REFLEKSI HARI PENTAKOSTA (S. Tandiassa) Sepuluh hari telah berlalu sejak perayaan hari kenaikkan Isa Almasih. Selama sepuluh hari, gereja-gereja aliran Pentakosta mengadakan Doa Kepenuhan Roh Kudus. Dan kini tibalah hari yang disebut Hari Pentakosta, atau di dalam istilah orang-orang Pantakosta disebut Hari Pencurahan Roh Kudus. Walaupun Hari Pentakosta dirayakan tidak semeriah perayaan hari Paskah dan hari Natal, tidak berarti bahwa hari Pentakosta tidak sama pentingnya dengan Paskah atau Natal. Nilai penting suatu momen historis tidak diukur dari tingkat kemeriahan atau kemewahan perayaan, tetapi diukur dari peran, makna, dampak, atau pengaruh peristiwa itu. Perayaan Hari Pentakosta di Yerusalem, secara historis menjadi awal terbentuknya sebuah komunitas orang-orang beriman yang kemudian disebut sebagai ‘Jemaat’ atau ‘gereja’. Selain itu Perayaan Hari Pantekosta itu juga menjadi momen “Pencurahan” Roh Kudus secara besar-besaran, yang sekaligus menjadi sebuah penanda datangnya suatu era baru dalam sejarah, yaitu era yang disebut “AKHIR ZAMAN”. Berangkat dari fakta-fakta tersebut, maka pada perayaan Hari Pentakosta tahun 2024 ini, kiranya teramat penting bagi gereja-gereja Pantekosta, khususnya bagi para pemimpin organisasi GPdI, untuk melakukan REFLEKSI. Melalui refleksi kita bisa mendapatkan makna, pesan, dan gagasan-gagasan baru dan penting dari Perayaan Pentakosta. Dengan refleksi kita akan menemukan kelemahan-kelemahan, kesalahan-kesalahan, kelalaian-kelalaian, bahkan dosa-dosa yang telah menimbulkan kegaduhan, kekacauan, dan konflik, serta menyebabkan kegagalan-kegagalan. Dan juga melalui refleksi kita dapat menemukan keunggulan-keunggulan, peluang-peluang, dan potensi-potensi diri kita. TEKS HARI PENTAKOSTA Pada umumnya pada perayaan hari Pentakosta, para pengkhotbah dari kalangan gereja-gereja Pantekosta, akan membaca teks Kis. 2:1-4. Ada juga yang membaca teks tersebut sampai ayat ke ayat 13. Tetapi pada umumnya pengkhotbah-pengkhotah Pantekosta berfokus pada ayat 4. Kemudian penekanan di dalam khotbah-khotbah tersebut kebanyakan hanya berputar-putar pada ungkapan ‘penuh dengan Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain’. Sebenarnya, jika kita ingin menghayati kembali secara komprehensip akan peristiwa dan pengalaman Hari Pentakosta di Yerusalem, kita harus membaca teks Kis. 2 secara keseluruhan dan direnungkannya secara kritis dan mendalam. Dengan cara ini, kita dapat melihat gambaran yang lengkap dan jelas, menemukan makna yang tepat, serta mendapatkan pesan-pesan penting, utuh, dan relevan dari peristiwa dan pengalaman hari Pentakosta di Yerusalem. PENUH DENGAN ROH KUDUS Salah satu dari gagasan-gagasan penting yang terdapat di dalam Teks Hari Pentakosta ini adalah tentang “Penuh dengan Roh Kudus”. Sebenarnya hal “penuh dengan Roh Kudus atau Roh Allah” bukanlah pengalaman spiritual yang baru muncul pada perayaan Hari Pentakosta di Yerusalem di era para rasul. Para nabi, raja, hakim, dan tokoh iman di dalam Perjanjian Lama, semuanya “Penuh dengan Roh Allah atau Roh Kudus”. Hal yang baru dalam Peritiwa Pencurahan Roh Kudus di Loteng Yerusalem hanyalah “fenomena bahasa-bahasa lain atau bahasa-bahasa baru”. Akan tetapi jangan berhenti hanya sampai di frase “penuh dengan Roh Kudus lalu berkata-kata dalam bahasa-bahasa yang lain”. Hal berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain/baru adalah salah satu dari fenomena-fenomena, dan bukan esensi dalam pengalaman penuh dengan Roh Kudus. Di dalam teks-teks Rasul Paulus terdapat beberapa teguran terhadap gereja yang salah pengertian dan salah kaprah dalam penggunaan bahasa-bahasa baru atau bahasa-bahasa roh. Esensi penuh dengan Roh Kudus sudah sangat jelas disampaikan oleh Yesus sebelum Ia naik kesurga, seperti yang dicatat oleh Lukas, yaitu menerima KUASA atau DAYA ILAHI: “Kamu akan menerima KUASA apabila Roh Kudus turun ke atas kamu”. Sedangkan tujuan Allah memberi kuasa adalah supaya “menjadi saksi”. Dengan kata lain, dipenuhi Roh Kudus adalah MANDAT dari Yesus untuk menjadi menjadi saksi. Hal penuh dengan Roh Kudus perlu pikirkan secara kritis, direnungkan secara mendalam, dan dilihat kaitannya dengan aspek-aspek lainnya di dalam teks tersebut agar kita bisa mendapatkan pemahaman yang utuh dan tepat serta relevan dan tidak kontradiktif dengan peristiwa atau pengalaman-pengalaman ‘penuh dengan Roh Kudus’ di seluruh Alkitab. BERKATA-KATA DALAM BAHASA-BAHASA LAIN Ini adalah salah satu fenomena yang muncul ketika murid-murid penuh dengan Roh Kudus. Sudah disebutkan di atas bahwa berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain adalah fenomena dan bukan esensi dari penuh dengan Roh Kudus. Ada beberpa hal yang perlu direnungkan di sini yaitu: Pertama: Murid-murid berdoa dalam bahasa-bahasa lain (baru) tanpa proses belajar, tidak meniru atau dituntun, dan juga tidak menghafal. Mereka mengucapkan bahasa-bahasa yang berbeda-beda itu secara spontan sebagaimana yang diberikan Roh Kudus. Kedua: Bahasa-bahasa yang diucapkan atau diberikan oleh Roh Kudus, adalah bahasa-bahasa dunia, bukan bahasa malaikat atau bahasa surga. Mereka mengucapkan bahasa-bahasa suku itu secara jelas sehingga dapat dimengerti oleh para pengguna bahasa itu. Paling sedikit tercatat ada15 bahasa dunia yang muncul atau terdengar ketika itu. Ketiga: Bahasa-bahasa yang diberikan Roh Kudus itu digunakan Allah sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan penting, khususnya kepada masyarakat pengguna bahasa itu. Allah berbicara kepada bangsa-bangsa atau suku-suku peziarah di Yerusalem dalam bahasa-bahasa daerah dan suku mereka masing-masing. Para pendengar tersentuh oleh pesan-pesan yang disampaikan melalui bahasa-bahasa itu. Hasilnya, ada 3000 orang percaya Yesus. Orang yang sungguh-sungguh dipenuhi Roh Kudus, tidak hanya fasih berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain ketika berdoa, tetapi dalam kehidupan sehari-hari ia pasti akan berkata-kata dalam bahasa-bahasa yang santun. Kata-katanya pasti mengandung nilai-nilai Firman Tuhan atau mengandung pesan-pesan dari Tuhan, sehingga setiap orang yang mendengarnya akan merasa nyaman dan damai. Dan apa yang dikatakannya dapat diandalkan. PESAN ESKATOLOGIS Pencurahan Roh Kudus pada Hari Pentakosta di Yerusalem yang ditandai oleh fenomena-fenomena yang baru, mengandung makna dan pesan-pesan eskatologis yang sangat penting. Ketika para peziarah Yahudi bertanya-tanya tentang apa makna peristiwa di Loteng Yerusalem itu, Petrus langsung berdiri dan menjelaskan bahwa Pencurahan Roh Kudus ini adalah realisasi dari nubuatan Nabi Yoel kurang lebih 700 tahun sebelumnya. Dengan mengutip teks apokaliptik Yahudi, Petrus menegaskan: “Itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel”. Terjemahan bahasa Ingris: “But this is what has been spoken through the prophet Joel”. “Tetapi inilah yang sudah dikatakan oleh nabi Yoel”. Pesan-pesan eskatologis yang disampaikan melalui peristiwa di Loteng Yerusalem adalah: Pertama: bahwa masa yang disebut AKHIR ZAMAN sesungguhnya telah tiba (dimulai) ketika atau sejak Roh Kudus dicurahkam di Loteng Yerusalem. Perhatikan pernyataan Petrus: “Inilah yang sudah dikatakan oleh nabi Yoel”. Kedua: bahwa nubuatan atau Janji Allah untuk mencurahkan Roh Kudus secara besar-besaran pada ‘AKHIR ZAMAN, SUDAH DIREALISASIKAN’ sejak atau ketika Roh Kudus dicurahkan di Loteng Yerusalem. Oleh karena akhir zaman sudah tiba dan janji Allah atau nubuatan tentang pencurahan Roh Kudus telah direalisasikan pada hari Pentakosta di era para rasul, maka tidak perlu lagi menunggu datangnya masa yang disebut “Akhir zaman dan Pencurahan Roh Kudus” atau dalam bahasa orang Pantekosta “hujan akhir”. SPIRIT KEPEDULIAN SOSIAL Roh Kudus berkarya tidak hanya di area spiritual tetapi juga di area kehidupan sosial ekonomi. Maka hal penuh dengan Roh Kudus tidak hanya bersifat pengalaman spiritual, tetapi juga merupakan pengalaman hidup di area sosial dan ekonomi. Mereka yang telah dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta tidak hanya duduk diam menikmati suasana damai sejahtera sambil menunggu kedatangan Tuhan. Mereka tidak menyibukkan diri hanya untuk ritual- ritual religius di dalam ruang yang dikelilingi tembok dan disebut bait Allah, dengan alasan hidup kudus, lalu mengabaikan dunia di sekitar mereka. Tidak! Orang yang penuh dengan Roh Kudus tidak berperilaku seperti itu. Roh Kudus membuka mata hati mereka sehingga mereka melihat realitas kehidupan sosial ekonomi sesama orang beriman dan masyarakat di lingkungan mereka. Ternyata ada banyak sesama yang hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Melihat kondisi itu, seluruh jemaat yang penuh dengan Roh Kudus melakukan gerakan kepedulian sosial. Ada sebagian jemaat yang menjual rumah, ada yang menjual tanah, dan ada pula yang mempersembahkan uang, lalu dibagi-bagikan kepada yang membutuhkannya. Hasilnya, seluruh jemaat dan para rasul hidup dalam kecukupan, bahkan disebutkan, ‘tidak ada seorang pun yang kekurangan’. Pemimpin gereja, hamba Tuhan, atau warga jemaat yang sudah hidup mapan secara ekonomi, dan sungguh-sungguh penuh dengan Roh Kudus, akan merasa tidak nyaman, tidak sejahtera, dan gelisah, bila ia melihat, atau mengingat, atau mengetahui, atau mendengar ada sesama hamba Tuhan atau warga jemaat yang masih hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Sebaliknya, bila para pemimpin gereja menutup mata terhadap penderitaan bawahan, atau bila hamba-hamba Tuhan yang telah hidup mapan tidak peduli terhadap kondisi sosial ekonomi hamba-hamba Tuhan di pedesaan, itu adalah fenomena – berbahasa tetapi tidak penuh dengan Roh Kudus. DAYA PESONA Orang-orang beriman hasil dari pencurahan Roh Kudus membetuk komunitas-komunitas yang disebut “jemaat”. Sebagai umat yang penuh dengan Roh Kudus, mereka memiliki karakteristik dan life style yang baru dan berbeda sama sekali dari masyarakat pada umumnya. Perbedaan life syle ini bukan sebuah produk budaya, juga bukan hasil dari kemajuan atau perubahan zaman. Karakterisitk dan life style baru ini adalah produk Roh Kudus. Eksitensi orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus ini di antara masyarakat menghadirkan suasana nyaman, damai, sukacita, dan harmoni. Tanpa mereka menyadari, ternyata tampilan hidup sehari-hari mereka diperhatikan dan menarik perhatian masyarakat sekeliling. Ada suatu daya di dalam diri mereka yang membuat setiap orang terpesona, dan daya pesona tersebut tidak lain adalah Roh Kudus. Penulis Kisah Para Rasul mengungkapkan secara tepat tentang daya pesona itu bahwa “mereka (jemaat) disukai semua orang”. Daya pesona itu tidak hanya membuat masyarakat terpesona atau kagum, tetapi bahkan daya pesona itu menarik banyak orang untuk datang dan percaya kepada Yesus. Sedemikian kuatnya daya pesona jemaat itu sehingga setiap hari banyak orang yang menggabungkan diri menjadi jemaat. Lukas menyaksikan demikian “Dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”. Gereja – dalam hal ini para pemimpin dan warga jemaat, yang benar-benar dipenuhi Roh Kudus akan menampilkan karakteristik dan life style yang baru, atau berbeda, sehingga akan memesona masyarakat. Bila para pemimpin dan warga jemaat benar-benar memiliki daya pesona dari Roh Kudus, maka daya pesona itu akan menarik banyak orang datang kepada Yesus, sehingga akan terjadi pertambahan, pertumbuhan, dan perkembangan jumlah jemaat setiap hari. Berkaitan dengan daya pesona ini, secara khusus, para pemimpin GPdI dan kita warga jemaat perlu melakukan REFLEKSI secara serius melihat realita sejarah organisasi kita dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh (10) tahun terakhir ini. Sesuai data statistik periodik, MUBES 2012, jumlah jemaat 2 juta jiwa. MUBES Maret 2022 turun menjadi 1,8 jiwa, dan terakhir MUKERNAS Oktober 2023, turun menjadi 900 ribu jiwa. Pertanyaanya pasti: ‘mengapa ini terjadi?’ Jawabannya jelas. Sesuai dengan teks Peristiwa Pentakosta, hal ini terjadi karena GPdI kita, para pemimpin GPdI kita, dan warga GPdI kita tidak lagi memiliki daya pesona, sehingga orang tidak lagi mampu menarik orang masuk ke GPdI kita. Kelihatan memang masih banyak even-even akbar yang kita lakukan, akan tetapi kita perlu menyadari bahwa untuk masa kini daya pesona itu tidak lagi terletak pada demonstrasi “bahasa-bahasa bahasa roh” di lapangan-lapangan, atau di gelanggang-gelanggang olaraga, juga tidak melalui ritual-ritual ibadah akbar yang dimeriahkan oleh bahasa-bahasa roh di dalam gedung-gedung gereja yang megah. Daya pesona pemimpin gereja, pendeta, dan warga jemaat tidak terletak pada kemapanan secara materi. Daya pesona itu adalah: karakter, watak, perilaku, tindak-tanduk, kata-kata, sikap, integritas, dan life style kita sehari-hari. AKHIRNYA…….. Semoga pada perayaan Hari Pentakosta tahun 2024 ini, kita semua, mulai dari pimpinan gereja, gembala-gembala jemaat, dan warga jemaat GPdI, dapat melakukan REFLEKSI secara mendalam dan selanjutnya melakukan INTROSPEKSI diri lalu berupaya membangun kembali daya pesona kita yang sudah tercoreng oleh berbagai masalah…. A M I N Bagikan Post navigation Mrs. PINKSTER DENGARKAN RINTIHANNYA