ESENSI KEPEMIMPINAN GEREJA Oleh: Ampera Matippanna amperamatippanna12@gmail.com Pendahuluan Kepemimpinan memiliki peran strategis dalam pertumbuhan dan perkembangan organisasi gereja. Hampir dapat dipastikan bahwa gereja yang bertumbuh dan berkembang dengan baik karena dipimpin oleh seseorang pemimpin cakap dan berintegritas tinggi. Pemimpin yang cakap tersebut tidak hanya menguasai bidang ilmu teologi sebagai pengetahuan dasar kepemimpinan gereja melainkan juga handal dalam bidang ilmu managemen organisasi dan kepemimpinan. Tak dapat dihindari bahwa pimpinan gereja selalu menjadi pusat perhatian baik dalam kalangan sendiri maupun organisasi gereja lainnya dan masyarakat pada umumnya. Hal tersebut disebabkan karena gereja memiliki status yang spesifik dimasyarakat yakni sebagai pusat pemberitaan dan penyebar luasan injil yang mengajarkan tentang keselamatan melalui Yesus Kristus, pengampunan, kekudusan , kebenaran dan cinta kasih. Sebagai pusat pemberitaan dan penyebar luasan injil, maka pimpinan gereja seharusnya orang yang memiliki etika dan moralitas yang tinggi dengan berpegang teguh pada kebenaran, kejujuran dan keadilan. Dalam praktek kepemimpinan gereja saat ini justru banyak kali dijumpai perilaku kepemimpinan yang tidak lagi sesuai dengan ajaran injil yang sejatinya melekat sebagai karakter atau gaya kepemimipinan gereja. Beberapa perilaku kepemimpinan gereja yang dipertontonkan secara terang benderang yang menyimpang dari ajaran kekudusan, kebenaran dan cinta kasih adalah perilaku yang menggunakan kekuasaan untuk menyingkirkan orang-orang yang bersifat kritis dalam gereja, membuat keputusan atau kebijakan yang bertentangan dengan aturan , mengorbankan kepentingan orang kecil untuk kepentingan kelompok atau pendukung dan pemanfaatan keuangan gereja yang menyalahi aturan yang berlaku. Maka tidak heran jika kepemimpinan seperti tersebut membuat gereja mengalami berbagai sengketa, krisis ketidak percayaan dan sampai pada perpecahan. Tidak jarang kita mendengarkan keluhan atau cemohan tentang kepemimpinan gereja yang otoriter , diktator atau berkaca mata kuda karena pemimpinnya bertindak secara sewenang-wenang, mengabaikan aturan dan tidak mengindahkan musyawarah/ mufakat dalam pengambilan keputusan. Sejatinya kepemimpinan gereja haruslah lebih baik dari kepemimpinan organisasi lainnya, mengingat bahwa kepemimipinan gereja dipimpin oleh orang-orang berintegritas tinggi sebagai pemberita injil yang memiliki hikmat sorgawi, senantiasa dikuasai dan dituntun oleh Roh Kudus dalam perilaku kepemimpinannya. Maka sudah sepatutnya kepemimpinan gereja menjunjung tinggi nilai-nilai etika, moral dan hukum yang berlaku dalam gereja. Kepemimpinan Gereja Kepemimpinan dan gereja memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tanpa kepemimpinan maka gereja akan kehilangan eksistensinya sebagai pusat pemberitaan dan penyebar luasan injil, sehingga amanat agung dari Yesus Kristus[1] untuk menjadikan semua bangsa menjadi muridNya sebagai tujuan gereja mustahil akan terwujud. Kepemimpinan gereja dapat dipandang sebagai jembatan emas yang sengaja diciptakan oleh pemimpin gereja untuk memberi kemudahan bagi setiap anggota gereja untuk melintasi berbagai kesulitan atau tantangan dalam pelaksanaan misi pemberitaan dan penyebar luasan injil melalui tuntunan, arahan atau kebijakan pemimpin gereja. Kepemimpinan gereja seharusnya mampu menciptakan suasana gereja yang harmonis, dinamis dan sinergis bagi para anggotanya sehingga fungsi gereja sebagai persekutuan (kanonia), kesaksian (marturia) dan pelayanan (diakonia) dapat berjalan dengan baik. Untuk lebih memahamai pengertian kepemimpinan gereja, berikut dikemukanan beberapa pengertian kepemimpinan menurut para sarjana , antara lain : Stephen P. Robbins, Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan[2] AF, Stoner, kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok[3] James L. Gibson dkk (1997:5), mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu usaha menggunakan suatu gaya mempengaruhi dan tidak memaksa untuk memotivasi individu dalam mencapai tujuan[4] Anoraga,Kepemimpinan sebagai hubungan dimana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerja sama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pimpinan tersebut[5] Berdasarkan pengertian kepemimpinan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan gereja merupakan kemampuan pemimpin gereja mempengaruhi, mengarahkan,memotivasi dan menggerakkan anggota gereja agar dapat melaksanakan fungsi-fungsi gereja secara sukarela dan kemauan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan gereja sesuai dengan gaya kemimpinan yang dikembangkan oleh pemimpin tersebut. Kepemimpinan gereja sangat dipengaruhi oleh kompetensi, gaya kepemimpinan dan motivasi dari pemimpin gereja yang bersangkutan. Kompetensi Kepemimpinan Gereja Pada umumnya kalangan gereja mulai menyadari bahwa kompetensi kepemimpinan merupakan salah satu elemen dasar yang harus dimiliki oleh pemimpin gereja untuk mengantar gereja mencapai tujuan gereja. Itulah sebabnya mengapa diperlukan seleksi kepemimpinan agar pemimpin yang terpilih adalah orang yang memiliki kompetensi unggulan, mampu berkinerja tinggi, membangun komunikasi dan kerja sama sehingga gereja dapat bertumbuh dan berkembang kearah yang lebih baik.. Kepemimpinan tanpa kompetensi adalah kepemimpinan yang gagal, karena pemimpin tersebut akan terkendala oleh ketidak mampuan menata organisasi dengan baik, rasa ketidak percayaan diri,kemampuan komunikasi yang buruk dan kehilangan dukuangan dari para anggota gereja. Kompetensi kepemimpinan merupakan penanda (marker) bagi seorang pemimpin yang berkualitas. Seorang pemimpin yang memiliki kompetensi kepemimpinan akan terlihat dari rekam jejak selama menjadi pimpinan. Rekam jejk tersebut akan terlihat pada program kegiatan unggulan yang telah dibuat, pemamfaatan SDM yang tepat pada bidang yang sesuai, pemanfaatan anggaran organisasi yang efektif, efisien dan tepat sasaran dan pengambilan keputusan strategis yang berdampak luas bagi anggota organisasi. Kompetensi kepemimpinan gereja secara prinsip tidak berbeda dengan kompetensi kepemimpinan pada umumnya. Perbedaannya hanyalah pada kespesifikan gereja yang berfokus pada nilai-nilai kekeristenan menurut pengajaran Yesus Kristus. Kompetensi kepemimpinan gereja menyangkut kemampuan managerial, fungsional dan sosiokultural yang dilatar belakangi oleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku pemimpin dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan kepdanya. Beberapa pengertian kompetensi menurut para sarjana, antara lain: Spencer dan Spencer (dalam Palan, 2007:6), mengemukakan bahwa kompetensi merujuk kepada karakteristik yang mendasari perilaku yang menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja unggul (superior performer) di tempat kerja.[6] Wibowo (2007:86) menjelaskan Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut[7]. Darsono dan Siswandoko (2011 : 123) kompetensi adalah perpaduan keterampilan, pengetahuan, kreativitas dan sikap positif terhadap pekerjaan tertentu yang diwujudkan dalam kinerja. Kompetensi merupakan karakter seorang pekerja yang mampu menghasilkan kinerja terbaik dibanding orang lain[8]. Sutrisno (2011 : 203) Kompetensi adalah suatu kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas. Berdasarkan beberapa pengertian kompetensi seperti tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk melaksakan suatu pekerjaan atau tugas tertentu berdasarkan pengetahuan, keterampilan, sikap kerja dan penerapannya untuk menghasilkan kinerja terbaik dibanding dengan orang lain. Drucker (2006:144) menyebutkan bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki 3 bidang kemampuan atau kompetensi yaitu[9]: Kemampuan pribadi, memiliki integritas tinggi, memiliki visi yang jelas, intelegensia tinggi, kreatif dan inovatif, tidak mudah merasa puas, fleksibel dan memiliki kematangan jiwa, sehat jasmani dan rohani, wibawa dan kharismatik, mempunyai idealisme dan cinta tanah air. Kemampuan kepemimpinan (Leadership Mastery), memiliki kemampuan memotivasi orang lain, membuat keputusan yang cepat dan tepat, mempengaruhi orang lain, mengelola konflik, berorganisasi, memimpin tim kerja, mengendalikan stress dan keterampilan berkomunikasi. Kemampuan berorganisasi (Organizational Mastery), yang memiliki kemampuan mengembangkan organisasi, manajemen startegik, meraih peluang, mengadakan pengkaderan generasi penerus , memahami aspek makro dan mikro ekonomi dan keterampilan operasional Selanjutnya Asree, Zain dan Razalli (2010) mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kompetensi kepemimpinan, yaitu sebagai berikut[10] : Self – management, yang terdiri dari etika dan integritas, manajemen waktu, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. Strategic Positioning, yang terdiri dari kesadaran akan kebutuhan pelanggan,komitmen terhadap kualitas, mengelola stakeholder. Implementation, yang mencakup dimensi perencanaan, mengarahkan orang lain Critical thinking, yang mencakup pengambilan analisis, dan pengambilan risiko dan dimensi inovasi. Communication, yang mencakup dimensi berbicara dengan pengaruh,memfasilitasi komunikasi terbuka, mendengarkan aktif, dan komunikasi tertulis. Interpersonal, yang terdiri dari dimensi membangun jaringan, mengelola konflik, dan merangkul keberagaman. Leadership, yang terdiri dari dimensi orientasi kerja tim, pembinaan motivasi, mengembangkan orang lain. Indusrty knowledge, yang merupakan dimensi keahlian bisnis dan industry Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpimpinan merupakan unsur penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan seorang pemimpin untuk mempengaruhi orang lain dalam mewujudkan tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan yang tepat akan mendapat dukungan dari sebagian besar anggota sehingga memudahkan pimpinan untuk mengatur, mengarahkan, memotivasi dan menggerakkan anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Setiap pemimpin memiliki Gaya kepemimpinanya masing-masin termasuk pemimpin gereja. Gaya kepemimpinan gereja sangatlah sensitif karena berhubungan erat dengan citra kepemimpimpinnnya yang spesifik dan dipandang sebagai sosok yang seharus memiliki etika dan moralitas yang tinggi sebagai pemberita injil. Sekecil apapun tindakan yang dilakukakan oleh pemimpin gereja yang bertentangan peraturan organisasi atau bertentangan dengan kepatutan dan kepantantasan yang berlaku dikalangan gereja dengan sendirinya akan menuai kritik atau respon negatif dari anggota gereja tersebut. Gaya kepemimpinan menunjukkan karakter kepribadian seorang pemimpin yang dominan digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi orang lain dalam organisasi. Beberapa pengertian gaya kepemimpinan yang dikemukakan oleh para sarjana , antara lain : Rivai (2014:42) , menyatakan bahwa “gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pemimpin untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkam oleh seorang pemimpin” [11]. Kartono (2008:34), menyatakan bahwa “gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain”[12] Hasibuan (2012:170) menyatakan bahwa “ gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk dapat memengaruhi karyawan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi”[13] Yuniarsih (2011:165-166),menyatakan bahwa “gaya Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan dan kekuatan seseorang untuk mempengaruhi pikiran (mindset) orang lain agar mau dan mampu mengikuti kehendaknya, dan memberi inspirasi kepada pihak lain untuk merancang sesuatu yang lebih bermakna”[14] Dari beberapa pengertian gaya kepemimpinan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu proses interaktif antara pimpinan dengan bawahan atau anggota organisasi untuk mempengaruhinya agar dapat bekerja sama, mengikuti kehendak pemimpin sesuai dengan cara atau strategi tertentu yang mengambarkan karakter kepribadian pemimpin yang bersangkutan. Franklyn (1951) dalam Onong Effendy (1993: 200) mengemukakan ada tiga gaya pokok kepemimpinan, yakni[15]: Kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang memiliki kriteria atau ciri yang selalu menganggap organisasi sebagai milik pribadi, arogan, mengidentikan tujuan pribadi sama dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata, tidak mau menerima kritik dan saran, terlalu tergantung pada kekuasaan formalnya dan dalam tindakan pergerakannya sering mempergunakan pendekatan paksaan dan bersifat menghukum. Indikator dari Gaya Kepemimpinan Otokratis: (1) Sentralisasi Wewenang (2) Produktivitas Kerja (3) Manajemen setiap keputusannya dianggap sah, dan pengikut-pengikutnya wajib menerima perintah tanpa pertanyaan. Kepemimpinan demokratis adalah gaya kepemimpinan yang memiliki karakteristik yang menganggap bawahan sebagai makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dalam kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahan; selalu berusaha menjadikan bawahannya sukses dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadi sebagai pemimpin. Indikator dari gaya kepemimpinan demokratis : (1) Hubungan baik antara pimpinan dengan pegawai (2) Penghargaan terhadap pegawai (3) Manajemen yang mendengarkan aspirasi bawahannya. Kepemimpinan bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire). Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan otokratis. Dalam kepemimpinan tipe ini sang pemimpin biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan seringkali menghindar diri dari tanggung jawab. Seorang pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri. Disini seorang pemimpin mempunyai keyakinan bebas dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya terhadap bawahan dengan menganggap semua usahanya akan cepat berhasil. Di negara-negara yang menganut paham demokrasi , maka gaya kepemimpinan demokratis tentunya menjadi gaya kepemimpinan yang di idolakan oleh masyarakat pada umumnya. Siagian (2009:74-83). menyebutkan lima indikator untuk mengukur gaya kepemimpinan demokratis uaitu sebagai berikut[16]: Mengakui harkat dan martabat manusia. Dengan demikian, berupaya untuk selalu memperlakukan para bawahan dengan cara-cara yang manusiawi. Menerima pendapat yang mengatakan bahwa sumber daya manusia merupakan unsur yang paling strategic dalam organisasi meskipun sumber daya dan dana lainnya tetap diakui sebagai sumber yang penting seperti uang atau modal, mesin, materi, metode kerja, waktu dan informasi yang kesemuanya hanya bermakna apabila diolah dan digunakan oleh manusia misalnya, menjadi produk untuk dipasarkan kepada konsumen yang memerlukannya Para karyawan adalah insan dengan jati diri yang khas dan karena itu harus diperlakukan dengan mempertimbangkan kekhasannya. Pemimpin yang demokratis tangguh membaca situasi yang dihadapi dan dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi tersebut. Gaya kepemimpinan yang demokratis rela dan mau melimpahkan wewenang pengambilan keputusan kepada karyawannya sedemikian rupa tanpa kehilangan kendali organisasional, dan tetap bertanggung jawab atas tindakan para karyawannya itu. Mendorong para karyawannya untuk mengembangkan kreativitas mereka. Tidak ragu untuk membiarkan para karyawannya mengambil resiko dengan catatan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh telah diperhitungkan dengan matang Pemimpin yang demokratik bersifat mendidik dan membina, dalam hal bawahan berbuat kesalahan dan tidak serta-merta bersifat menghukum. Motivasi Dalam Kepemimpinan Motivasi dalam kepemimpinan tidak kalah pentingnya dengan kompetensi dan gaya kepemimpinan dalam pencapaian keberhasilan organisasi. Motivasi dalam kepemimpin merupakan alasan tertentu mengapa seseorang mau menjadi pemimpin orgnisasi. Sering kali kita mendengar pernyataan bahwa seseorang bersedia menjadi pemimpin dengan alasan pengabdian, mengembangkan kemampuan diri atau melaksanakan perintah atasan yang lebih tinggi. Tidak pernah kita mendengar pernyataan seseorang yang menyatakan bahwa alasan untuk menjadi seorng pemimpin agar memperoleh kedudukan dan kekuasaan yang tinggi untuk memerintah, untuk memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah atau memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat. Semua bentuk-bentuk alasan tersebut sesungguhnya merupakan motivasi yang mendorong seseorang untuk menjadi pemimpin. Motivasi tersebut dapat bersifat positif atau negatif sehingga pengaruhnya terhadap organisasi menjadi sangat besar. Tidak mudah untuk memahami motivsi dalam diri seorang pemimpin gereja karena motivasi tidak dapat diverifikasi secara inderawi manusia. Motivasi dalam kepemimpinan gereja hanya dapat dinilai secara subyektif oleh anggota gereja dengan mencermati sikap dan perilaku seorang pemimpin untuk mencapai tujuan tertuntu sebagai kepentingan pribadi atau gereja yang dilakukan oleh pemimpin tersebut secara sadar, konsisten dan berkelanjutan selama dalam masa kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk kemajuan gereja dengan melibatkan anggota gereja lainnya, mendorong dan memfasilitasi anggota untuk bekerja sama dengan baik, mengambil keputusan yang tidak merugikan kepentingan anggota dan bersedia mendengarkan keluhan, saran atau kritik dari anggota demi kemajuan gereja, maka dapat dikatakan bahwa motivasi pemimpin tersebut bersifat positif dan berpandangan luas demi untuk kepentingan anggota dan gereja. Sebaliknya jika seorang pemimpin gereja selalu berupaya untuk menunjukkan kekuasaannya , menekan atau mendiskrimanasi anggota gereja , maka dapat dikatakan bahwa motivasi pemimpin tersebut bersifat negatif dan berwawasan sempit demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Beberapa pengertian motivasi menurut para sarjana, antara lain: Sedarmayanti (2017 : 154) motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau tidak yang pada hakikatnya ada secara internal dan eksternal, positif atau negatif[17] Hafidzi dkk (2019 : 52) menyatakan bahwa motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mampu bekerjasama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan[18]. Wilson Bangun (2012 : 312) Motivasi merupakan hasrat di dalam diri seseorang menyebabkan orang tersebut melakukan suatu tindakan. Seseorang melakukan tindakan untuk sesuatu hal dalam mencapai tujuan[19]. Rivai (2015 : 607) motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu[20] Berdasarkan pengertian motivasi tersebut di atas dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan hasrat atau gairah yang bersumber dari dalam tubuh seseorang (intrinsik) maupun yang bersumber dari luar tubuh seseorang (ekstrinsik) nilai-nilai yang memiliki daya dorong yang kuat untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan dalam mencapai tujuan Esensi Kepemimpinan Gereja Saat ini dunia sedang mengalami krisis kepemimpinan termasuk dalam gereja. Para pemimpin gereja sedang mengalami dekadensi moral sehingga kehilangan jati diri dan integritas, sehingga tidak lagi dapat menjadi contoh atau teladan bagi anggota gereja dan masyarakat. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian, malah terkontaminasi dengan berbagai masalah kepemimpinan[21].Di dalam realitas kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa para pemimpin menjadi sasaran ketidak puasan angota karena karakternya cenderung tidak sesuai dengan apa yang disampaikan[22]. Selanjutnya Joyce Meyer menjelaskan karakter seorang pemimpin dalam beberapa aspek[23]: Kehidupan Rohani. Orang-orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan rohaninya. Artinya mereka harus memiliki hubungan pribadi yang dalam dengan Allah. Kehidupan pribadi. Orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam dirinya. Artinya apa yang dikatakan harus sesuai dengan tindakannya Kehidupan Sosial. Seorang pemimpin yang baik harus membangun hubungan komunikasi yang baik kepada siapa saja. Artinya dalam komunikasi harus ada empati dan simpati terhadap semua orang. Ini berarti seorang pemimpin tidak membuat perbedaan, semuanya sama di mata seorang pemimpin. Kehidupan pernikahan dan Keluarga. Ia harus memperlakukan pasangannya dengan benar, memenuhui tanggung jawab keluarga, meluangkan waktu dengan anak-anak, menentukan skala prioritas dengan benar, memastikan bahwa kehidupan seksnya sehat dan menjaga rumahnya agar tetap teratur dan tertib Kehidupan keuangan. Seorang pemimpin harus jujur dengan keuangan, mengingat uang adalah akar dari segala kejahatan jika tidak diatur dengan baik dan penuh tanggung jawab. Perkataan. Bagi seorang pemimpin bahwa perkataan adalah bagian yang sangat penting. Seseorang akan kehilangan karakter jika ia membumbu-bumbui sebuah kisah sehingga kisah itu tidak lagi mengandung kebenaran. Atau menyampaikan kebenaran secara berlebihan hanya untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh dirinya supaya kelihatan tidak buruk karakternya. Hal lain yang paling sering menjadi pusat sorotan ketidak puasan terhadap kepemimpinan gereja selaim karakter adalah rendahnya integritas pemimpin gereja.Integritas menujukkan mutu atau kualitas jati diri seorang pemimpin untuk selalu berperilaku baik, benar, jujur dan adil kapan saja, dimana saja dan dalam kondisi apapun juga. Erry Riyana berpendapat bahwa integritas adalah tentang komunikasi (pernyataan) yang harus sesuai dengan tindakan[24]. Sendjaya menegaskan integritas adalah modal utama seorang pemimpin, namun sekaligus modal yang paling jarang dimiliki oleh pemimpin[25]. Kepemimpinan gereja tanpa integritas akan mengalami kesulitan dalam menunjukkan kewibawaan dan prestasi yang membanggakan organisasi Berdasarkan uraian-uraian tersbut diatas dapat tarik kesimpulan bahwa esensi dari kepemimpinan gereja adalah kepemimpinan yang memiliki kompetensi kepemimpinan unggulan, gaya kepemimpinan demokratik dan motivasi kepemimpinan positif yang ditunjukkan karakter perilaku dan integritas pemimpin gereja. Sepanjang unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi dalam kepemimpinan gereja maka gereja akan mengalami keterpurukan dan kegagalan dalam mencapai tujuan gereja [1] Alkitab. Injil Matius Pasal 28: 19-20. [2] Stephen P. Robbins. 1983, Essentials of Organizational Behavior. Prentice-Hall. h. 112 [3] Stoner, James A. F. dkk. 1996. Manajemen. Jakarta : PT. Indeks Gramedia Grup. h161 [4] Gibson James L, Jhon M. Ivancevich, James H. Donnely Jr, 1997. Organisasi dan Manajemen Perilaku Struktur Proses, Jakarta : Erlangga. h.5 [5] Anoraga. 1990, Pendekatan Kepemimpinan Lembaga Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. h. 2 [6] Palan, R. 2007. Competency Management. Teknik Mengimplementasikan Manajemen SDM berbasis Kompetensi untuk Meningkatkan Daya Saing Organisasi. Penerjemah: Octa Melia Jalal. Jakarta : Penerbit PPM.h.6 [7] Wibowo. 2007. Sistem Manajemen Kinerja Jakarta : Gramedia. h.86 [8] Darsono dan Siswandoko, Tjatjuk. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia Abad 21. Jakarta: Nusantara Consulting. h. 123 [9] Soelistya Djoko, 2022. Buku Ajar Managemen Strategis. Sidoarjo : Nizamia Learning Center. H.51 [10] Susita Asree, M. Zain, M. Razali. (2010). “Influence of leadership competency and organizational culture on responsiveness and performance of firms”.International Journal of Contemporary Hospitality Management, Vol. 22 No. 4, pp. 500-516. [11] Rivai Zainal, Veithzal dkk, 2014, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada, h. 42 [12] Kartono, Kartini. 2008. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.h.34 [13] Hasibuan, Malayu S.P. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia, Cetakan Keenam Belas, Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara, h. 170 [14] Yuniarsih, Tjutju dan Suwatno. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia: Teori, Aplikasi, dan Isu Penelitian, Cetakan Ketiga. Bandung: Alfabeta, h. 165-166. [15] Effendi, Onong Uchjana. 1993. Human Relations dan Public Relations. Bandung: Mandar Maju, h.200 [16] Sondang P. Siagian. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara, h.74-83 [17] Sedarmayanti. 2017. Perencanaan dan Pengembangan SDM untuk Meningkatkan Kompetensi, Kinerja dan Produktivitas Kerja. Bandung : Refika Aditama, h.154 [18] Hafidzi Achmad Hasan, Risky Nur Adha dan Nurul Qommariah. 2019 . Pengaruh Motivasi Kerja , Lingkungan Kerja , Budaya Kerja terhadap Kinerja Karyawan Dinas Sosial Kabupaten Jember. Journal Penelitian Ipteks Vol 4 (1) hal .52. [19] Wilson Bangun, 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Erlangga, h. 312 [20] Veithzal Rivai Zainal, 2015.Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan,Jakarta: Rajawali Pers, hal. 607 [21] Sendjaya, 2004 Kepemimpinan (Konsep, Karakter, Kompetensi) Kristen Menjadi Pemimpin Kristen yang Efektif di tengah Tantangan Arus Zaman. Yogyakarta: Kairos Books, h.17 [22] Surbakti, 2012. Manajemen dan Kepemimpinan Hati Nurani, Jakarta: Gramedia, h. 107 [23] Joyce Meyer,2005. Pemimpin yang Sedang Dibentuk . Hal-hal Penting untuk Menjadi Seorang Pemimpin yang Berkenan di Hati Allah, Jakarta: Imanuel, h 258-264 [24] Erry Riyana Hardjapamekas,2000. Esensi Kepemimpinan Mewujudkan Visi Menjadi Aksi,Jakarat: Gramedia, h.37 [25] Ibid. h. 62. Bagikan Post navigation FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN DAN KEHANCURAN KEPEMIMPINAN ORGANISASI. ANALISIS KEBIJAKAN PENGANGKATAN PLT GEMBALA JEMAAT GPdI EKLESIA LANGOWAN MANADO