa lagi mempercayakan diri, kepada seorang pemimpin yang hanya bermulut besar tanpa bukti perbuatan (No Action Talk Only), dan ini berarti orang tersebut tidak akan mau dipengaruhi oleh si pemimpin tersebut. Pemimpin yang tidak atau kurang berintegritas tidak akan dapat menjadi pemimpin yang efektif, bahkan dalam jangka Panjang justru bisa menyebabkan hancurnya organisasi karena ketidak-mampuannya menjadi kendali bagi organisasi. Visi. Sebagaimana kita ketahui, visi merupakan pengarah baVgi organisasi, seluruh aktivitas organisasi di arahkan untuk mencapai visi tersebut. Firman Tuhan bahkan berkata bahwa tanpa adanya visi maka organisasi akan menjadi liar dan tak terarah (Amsal 29 :18). Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, maka Visi ini adalah salah satu tolok ukur utama kinerja seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki beban atau visi pribadi yang sama atau sejalan dengan visi organisasi, atau memiliki beban untuk mewujudkan visi dari organisasi, akan menjadi pemimpin yang baik bagi organisasi tersebut, sebaliknya seorang yang menjadi pemimpin, namun tidak memiliki visi yang sama atau sejalan, atau bahkan tidak memiliki visi sama-sekali, akan menjadi pemimpin yang buruk yang akan menghancurkan organisasi. Motivasi. Apa yang menyebabkan seseorang ingin atau mau menjadi seorang pemimpin? Ini adalah pertanyaan yang penting dan harus dijawab karena jawaban atas nya sedikit banyak akan berkaitan dengan keberhasilan ataupun kerusakan dari sebuah epemimpinan dalam korganisasi. Sebagaimana kita ketahui, motivasi adalah penggerak internal dari setiap orang dalam bertindak. Suatu motif yang kuat akan berpengaruh positif pada Tindakan seorang pemimpin, dan yang akan berpengaruh pada organisasi. Namun demikian, perlu dicatat bahwa motif ini bisa berupa sesuatu yang positif atau negatif. Berikut ini beberapa kasus permasalahan motivasional yang sering terjadi antara lain : Tujuan Pribadi. Ada orang ingin menjadi pemimpin untuk mencapai tujuan pribadi. Orang-orang dengan motif semacam ini akan cenderung merusak organisasi, karena ia hanya menjadikan organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya. Balas Dendam. Lolly Daskal menyebutkan beberapa hal lain yang kadang menjadi motif dari seseorang yang ingin menjadi pemimpin, misalnya balas dendam. Orang yang kalah dalam pemilihan sebelumnya kini ingin membalas dendam pada pemenang sebelumnya dan seterusnya. Motif ini kurang baik bagi kepemimpinan karena terlalu dijieperti ini wai oleh emosi pribadi. Demi Posisi/Status Sosial. Motif demi posisi ini berhubungan dengan sifat Kesombongan, kepongahan, atau keangkuhan. Menjadi pemimpin demi posisi ini juga tidaklah sehat bagi organisasi. Namun sayangnya ini justru banyak terjadi, dan menjadi efek sampingan dari sistem demokrasi. Banyaknya orang ingin menjadi pemimpin semata-mata karena prestise kedudukannya, bahkan tanpa berkaca apakah ia memiliki kemampuan yang kualifikasi yang disyaratkan. Orang-orang yang gila jabatan ini akan melakukan apa saja agar bisa duduk dalam kepemimpinan, kalau perlu dengan kekuatan uang, dan penghasutan, atau bahkan negative campaign. Pemimpin yang seperti ini sudah pasti akan menghancurkan organisasi. Masih berkenaan dengan mencari posisi, ada motif lain lagi yaitu Orang semacam ini ingin memimpin an memerintah karena tidak mau dipimpin dan tidak mau bekerja. Kepercayaan Diri (Self Confidence). Kepercayaan Diri sangatlah mutlak diperlukan agar kepemimpinan berhasil. Pemimpin yang percaya diri akan berani menghadapi situasi apapun dan dapat mengambil keputusan yang tepat dan jitu. Untuk menjadi pemimpin yang percaya diri, seseorang harus memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang cukup. Tanpa didukung dengan latar belakang yang memadahi tersebut, maka seorang pemimpin akan selalu dibayangi dengan rasa tidak aman (insecurity) yang tinggi, baik disadari maupun tidak Rasa tidak aman ini selanjutnya bisa menjelma dalam beberapa bentuk yang semuanya akan mempengaruhi kinerjapada organisasi. Tidak Pernah Merasa Puas. Perasaan tidak puas dalam kadar tertentu dapat membuat seseoang menjamudi perfeksionis. Hal ini jika tidak berlebihan bisa bermanfaat pada organisasi. Namun jika berlebihan akan membuat anak-buah bisa menjadi putus asa. Rendah Diri. Perasaan ini dalam banyak hal akan menjelma menjadi sikap merasa tak mampu, atau tak percaya diri. Ini akan membuat kepemimpinan menjadi tidak efektif, sehingga organisasi sulit mengalami kemajuan. Pemimpin yang rendah diri takut dan tidak nyaman bila ada bawahan atau kolea yang berprestasi. Cemburu. Salah satu sikap negatif lain dari rasa tak aman adalah selalu cemburu dengan orang atau organisasi lain. Rasa ini kadang menimbulkan dorongan untuk bersaing secara tak sehat, bahkan bisa menimbulkan dorongan untuk sabotase dan sebagainya. Tidak Menghargai Orang lain. Pemimpin yang merasa tak aman tidak suka melihat anak buah yang menonjol, karena itu akan menyebabkan persaingan internal. Hal tersebut merupakan ancaman bagi kedudukan si pemimpin. Karenanya biasanya pemimpin jenis ini akan menekan orang-orang yang menonjol prestasinya. Favoritisme. Demi menjaga dan mengamankan kedudukannya, maka pemimpin seperti ini dalam menyusun staffnya hanya akan merekrut orang-orang yang disukainya, bahkan kadang tanpa mempedulikan kompetensi dari orang tersebut. Ini nyata-nyata adalah faktor penghancur dari sebuah organisasi. Tidak Berpikir Panjang. Orang yang tidak merasa aman, tidak akan berpikir Panjang ke depan, karena ia ingin semua ada dalam kendalinya, sedangkan masa depan dipenuhi dengan ketidak-pastian. Pemimpin jenis ini selalu hanya berfokus pada jangka pendek saja. Ini sangat membahayakan organisasi. Komunikasi. Salah satu kunci keberhasilan suatu organisasi yang merupakan kumpulan orang adalah kualitas komunikasi di dalamnya. Tanpa didukung dengan komunikasi yang baik, maka keserasian Langkah antar bagian organisasi tidak akan terbentuk. Tanpa adanya system komunikasi yang baik, maka organisasi boleh jadi tersusun secara sistematik, namun tidak mampu berjalan atau bekerja secara sistemik, dan ini akan menghasilkan kinerja yang buruk. Beberapa permasalahan yang terjadi dalam komunikasi internal organisasi adalah: Tidak Saling Menghormati. Kelangkaan rasa saling hormat dalam organisasi akan menyebabkan komunikasi yang patah. Siapapun dalam kedudukan apapun di organisasi harus dapat saling menghormati sehingga bisa saling berkomunikasi dengan lancar. Jika seorang atasan merasa lebih tinggi sehingga tidak mau menhargai atau menghormati bawahan yang berposisi lebih rendah, sebagai bagian dari support system bagi kepemimpinannya, maka apapun yang dikatakan bawahan akan sering diabaikan dan tidak didengar, dan akibatnya bawahan akan merasa tidak puas, dan tidak akan menghormati atasannya pula. Kita bisa melihat dengan jelas manifestasi keadaan ini melalui banyak-nya demo-demo anti kepimpinan, bahkan tuntutan di pengadilan dan sebagainya. Kekakuan (Rigidity) Organisasi adalah kumpulan orang, yang bahkan dalam konsep Kristen merupakan sebuah Organisme. Konsekuensi dari hal ini adalah adanya dinamika dalam setiap aspek aktivitasnya, termasuk dalam juga sistem kepemimpinannya. Keberadaan Dinamika ini menuntut adanya fleksibilitas, khususnya dalam komunikasi. Kekakuan komunikasi akan menjadikan organisasi sebuah mesin atau robot, dan bukan merupakan sebuah organisma yang hidup. Kekakuan ini lebih jauh akan menyebabkan tertutupnya kemungkinan tambahan aspirasi dari anggota, yang membuat setiap bagian dari organisasi merasa sama-sama memiliki organisasi. Tanpa adanya sense of belonging dari anggota, maka pada hakikatnya organisasi itu telah mengalami disintegrasi atau telah secara teknis BUBAR. Demikianlah pemikiran dan analisis penulis kali ini. Kiranya tulisan ini dapat menjadi sebuah cermin dan sarana untuk mengevaluasi kepemimpinan organisasi yang kita ikuti dan kita cintai. [i] Maxwell, John C.. Developing the Leader Within You 2.0. United States, HarperCollins Leadership, 2018. . [ii] Daskal, Lolly. “13 Things Will Kill Great Leadership.” Https://Www.Lollydaskal.Com/Leadership, 27 Sept. 2016, www.lollydaskal.com/leadership/13-things-will-kill-great-leadership/. Accessed 26 Apr. 2023. Bagikan Post navigation GPdI – Pro: Sebuah Perenungan dan Impian. ESENSI KEPEMIMPINAN GEREJA