MENGELOLA MASALAH

(Leadership Nehemia)

Jika Anda adalah pemimpin jemaat, tiba-tiba mendapat kabar bahwa banjir bandang, atau tsunami, atau gempa bumi dahsyat, atau tanah longsor telah menyapu rata suatu daerah yang menghanyutkan sebagian besar warga jemaat Anda, bagaimana rekasi Anda? Andaikan Anda adalah seorang pemimpin organisasi, mendapat laporan bahwa di beberapa daerah telah dan sedang terjadi kekacauan, konflik, kegaduhan, dan perpecahan, antar pendeta atau antar gembala jemaat, apa yang akan Anda lakukan? Atau jika Anda melihat degradasi nilai-nilai moral mewabah di dalam organisasi yang Anda pimpin, sehingga terjadi hijrah umat ke organisasi lain, apa tindakan Anda?

Seorang pemimpin spiritual kaum Yahudi, Nehemia, hidup sebagai tawanan bersama sebagian kaum Yahudi di kerajaan Arthasasta. Suatu hari ada beberapa utusan dari Yerusalem membawa kabar buruk kepada Nehemia tentang kota Yerusalem dan tentang kondisi hidup kaum Yahudi dan kota Yerusalem. “Kata mereka kepadaku: “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar” (1:3).

Kabar buruk itu membuat Nehemia shock dan sangat terpukul sehingga ia duduk dalam dukacita selama beberapa hari. Perasaan susah, takut, risau, gelisah, dan tertekan mengoyak hati dan pikirannya, meski ia tidak sampai putus asa. Mengetahui situasi dan kondisi buruk bangsanya dan kota Yerusalem itu, Nehemia sebagai pemimpin spiritual kaum Yahudi di daerah penawanan, tidak larut dalam perasaan-perasan emosional dan sentimental. Sebaliknya, Nehemia justru bangkit dan berusaha untuk mencari solusi.

Ada beberapa tindakan yang dilakukan oleh Nehemia sebagai upaya untuk mengelola dan mengatasi masalah yang menimpa kota Yerusalem dan kaum Yahudi.

I. INTROSPEKSI

Sesaat setelah menerima kabar buruk tentang kondisi kota Yerusalem yang terbakar dan situasi kesengsaraan kaum Yahudi, Nehemia langsung melakukan INTROSPEKSI: Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung delama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit” (1:4). Nehemia melakukan introspeksi untuk mengetahui alasan mengapa kota suci – Yerusalem, dan kaum Yahudi – umat pilihan Allah, bisa mengalami kehancuran dan kemelaratan yang demikian.

Secara kasat mata, adalah bangsa Babilonia yang menghancurkan kota Yerusalem dan yang membuat kaum Yahudi hidup sengsara. Akan tetapi Nehemia tidak serta merta menuduh Babilonia atau pun musuh-musuh yang lain sebagai penyebab dari masalah tersebut. Sebagai pemimpin spiritual yang bijaksana, jujur, dan cerdas, Nehemia memiliki sensitivitas spiritual yang kuat, sehingga ia sangat yakin bahwa pasti ada faktor-faktor lain yang menyebabkan kehancuran kota Yerusalem dan penderitaan hidup kaum Yahudi. Nehemia menyadari bahwa kehancuran dan kesengsaraan tersebut hanyalah akibat, bukan pokok masalah.

Ganti daripada ‘menginspeksi’ – mencari-cari kambing hitam, atau menuduh setan dan musuh-musuh kaum Yahudi sebagai penyebab kehancuran Yerusalem dan penderitaan kaum Yahudi, Nehemia justu melakukan introspeksi dan perenungan secara tulus dan mendalam selama beberapa hari. Di dalam masa introspeksi itu, Nehemia menyelidiki dirinya, keluarganya, dan kaum Yahudi secara jujur dan obyektif.

II. POKOK MASALAH

Melalui introspeksi Nehemia akhirnya menemukan fakta-fakta mengenai penyebab kehancuran kota Yerusalem dan kesengsaraan hidup kaum Yahudi. Penyebab itu adalah kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa Nehemia sendiri, dosa-dosa keluarganya, dan dosa-dosa seluruh kaum Yahudi. Dengan kata lain, pokok masalah di balik semua kerusakan Yerusalem dan kesengsaraan umat Tuhan adalah DOSA atau KESALAHAN.  Dosa dan kesalahan yang dimaksud adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. “Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu”(1:7).

Nehemia menyatakan bahwa ia dan keluarganya, bersama kaum Yahudi secara bersama-sama telah melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum-hukum, ketetapan-ketetapan, dan perintah-perintah Tuhan. Istilah kekinian; Nehemia dan kaumnya telah melakukan dosa dan kesalahan secara “berjemaah”. Dalam melakukan dosa “berjemaah” itu tentu saja terjadi kompromi-kompromi dan tindakan saling menutupi kesalahan dan dosa demi keuntungan dan kepentingan bersama.

Sikap Nehemia ini berbeda dari sikap sebagian pemimpin gereja masa kini. Untuk sebagian pemimpin spiritual (gereja) masa kini, apabila terjadi kekacauan, kerusakan, atau kegagalan di dalam lembaga yang dipimpinnya, pada umumnya yang dituduh sebagai sumber atau pokok masalah adalah jemaatnya, atau bawahannya, atau bahkan setan dan roh-roh jahat. Tegasnya, pemimpin gereja masa kini “selalu benar dalam kata-kata, tindakan-tindakan, dan kebijakan-kebijakan”. Apabila ada yang mengkritisi, para pemimpin akan mengkaunter dengan senjata:  “Jangan mengusik orang yang diurapi Tuhan”.

III. TANGGUNG JAWAB MORAL

Setelah menemukan pokok masalah dari kehancuran Yerusalem dan kesengsaraan kaum Yahudi – dalam hal ini adalah kesalahan dan dosa berupa pelanggaran terhadap hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan Allah – Nehemia kemudian membuat pengakuan. Tetapi saat Nehemia membuat pengakuan di hadapan Tuhan, ia tidak melibatkan atau menghadirkan keluarga dan kaumnya, meskipun ia mengatasnamakan keluarga dan kaum Yahudi: “Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu” (1:7a).

Tidak menghadirkan keluarga dan kaumnya dalam doa pengakuan atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang telah menyebabkan kerusakan Yerusalem dengan penderitaan kaum Yahudi, tidak berarti bahwa Nehemia mengambilalih atau memikul sendiri akan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kaumnya dan akibat-akibatnya. Alasan mengapa Nehemia sendiri yang melakukan pengakuan adalah karena sebagai seorang pemimpin spiritual, Nehemia merasa dirinyalah yang bertanggung jawab secara moral atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh keluarganya dan kaum Yahudi.

Sebagai wujud tanggung jawabnya atas semua kesalahan dan dosa tersebut, Nehemia tampil ke depan dan membuat pengakuan bahwa kesalahan dan dosa dirinya dan keluarganya yang menyebabkan semua malapetaka ini: “berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa” (1:5).

Secara faktual, yang melakukan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dalam bentuk pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum-hukum dan ketetapan Tuhan adalah kaum Yahudi. Akan tetapi karena Nehemia adalah seorang pemimpin yang berintegritas, maka Nehemia menempatkan dirinyalah sebagai yang paling bertanggung jawab, baik atas dosa dan kesalahan keluarga dan kaum Yahudi, maupun atas akibat-akibat dari dosa dan kesalahan itu, yaitu kehancuran Yerusalem dan penderitaan kaum Yahudi

Sebenarnya sangat mudah bagi Nehemia untuk cuci tangan dan melemparkan semua dosa dan kesalahan kepada kaum Yahudi, jika Nehemia ingin menampilkan diri sebagai pemimpin yang ‘bersih’ – seperti halnya kebanyakan pemimpin gereja kita masa kini. Akan tetapi jika ia melakukan seperti itu, ia akan merasa standar moralitasnya sangat rendah. Jika ia melemparkan kesalahan pada kaumnya, Nehemia akan merasa dirinya sangat hina, dan  jahat, karena jika Nehemia melakukannya, ia melawan nilai-nilai moral pemimpin spiritual.

Lain halnya dengan para pemimpin kita zaman kekinian, yang justru merasa bangga, merasa diri hebat dan berkuasa jika mereka bisa melemparkan kesalahan pada bawahan dan sekaligus menjatuhkan sanksi pada mereka. Dan pemimpin-pemimpin spiritual (gereja) masa kini menganggap perilaku seperti itu benar dan baik, karena nilai-nilai moral kepemimpinan mereka sudah tergerus oleh nafsu kekuasaan.

IV. BACK TO THE BASIC

Kondisi kerusakan Yerusalem sudah sedemikian parah dan memprihatinkan. Melihat kenyataan itu, pada awalnya Nehemia tentu berpikir betapa sulit dan beratnya untuk memulihkan atau membangun kembali Yerusalem yang tinggal puing-puing itu, ditambah lagi harus memulihkan kondisi ekonomi kaum Yahudi. Menghadapi situasi dan kondisi Yerusalem yang demikian, sudah tentu Nehemia melakukan kontemplasi untuk mencari pencerahan, gagasan, atau petunjuk.

Melalui kontemplasi, akhirnya Nehemia mendapatkan pencerahan sehingga. Ia dapat melihat dengan jelas jalan-jalan dan kebijakan-kebijakana yang harus dilakukan untuk pemulihan Yerusalem. Langkah-langkah yang harus dilakukan tidak terlalu sulit dan mahal. Perhatikan teks berikut: “Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana” (1:9)

Ternyata solusi atas masalah besar – kehancuran Yerusalem dan kesengsaraan kaum Yahudi – sangat sederhana dan mudah: JUST BACK TO THE BASIC – HANYA KEMBALI KE AZAS. Perhatikan Firman yang diucapkan Nehemia: “Bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-Ku serta melakukannya,”. Back to the basic dengan cara kembali menaati hukum-hukum, perintah-perintah, dan ketetapan-ketetapan Tuhan. Tindakan “Back to the basic” tidak membutuhkan seorang pemimpin hebat, tidak memerlukan kekuatan finansial, dan tidak perlu menunggu intervensi dari surga. Solusi atas masalah besar, ternyata sangat mudah, murah, dan cepat – Just back to the basic – hanya kembali ke azas.

V. INTEGRITAS

Sikap terhadap kehancuran Yerusalem dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Nehemia dalam upaya menemukan solusi atas masalah kehancuran Yerusalem dan penderitaan kaum Yahudi, menunjukkan INTEGRITAS yang tinggi sebagai seorang pemimpin spiritual. Melakukan INTROSPEKSI, dan bukan INSPEKSI, adalah sebuah tindakan sportif yang menunjukkan betapa kuatnya INTEGRITAS leadership Nehemia.

Sebagai pemimpin spiritual yang berintegritas, Nehemia tidak merasa malu atau gengsi untuk   mengakui secara terbuka akan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya dan keluarganya, yaitu pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum, ketetapan, dan peraturan. Pelanggaran-pelanggaran  itulah yang menyebabkan kehancuran Yerusalem dan penderitaan bangsanya. Nehemia tidak takut kehilangan posisi atau respek hanya karena mengakui secara terbuka akan kesalahan-kesalahan, dosa-dosa, kelemahan-kelemahan, dan kekurangan-kekurangannya.

Tingkat INTEGRITAS Nehemia, sang pemimpin spiritual, terlihat juga melalui sikapnya yang rela mengambil-alih tanggung jawab atas semua pelanggaran, dosa, dan kesalahan yang telah mengakibatkan penderitaan kaumnya dan kehancuran Yerusalem. Tindakan mengambil-alih tanggung jawab tersebut tidak membuat Nehemia merasa kuatir akan kehilangan kredibilitas dan kewibawaan, juga tidak takut akan kehilangan posisi. Sebaliknya, dengan mengambil-alih tanggung jawab atas semua kesalahan dan dosa umat Yahudi, kredibilitas dan kewibawaan justru semakin besar, serta pengaruh dan power leadershipnya pun semakin kuat.

VI. REFLEKSI

Situasi dan kondisi organisasi gereja kita saat ini, tidak jauh berbeda dari situasi dan kondisi kota Yerusalem yang porak-poranda dan hidup kaum Yahudi yang merana di era Nehemia. Sendi-sendi persaudaraan, harmoni persahabatan, spirit solidaritas sosial, dan jiwa seperjuangan dan senasib antar hamba-hamba Tuhan kini telah runtuh. Sebagai gantinya muncul persaingan-persaingan tidak sehat, saling mendiskreditkan, saling menyingkirkan, bahkan saling menjatuhkan. Tindakan-tindakan kekerasan verbal antara sesama hamba Tuhan sudah menjadi hal yang biasa dan terus berlangsung tanpa disadari, bahkan tindakan-tindakan kekerasan fisik yang berujung di tangan para penegak hukum pun sudah bukan hal tabu lagi.

Situasi dan kondisi relasi-relasi dalam konteks berorganisasi tidak lebih baik, bahkan dapat dikatakan lebih menyedihkan daripada situasi dan kondisi Yerusalem dan penduduknya. Konflik, kegaduhan, dan konfrontasi antar pusat dan daerah-daerah, dan konflik di internal daerah-daerah yang pada akhirnya membuahkan perpecahan, terjadi hampir di setiap daerah.

Di Papua, dalam satu daerah muncul dua kelompok pengurus organisasi daerah GPdI yang sama-sama memiliki legal standing berdasarkan SK masing-masing. Di Maluku Utara, akibat pelanggaran Konstitusi di MUSDA, komunitas hamba-hamba Tuhan pecah menjadi dua kelompok. Kini kedua kelompok tersebut sedang saling berhadapan di ruang Pengadilan. Di Maluku, akibat proses MUSDA yang dianggap tidak wajar, lahirlah kelompok gembala-gembala senior yang terhimpun dalam wadah “Persekutuan AGAPE”. Di Kalimantan Timur, berawal dari kasus moral seorang pejabat daerah sekaligus pejabat pusat, terjadi konflik kepentingan kekuasaan, yang kemudian melahirkan komunitas baru yang menamakan diri GPdI Nusantara.

Sumatra Selatan gaduh. Kegaduhan itu berawal dari pelanggaran konstitusi yang disengaja oleh pusat dalam MUSDA 2022. Palanggaran Konstitusi tersebut menggiring pimpinan pusat berkonfrontasi dengan pendeta-pendeta daerah Sumsel di pengadilan. Saat ini di Sumsel lahir dua kelompok yang sedang bersaing. Di Lampung, tindakan pusat yang dianggap semena-mena dan otoriter, yaitu memeberhentikan seluruh pimpinan daerah, dan melarang mereka untuk menjadi pengurus organisasi selama dua (2) tahun. Tindakan dan kebijakan pusat itu membangkitkan perlawanan dari kelompok yang merasa menjadi korban. Konflik tak dapat dihindari, dan kedua belah pihak akhirnya berkonfrontasi di meja pengadilan dan di markas kepolisian.  Sementara itu gembala-gembala jemaat di daerah Lampung pecah menjadi dua kelompok dan sama-sama mengadakan kegiatan.

Di Banten situasi dan kondisinya mungkin bisa dikatakan lebih parah. Sejarah konflik antar pusat dan daerah Banten dan antar internal daerah Banten sendiri, sedemikian rumit dan kacau sehingga penulis merasa kesulitan untuk membahasakan situasi dan kondisi keruwetan masalah Banten. Sama seperti konflik di daerah-daerah lain, konflik Banten pun akhirnya berlabuh di pengadilan.

Terlepas dari soal pihak mana yang menang dan pihak mana yang kalah, apakah pimpinan pusat ataukah pimpinan daerah, tetapi dengan adanya gugatan-gugatan hukum di pengadilan terhadap kebijakan-kebijakan pimpinan organisasi yang notabene dipimpin oleh para pendeta (rohaniawan), hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di dalam kepemimpinan organisasi ini, telah terjadi degradasi nilai-nilai moral dan spiritual dan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan telah runtuh.

Daerah-daerah yang disebut di atas sebagai contoh kasus, hanyalah sebagian dari sekian banyak kasus atau masalah kepemimpinan yang sedang terjadi dan yang secara perlahan tetapi nyata, telah menyebabkan terjadinya kemunduran atau penurunan secara drastis jumlah warga jemaat. Berasarkan data tertulis dan resmi, pada MUBES tahun 2017 jumlah warga jemaat dua (2) juta jiwa. Pada MUBES 2022, jumlah jemaat turun ke angka 1,8 juta jiwa, dan terakhir data dalam laporan MUKERNAS Pelembang Oktober 2023, sembilan ratus ribu (900, 000) jiwa.

Pokok masalah yang menjadi penyebab utama dari semua gejolak, kegaduhan, konflik, dan perpecahan yang telah dan sedang terjadi di organisasi ini, yang mengakibatkan penurunan jumlah warga jemaat, adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum-hukum, aturan-aturan, dan ketetapan-ketetapan organisasi. Pelanggaran-pelanggaran konstitusi tersebut dilakukan secara sistematik oleh pihak pemangku otoritas, baik dalam pelaksanaan musyawarah-musyawarah daerah, maupun dalam membuat kebijakan-kebijakan organisasi.   

 SOLUSI

Melihat realitas organisasi gereja kita yang demikian, timbul pertanyaan: Masih adakah solusi atas situasi dan kondisi organisasi yang sudah sedemikian memprihatinkan? Jika masih ada, langkah-langkah  yang bagaimana dan seperti apa? Berkaca dari pengalaman empiris Nehemia sebagai pemimpin jemaat Yahudi, solusi atas masalah organisasi kita ini sebenarnya cukup sederhana, mudah, tidak butuh biaya, dan tidak perlu berlarut-larut.  Jika para pemimpin organisasi ini benar-benar masih memiliki niat yang tulus untuk menyelesaikannya. Dibutuhkan hanya tiga (3) langkah:

Pertama: INTROSPEKSI – Para pemimpin organisasi dari pusat sampai daerah perlu melakukan introspeksi secara mendalam dengan tulus, obyektif, dan menyeluruh pada:

  1. Diri masing-masing pemimpin, yang meliputi tindakan-tindakan, perilaku moral, dan motif-motif pribadi dalam kepemimpinan. Ingatlah bahwa para pimpinan bukanlah dewa-dewa yang tak bisa salah. Para pemimpin juga adalah manusia yang tidak berbeda dari manusia pada umumnya.
  2. Tindakan-tindakan atau kebijakan-kebijakan organisasi, terutama menyangkut penerapan konstitusi yang: a)telah menyebabkan banyak orang merasa dikorbankan, b)telah menimbulkan gejolak-gejolak perlawanan kepada pemangku kekuasaan, c)telah menyebabkan perpecahan di daerah-daerah.
  3. Maraknya konflik, kegaduhan, dan perpecahan yang terjadi di daerah-daerah sebagai akibat dari penerapan konstitusi organisasi yang salah kaprah, tidak adil, otoriter, dan diduga kuat mengandung unsur-unsur balas dendam dan upaya menyingkirkan semua

Kedua: BACK TO THE BASIC – buat komitmen dan segera ambil tindakan untuk kembali ke AD/ART, dalam artian melaksanakan dan menerapkan aturan-aturan AD/ART organisasi secara benar, adil, jujur, obyektif, bebas dari kepentingan politik kekuasaan, bebas dari unsur-unsur balas dendam, dan tanpa pandang bulu. Posisikan kembali KONSTITUSI organisasi sebagai penguasa tertinggi dalam berorganisasi.

Ketiga: CABUT DAN ATAU BATALKAN semua sanksi yang sarat dengan motif politik kekuasaan, yang sarat dengan rasa antipati, sarat dengan persaingan, dan yang menyalahi prosedur dan ketentuan-ketentuan sebagaimana yang diatur di dalam AD/ART organisasi. Tetapi skandal moral, tidak boleh ditolerir karena hal itu telah mencoreng reputasi organisasi.

VII. AKHIRNYA

Jika para pemimpin organisasi ini tidak berani mengambil minimal tiga (3) langkah tersebut di atas, maka kondisi gereja ini akan semakin memburuk, terpuruk, dan dikawatirkan pada gilirannya nanti kemungkinan yang akan tersisa dari sejarah organisasi ini yang sudah lebih dari satu abad, hanyalah kenangan-kenangan indah dan manis, serta monument-monument bisu!

ST – Jogja

 

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *