DENGARKAN RINTIHANNYA

(S. Tandiassa)

 

Daerah itu dijuluki tambang mas hijau, karena hasil utamanya adalah tembakau dan sayur-sayuran. Kesuburan dari gunung kembar, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing membuat petani tembakau dan sayur-sayuran hidup sejahtera, mapan, bahkan menjadi kaya.

 

LO AY KIEM

Namanya, Lo Ay Kiem. Di kaki gunung kembar itu, kurang lebih lima puluh lima tahun yang lalu, ia memulai sebuah cerita tentang jalan hidup yang panjang dan berliku. Jalan hidup yang dipilih itu tidak mudah, juga tidak menjanjikan kekayaan  seperti halnya para petani di daerah itu. Ia tahu persis bahwa jalan yang dipilihnya itu penuh resiko, menuntut kerja keras, pengorbanan tanpa batas, dan perjuangan yang tak kenal lelah dan waktu.

Namun karena ia merasa terpanggil untuk sebuah misi kemanusiaan yaitu keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan masyarakat kampungnya, Lo Ay Kiem mengambil jalan itu dengan hati yang tulus dan penuh rasa tanggung jawab. Jalan hidup itu adalah menjadi pelayan atau hamba Tuhan di GPdI.

Sebagaimana warga keturunan Tionghoa pada umumnya di daerah itu, secara ekonomi Lo Ay Kiem juga dari keluarga yang hidup kecukupan, demikian pula dengan sang suami, John Law. Maka pilihan mereka berdua menjadi hamba Tuhan di organisasi GPdI, tentunya jauh dari motif-motif ekonomi, atau bukan untuk mencari hoki.

Waktu itu, tepatnya pertengahan tahun 1969, Lo Ay Kiem, bersama suami, memulai pelayanan di sebuah kampung bernama Ngadirejo. Seperti perintisan gereja-gereja Pantekosta di desa-desa pada umumnya, jumlah jemaat yang beribadah saat itu, baru bisa dihitung dengan jari, dengan sarana ibadah yang masih serba darurat.

Kondisi jemaat yang masih dalam tahap-tahap perintisan mengharuskan Lo Ay Kiem bersama suaminya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Meskipun demikian, semangat melayani dan kasih sayang Lho Ay Kiem kepada jemaat yang baru beberapa orang, tidak pernah pudar.

 PENGORBANAN DAN AIR MATA. 

Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa, sedikit demi sedikit hasil-hasil perjuangan, kerja keras, pergumulan, doa dan air mata, serta pengorbanan sebagai hamba Tuhan, mulai terwujud. Melihat perkembangan yang memberi harapan ketika itu, Lo Ay Kiem bersama suami dan jemaat, mulai merindukan sebuah rumah ibadah yang memadai.

Lo Ay Kiem tahu benar bahwa untuk membangun rumah ibadah harus berswadaya. Melalui berbagai usaha dan kerja keras bersama jemaat, dan dengan mengorbankan harta benda yang tak terhitung dari  keluarga Lo Ay Kiem dan John Law, akhirnya berdirilah sebuah gedung GPdI yang cukup megah, tepatnya di Jl. Jumprit No. 17 Dandu, Manggong, Kec. Ngadirejo Kab. Temanggung, Jawa Tengah, yang ditahbiskan pada tahun 1996.

 

PENERUS

Seiring dengan pertumbuhan jemaat GPdI Ngadirejo, Lo Ay Kiem dan suami pun mempersiapkan kedua putranya untuk melanjutkan pelayanan GPdI Ngadirejo di kemudian hari. Adalah sebuah kebahagiaan bagi para gembala jemaat pada umumnya bila pelayanan yang dirintis, dibangun, dan dibesarkan dengan susah payah, dengan tetesan keringat dan air mata, dan pengorban, dapat dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Lo Ay Kiem yang juga dikenal sebagai Ester Law lalu mengirim anak pertamanya, Anthon Susilo ke STT Jember dan selesai pada tahun 1991, dan putra kedua, Yohan Marthinus, masuk ke STTII Jogja. Dan setelah selesai S1 Teologi, Yohan Martinus masuk ke SA GPdI Salatiga dan selesai pada tahun 2001. Peran kedua putra Lo Ay Kiem di dalam jemaat Ngadirejo ternyata berdampak sangat besar bagi pertumbuhan GPdai Ngadirejo. Melalui kerjasama dan harmonis keluarga Law, jemaat GPdI Ngadirejo bertumbuh pesat dari tahun ke tahun 2020, jumlah jemaat tercatat 350 lebih..

DIA PERGI LEBIH DAHULU

Tahun-tahun indah dan bahagia bagi Lo Ay Kiem bersama sang suami harus berakhir.  Dua (2) tahun setelah peresmian gedung gereja baru, tepatnya tahun 1998, John Law, belahan hati Lo Ay Kiem, harus pergi untuk selamanya. Kepergian itu mengusik kebahagiaan dan ketentraman batin Ester Law. Duka dan sedih, rasa sepi dan kehilangan mengoyak hati yang tulus dan penuh kasih sayang seorang ibu yang disapa jemaat tante Ester Law. Meski hatinya dirundung duka dan sedih, dicekam rasa sepi dan kehilangan, Ester Law bersama kedua putranya berusaha tetap tegar melanjutkan pelayanan di GPdI Ngadirejo.

DIDERA PENCOBAAN 

Jalan hidup yang dipilih Lo Ay Kiem, yang kini lebih populer disapa “Oma Ester Law”, memang jalan yang tidak mudah, bukan jalan hidup yang selalu mulus, juga bukan jalan yang tanpa masalah. Saat sedang giat-giatnya melayani, dan jemaat sedang bertumbuh, tiba-tiba Oma Ester harus menerima kenyataan hidup yang berat dan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Tahun 2018, Oma Ester menemukan dirinya harus duduk di kursi roda.

Ditinggal suami untuk selamanya, disusul kenyataan dirinya harus duduk di kursi roda, bukanlah situasi yang ringan, namun Oma Ester berusaha tabah, tegar, tawakal, dan setia, walau terasa amat berat. Tidak jarang Oma harus menyembunyikan rasa duka, sedih, dan sepi di hatinya serta air mata di pipinya, hanya demi menjaga agar kedua putranya, Anthon dan Yohan, tetap bersemangat melayani jemaat yang telah dirintis, dibangun, dan dipelihara selama 55 tahun.

 

BENIH-BENIH ITU TELAH BERBUAH

Lima puluh lima tahun telah berlalu. Benih-benih Ilahi yang ditabur Lo Ay Kiem bersama John Law di Ngadirejo sejak tahun 1969 kini sudah tumbuh subur. Jerih payah, pengorbanan, perjuangan, dan kerja keras disertai tetes-tetes keringat dan air mata, tidak sia-sia. Kini semua benih itu sudah tumbuh dan berbuah, dan Oma bersama anak-anaknya pun mulai memetik buah-buah pelayanan dan pengorbanan mereka.

Meski sudah memetik buah-buah pelayanan, rasa duka dan sedih masih terus membayangi diri Oma, karena sang suami, ayah Anton dan Yohan, tidak sempat menikmati hasil jerih payah dan perjuangan mereka bersama. Hanya cerita dan kenangan indah tentang perjuangan dan pengorbanan sang suami, John Law, yang selalu muncul setiap kali mereka berkumpul di pastory, terutama di hari Minggu. Tidak jarang ketika cerita dan kenangan akan sang suami muncul, wajah Oma berubah dan tampak menahan air mata.

BENCANA BADAIPUN MENIMPA DIRINYA

Gunung Sindoro dan Sumbing tampak diselimuti awan putih kehitam-hitaman. Udara terasa sangat sejuk dan segar. Suasana kehidupan penduduk di kampung-kampung di kaki gunung kembar, termasuk Ngadirejo, terasa tenang, damai, dan nyaman.

Hari itu, 30 Agustus 2020, awan putih masih menyelimuti  Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Tak ada tanda-tanda akan turun hujan, tak ada angin, juga tidak terdengar bunyi guntur yang biasanya menjadi pertanda hujan akan turun. Tiba-tiba ‘badai dahsyat’ menerobos masuk ke dalam sebuah rumah tanpa ada sesuatu yang bisa menahannya. Di dalam rumah itu, seorang ibu janda sepuh yang sedang duduk di kursi roda tak mampu menyelamatkan dirinya. Ia hanya bisa pasrah.

Beberapa hari kemudian baru diketahui, badai yang menerjang rumah Oma itu namanya PEELTE. Akibat badai Peelte itu, Oma dan kedua putranya tidak dapat lagi berdiri di mimbar gereja setiap hari Minggu pagi. Begitu dahsyatnya badai Peelte itu sehingga pintu masuk gereja pun bisa tertutup pintu besi.

Pintu gereja yang sehari-hari manjadi satu-satunya jalan untuk keluar masuk dengan kursi roda, kini terkunci rapat bak penjara. Oma yang sudah 55 tahun lebih menghuni gereja itu hanya bisa pasrah menatap pintu besi itu. Ia tak bisa lagi keluar masuk dengan kursi rodanya untuk sekedar berjemur dan menghirup udara segar seperti hari-hari sebelumnya.

Tidak jarang ketika Oma menatap pintu besi di pagi hari, di dalam hati ia menjerit seakan menggugat Tuhan: “Tuhan, apa dosaku dan salahku? Apa salah dan dosa suami dan anak-anakku? Tuhan mengapa Engkau biarkan badai Peelte ini menerjang keluargaku ketika aku sudah tua?” Tanpa terasa, pipinya yang sudah berkerut karena usia, tampak basah oleh tetes-tetes air matanya.

Deritanya terasa semakin berat ketika ia tahu ladang yang sudah digarap lebih dari 55 tahun dan biasanya memberi hasil antara 20 – 25 juta rupiah setiap bulan, ternyata juga hanyut terbawa badai Peelte. Kini Oma terpaksa duduk di kursi roda akibat telah kehabisan tenaga menggarap ladang itu 55 tahun lebih, hanya bisa memungut “bulir-bulir” yang tercecer 150 – 250 ribu rupiah setiap hari Minggu sore.

Sambil menggenggam “recehan” itu, ia menguatkan hati untuk bersyukur, meski dengan hati yang hancur karena pedih. Ia berusaha mengangkat wajah dan menjerit: “Tuhan semoga ini cukup untuk membeli obat, membayar suster, dan untuk kebutuhanku selama 7 hari ke depan”. Minggu demi Minggu ia lewati dengan jeritan batin dan doa yang sama. Tetapi hari demi hari keadaan semakin memburuk karena badai Peelte masih terus mencekam.

HARAPAN TAK KUNJUNG TERWUJUD

Empat tahun telah berlalu sejak badai Peelte menerjang masuk ke dalam rumahnya. Tetapi baginya empat tahun itu terasa seakan empat puluh tahun. Beratnya tekanan batin dan beban fisik yang ia tanggung membuat waktu terasa lambat berputar. Setiap pagi Oma bersama kedua putranya berdoa agar badai Peelte itu segera berlalu. Kadang di doa-doa pagi tak ada lagi kata-kata. Derai air matalah yang mengungkapkan kata-kata doa dan harapan mereka.

Awalnya ada yang bilang pada Oma badai Peelte ini akan berakhir setelah tiga bulan. Tiga bulan telah lewat, dan yang bilang tiga bulan itu pun sudah “berpulang”, namun badai Peelte belum juga berhenti, malahan terasa semakin keras.  Lalu muncul lagi orang yang mengaku diutus untuk meredakan badai. Harapan Oma bangkit. Oma membayangkan besok saat ia bangun, ia akan melihat sinar mentari yang lebih cerah menerobos di antara dua gunung kembar. Sebulan berlalu, setahun, dua tahun lewat, dan utusan itu telah berinkarnasi menjadi badai.  Empat tahun lewat sudah, dan utusan itu pun “sudah berpulang juga”, namun badai Peelte belum juga berhenti.

Kini dalam kondisi fisik yang semakin lemah karena usia, Lo Ay Kiem, Tante Ester Law, atau Oma ester, dengan tenaga yang masih tersisa, ia terus berjuang melawan kerasnya badai Peelte, walau ia hanya mampu menjerit. Coba dengarkan jeritannya: “Saya gembala GPdI Ngadirejo! Kembalikan pelayanan saya! Kembalikan! Saya sudah 55 tahun melayani di sini! Mau apa kamu? Mau suruh saya pergi? Kamu yang pergi! Jangan sia-siakan pelyanan saya! Jangan pecah belahkan pelayanan saya!. Kalau kamu tidak kembalikan nanti Tuhan Yesus akan menampar!” (dikutip dari rekaman Video berdurasi 36 detik)

Namun ketika suara jeritannya sampai kepada karang, kepada ombak, kepada bulan, dan kepada matari, semuanya diam, semuanya membisu, tak peduli. Ia berpaling ke gunung-gunung, dan bagai penyair ia menjerit sekuat tenaga: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?”. Tetapi gunung-gunung pun tampak tak mengubris….

Kini dari kursi roda, dalam sepi dan sedih di belakang gereja, Oma Ester Law hanya berharap, semoga mereka yang duduk di sana, yang disebut rohaniawan, yang bernama pemimpin, pendeta, dan hamba Tuhan, masih punya hati, rasa, dan telinga untuk mendengar jeritan hatinya bersama kedua anaknya……..

ST-Jogja

 

 

 

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *