Kontemplasi Natal 2024

Teks yang bersifat teologis dan cukup populer tentang ‘kelahiran’ Yesus terdapat dalam Injil Yohanes 1:14. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita..” Tetapi di dalam teks tersebut tidak digunakan kata “lahir” melainkan kata “menjadi”. “Firman itu menjadi daging”. Dalam beberapa versi terjemahan Alkitab, terutama KJV, digunakan istilah: “The Word was made Flesh – Firman itu dibuat menjadi daging” – Istilah umum yang lebih sering digunakan adalah “Inkarnasi”, sehingga teks tersebut dapat juga berbunyi: “Firman itu telah berinkarnasi menjadi manusia”.

Matius dan Lukas menceritakan bagaimana proses “Firman menjadi manusia itu”. Baik Matius maupun Lukas, sama-sama meyakini bahwa proses Firman menjadi manusia berawal dari Roh Kudus turun ke atas Maria, lalu Maria mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yesus.

Apapun istilahnya, tetapi esensi “Firman Menjadi Manusia” atau INKARNASI, adalah tindakan Allah yang didorong oleh kasih-Nya yang besar untuk mengangkat martabat dan menyelamatkan manusia. Di dalam rangka mengenang, merayakan, dan menyambut peristiwa besar yang kita sebut NATAL pada tahun 2024 ini, kiranya kita perlu melakukan kontemplasi untuk menghayati kembali spirit dan pesan-pesan moral yang disampaikan Allah melalui Inkarnasi Anak-Nya yang tunggal itu.

1. SOLIDARITAS SOSIAL

Dari perspektif teologis, manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, mengalami keterpisahan dari Tuhan. Terdapat jarak antara manusia dengan Allah. Manusia berdosa di satu sisi, dan di sisi lain Allah yang Mahasuci. Walaupun demikian, Allah tidak ingin ada jarak antara diri-Nya dengan manusia, karena bagaimanapun, manusia adalah ciptaan Allah yang di dalam dirinya tetap ada citra Allah. Oleh karena itu, Allah tetap memiliki rasa solidaritas atau setia kawan terhadap manusia.

“Firman menjadi Manusia” atau Inkarnasi, adalah tindakan solidaritas, atau ungkapan rasa setia kawan Allah terhadap manusia yang tidak berdaya terhadap situasi dan kondisi hidup yang mendera dirinya. Di bagian lain, Yohanes menjelaskan bahwa “Inkarnasi” itu  adalah ungkapan betapa besarnya kasih Allah terhadap manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Dia berikan Anak-Nya yang tunggal”.

Dengan inkarnasi, Allah menunjukkan rasa solidaritas-Nya yang bukan hanya sebatas perasaan-perasaan empati yang senti mentil, tetapi suatu pengorbanan diri-Nya, yaitu menyerahkan anak-Nya yang tunggal. Sang Firman yang telah berinkarnasi menjadi sosok Yesus itu kemudian menjelaskan bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang rela menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Sayangnya fenomena-fenomena perayaan Natal dari tahun ke tahun tampak semakin jauh dari penghayatan spirit solidaritas Allah. Perayaan-perayaan natal lebih terkesan sebagai event-event SHOW of SUCCESS, atau seperti ajang kompetisi Fashion, dan show kemewahan.  Ganti dari menjadikan natal sebagai saat untuk menunjukkan solidaritas atau setia kawan terhadap sesama, para pendeta yang sudah mapan justru menjadikan momen natal sebagai saat-saat untuk memuaskan nafsu hedonisme dengan pesta-pesta pora, sementara di luar sana ada banyak sesama pendeta yang, jangankan berpesta atau membeli baju-baju baru di hari Natal ini, untuk membeli beras pun seringkali mereka tidak mampu. Akhirnya mereka hanya bisa ‘menonton’ bagaimana komunitas-komunitas pendeta ‘the haves’ merayakan Natal dari restoran ke restoran, atau dari hotel ke hotel lainnya. Spirit solidaritas sosial dari golongan pendeta kaya terhadap sesama pendeta pedesaan yang miskin, kini sudah langka, bahkan mungkin sudah punah.

2. SEBUAH PENGORBANAN

Firman menjadi manusia bukanlah sebuah proses yang ringan dan mudah, bukan pula sekedar perubahan bentuk dari Logos (idea) menjadi daging. Inkarnasi adalah sebuah penanggalan seluruh eksistensi Sang Ilahi untuk masuk ke dalam eksistensi manusia serta menjadi manusia real seutuhnya. Dan ini menyangkut masalah mental atau harga diri.

Disebut sebagai pengorbanan karena peristiwa tersebut menyangkut perubahan eksistensial sang Firman secara menyeluruh. Sang Firman yang adalah Allah dengan segala kemuliaan dan kebesaran-Nya, harus turun dari takhta-Nya untuk masuk ke dalam dunia menjadi sederajat dengan semua manusia. Anak Allah harus menjelma menjadi anak manusia dalam artian manusia yang sesungguhnya. Yang tak terbatas menjadi terbatas dalam satu tubuh manusia dengan sifat-sifat kefanaan. Yang berkuasa mutlak menjadi manusia yang harus tunduk pada aturan-aturan yang dibuat manusia.

Selanjutnya, sang Firman yang adalah Pencipta dan pemiliki alam semesta menjadi manusia yang miskin papa. Sedemikian miskinnya sehingga untuk kelahiran-Nya pun hanya bisa di kandang domba. Sang pencipta dan pemilik alam semesta, tetapi menjadi miskin sehingga bagi-Nya ‘tidak ada tempat untuk meletakkan kepala’. Dia Yang tidak mengenal dosa dijadikan dosa demi dan karena orang berdosa. Klimaks dari pengorbanan itu adalah ‘Firman yang telah menjadi Manusia itu, akhirnya harus mati digantung di kayu salib sebagai korban untuk dosa-dosa manusia.

@Berkorban atau Mengorbankan!
Fenomena di dalam gereja kita saat ini adalah, spirit berkorban, telah luntur bahkan sudah lenyap. Pemimpin-pemimpin yang mau berkorban untuk kemajuan organisasi atau berkorban demi mengangkat orang lain, sudah sangat langka. Sebaliknya, spirit AJI MUMPUNG justru semakin membara dan telah menjalar dari pusat sampai ke daerah-daerah. Mumpung berkuasa dan punya posisi, mumpung ada kesempatan, dan mumpung bawahan tidak bisa berbuat apa-apa, para pemimpin bertindak sesukanya. Dengan spirit aji mumpung para pemangku kekuasaan berlomba-lomba untuk mengambil keuntungan-keuntungan dari organisasi dengan memanfaatkan jabatan, bahkan mereka tidak segan-segan mengorbankan orang lain demi memuaskan hasrat dan nafsu kekuasaan.
Ganti daripada menghidupkan spirit berkorban, justru yang sedang membara saat ini adalah spirit “mengorbankan” orang lain. Pada satu sisi, para pemegang kekuasaan sering mencari-cari alasan untuk mengorbankan pihak-pihak yang mengkritisi kepemimpinan, atau merekayasa suatu masalah demi menciptakan sebuah alasan agar bisa “mengorbankan” orang lain. Di sisi lain, mereka (para pemimpin) berusaha menutupi kesalahan, dosa, dan kejahatan mereka dengan cara memanipulasi konstitusi sedemikian rupa untuk dijadikan alasan mengorbankan sesama pendeta. Dan korbanpun telah berjatuhan.

Sesuai data sementara dan informasi dari beberapa daerah, terdapat paling sedikit 62 gembala bersama gereja-gereja lokal yang terpaksa pindah ke organisasi lain. Mereka menjadi korban kepentingan kekuasaan. Para korban tersebut tersebar di berbagai daerah antara lain: di Maluku Utara, Sulteng, Kaltim, Kalbar, Sumut, Jateng, Banten, Sumsel, Bali, dst. Jika tiap gereja lokal itu memiliki anggota rata-rata 50 jiwa, maka total “korban” kekuasaan selama hampir 10 tahun adalah 3100 jiwa.

3. KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Ia adalah Sang Pencipta alam semesta. Sebagai Allah dan Pencipta, Sang Firman berdaulat mutlak atas alam semesta. Sebelum menjadi manusia, sang Firman yang adalah Allah, duduk di takhtanya Ilahi dan menerima serta menikmati pemujaan, pangagungan, dan penyembahan dari alam semesta, bahkan Surga pun tunduk menyembah Dia.

Sampai tiba suatu masa ketika Sang Firman KELUAR DARI ZONA NYAMAN dengan cara menjadi sama dengan manusia. Ia turun dari takhta kemuliaan dan keagungan-Nya untuk masuk ke dalam alam manusia, menjadi bagian dari manusia, dan mengalami serta merasakan semua pengalaman hidup manusia. Paulus menyebut tindakan ‘keluar dari zona nyaman’ ini sebagai pengosongan diri Allah. “Walaupun Ia dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

Tindakan Sang Firman yang keluar dari ZONA NYAMAN disebut oleh Paulus sebagai tindakan mengosongkan diri. Dengan keluar dari zona nyaman, Sang Firman melepaskan sifat-sifat mutlak keallahan-Nya yaitu: mahakuasa, mahahadir, tak terbatas, dan sempurna. Ia juga melepaskan hak-hak mutlak-Nya sebagai Allah yaitu: dipuja, disembah, dan berkendak bebas mutlak. Sang Firman kemudian mengenakan pada diri-Nya semua sifat kemanusiaan, dan merasakan semua pengalaman manusia, bahkan sampai mati di kayu salib.

Secara idealis, para pendeta atau rohaniawan selalu menyuarakan dari mimbar-mimbar gereja, terutama pada momen-momen perayaan natal, bahwa pemimpin-pemimpin gereja harus pekeluar dari zona nyaman. Ungkapan ‘keluar dari zona nyaman” dianggap sebagai sebuah pernyataan yang KEREN sehingga hampir setiap saat kita mendengar pendeta atau pemimpin gereja mengungkapkannya dari mimbar-mimbar gereja atau dalam percakapan-percakapan tentang kepemimpinan. Namun fakta-fakta di lapangan sangat ironis, karena yang terjadi atau yang dilakukan justru sebaliknya.

Menciptakan Zona Nyaman
Idealnya para pemimpin rohani atau rohaniawan ‘keluar dari zona nyaman’, sebagaimana Fiman menjadi manusia, akan tetapi tidak jarang yang dilakukan oleh kaum rohaniawan atau para pemimpin rohani justru MENCIPTAKAN zona nyaman bagi dirinya. Orang-orang yang berwawasan luas biasanya tidak diberi peluang ikut berperan dalam kepemimpinan, karena pemimpin merasa kewibawaannya terancam bila ada anggota atau bawahan yang memiliki lebih banyak ide atau gagasan kreatif dan berkualitas daripada si pemimpin itu sendiri.

Para pemimpin yang menciptakan zona nyaman pada umumnya anti kritik, dan kebanyakan yang demikian adalah pemimpin gereja-gereja kharismatik. Bagi mereka, orang-orang kritis itu adalah duri. Mereka akan mencap orang yang mengkritisi sebagai ‘mengusik orang yang diurapi’. Para pemimpin yang menciptakan zona nyaman, akan memposisikan orang-orang kritis sebagai musuh yang harus disingkirkan. Jika saat ini ada banyak pendeta kritis yang disingkirkan (disanksi), itu karena sang pemimpin sedang menciptakan Zona Nyaman bagi dirinya dan kelompoknya.

Merebut Zona Nyaman.
Tidak jarang pula kaum rohaniawan atau para pemegang kekuasaan yang berusaha ‘merebut Zona-zona Nyaman’. Oknum-oknum ini biasanya mengincar gereja-gereja yang sudah mapan secara ekonomi. Lalu mereka mencari jalan masuk untuk menciptakan konflik antar jemaat dengan gembala. Selanjutnya mereka melakukan bargaining dengan pemangku kekuasaan untuk menggusur gembala yang sudah mapan lalu menduduki Zona Nyaman.

Konflik-konflik yang terjadi di gereja-gereja lokal yang sudah mapan, pada umumnya disebabkan oleh oknum-oknum yang berusaha merebut zona-zona nyaman. Seorang gembala jemaat yang sudah mapan di satu pulau di daerah Kepulauan Riau, diusik oleh sesama pendeta. Pendeta yang mau merebut zona nyaman itu menyusup ke dalam jemaat untuk menciptakan situasi gaduh, sambil mencari dukungan dari penguasa. Dan akhirnya gembala yang sudah cukup mapan itu digusur, lalu diganti oleh oknum yang sudah lebih dahulu berkompromi dengan penguasa. Konflik yang sudah berlangsung hampir 4 tahun di gereja Ngadirejo Jateng, dan sampai sekarang masih terkatung-katung, itu disebabkan oleh adanya oknum-oknum penguasa yang berusaha ‘merebut zona nyaman itu’.

Selanjutnya, konflik-konflik jemaat dengan gembala yang sedang terjadi di beberapa gereja lokal di Kaltim dan di beberapa daerah lainnya, semuanya disebabkan oleh adanya oknum-oknum yang berusaha merebut zona-zona nyaman. Oknum-oknum tersebut ini bisa dari kalangan pemegang kekuasaan bisa juga dari oknum-oknum atau kelompok pendukung penguasa.

4. Kembali ke Kandang Domba

Sejatinya, setiap kali perayaan Natal, kita diajak untuk kembali ke kandang domba di Betlehem. Di kandang domba itu kita akan melihat kembali Sang Firman yang telah menjadi manusia, sedang terbaring di dalam palungan, dibungkus hanya dengan kain lampin. Dan sementara kita menatap sang Firman yang sedang terbaring di dalam palungan itu, kita perlu membuka hati dan mendengarkan pesan-pesan dari peristiwa itu:

–  Bahwa Firman menjadi manusia adalah sebuah tindakan Solidaritas sosial Allah terhadap manusia. Allah solider terhadap kaum papa, kaum lemah, dan tertindas. Firman yang telah menjelma menjadi manusia Yesus menjadi kabar baik bagi orang-orang miskin, orang-orang tertawan, dan orang-orang menderita berbagai masalah sosial.

– Bahwa Firman menjadi manusia adalah sebuah bentuk pengorbanan yang tidak kepalang tanggung dari Allah. Hanya karena cinta, Allah rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal demi mengangkat martabat dan menyelamatkan manusia. Persis seperti yang dihayati oleh Paulus: “Dia yang kaya, rela menjadi miskin untuk membuat kita yang miskin menjadi kaya”.

– Bahwa Firman menjadi Manusia adalah sebuah tindakan Allah yang mengajak kita untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi sesama bagi yang menderita, bagi yang miskin, bagi yang lemah, dan yang termarginalkan. Firman menjadi manusia mengajak kita untuk berdiri di pihak mereka yang tertindas, mereka yang diperlakukan tidak adil, dan mereka yang hak-hak azasinya dirampas oleh kekuasaan.

Semoga pada perayaan-perayaan natal 2024 ini kaum rohaniawan, para pemegang kekuasaan, pendeta-pendeta, dan seluruh warga GPdI merayakan natal dengan menghayati kembali MAKNA dan PESAN-PESAN MORAL dari peristiwa dahsyat dan agung, yaitu FIRMAN MENJADI MANUSIA….

Selamat hari Natal 2024 dan selamat menyambut tahun baru 2025.. IMANUEL.

(ST. Jogja).

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *