Mrs. PINKSTER (by S. Tandiassa) PADA SUATU HARI Sang surya muncul dengan cahaya indah menerobos masuk ke teras rumah model kolonial yang berwarna putih dan menghadap ke timur. Seperti biasa, Mrs. Pinkster, setiap pagi duduk di teras rumah yang sudah berusia lebih dari satu abad dan sudah menjadi cagar budaya di desa itu. Di meja segi empat yang antik dan terbuat dari kayu jati, telah tersedia secangkir kopi arabika produk lokal dengan beberapa potong pisang dan ubi goreng di piring. Di sebelahnya ada surat kabar berbahasa Belanda yang baru saja diantar tukang koran. Tidak seperti biasanya, pagi itu perasaan Mrs. Pinkster tidak se-happy hari-hari sebelumnya. Wajahnya tampak tidak secerah waktu-waktu yang lalu, dan sorot matanya pun tidak tampak setajam dengan waktu-waktu sebelumnya. Pagi itu mata Mrs. Pinkster justru tampak sayu dan cara melihat pun tidak fokus. Biasanya Mrs. Pinkster menyapa ‘selamat pagi’ pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya. Kebentulan posisi rumahnya tepat berada di jalan yang cukup ramai, dan sebagian besar tetangga yang pergi ke kantor, ke sekolah, atau pun ke pasar, lewat di depan rumah Mrs. Pinkster. Pagi itu beberapa tetangga sudah lewat dan sempat menoleh ke teras rumah Mrs. Pinkster, tetapi tidak disapa, karena Mrs. Pinkster tampak larut dalam situasi perasaan sehingga pagi itu ia tidak fokus pada situasi lingkungan. Tepat pada saat Mrs. Pinkster mengangkat cangkir keramik berwarna putih untuk menyeruput kopi yang masih panas, ia mendengar suara yang menyapa namanya: “Hai, Mrs. Pinkster!” Ia melihat ke jalan di depan rumah, mengira ada seseorang yang lewat dan menyapa dia. Tetapi ketika ia melihat ke kanan kiri, tidak ada orang yang lewat. Dan Mrs. Pinkster pun lanjut nyeruput kopi tanpa gula ditemani pisang dan ubi goreng, tiba-tiba… “Pinks”, suara itu menyapa kembali. “Mengapa dirimu kelihatan seperti merana, loyo, dan kesepian? Wajahmu tampak murung dan semakin kusut, pandangan matamu sayu dan kosong, rambutmu awut-awutan, tampilan dirimu tidak seperti hari-hari sebelumnya”. “Pinks, ada apa denganmu………?” “Engkau dahulu selalu menghadirkan suasana riang, sukacita, gembira, dan bahagia. Dahulu setiap pulau, daerah, kota, desa, atau pun dusun yang engkau datangi, di sana selalu terjadi kebangkitan sukacita, bahkan ketika engkau masuk ke dalam sebuah rumah, di sana pasti ada tepuk tangan sukacita. Dahulu engkau membuat orang-orang miskin merasa kaya dan bahagia karena sukacita, kegembiraan, dan kedamaian yang engkau hadirkan pada mereka”. “Mengapa kini wajahmu tampak tak ramah lagi, tak bersahabat, dan bahkan terlihat penuh ketegangan. Ada apa dengan dirimu Pinks?” Tanpa ia ketahui dari mana munculnya, tiba-tiba di kursi yang persis di depannya, telah duduk seseorang. Saat Mrs. Pinkter mau bertanya, tamu itu langsung mengulurkan tangannya: “Selamat pagi Mrs. Pinkster. Saya Jibrail diutus seseorang yang disebut “Orang Nazareth” untuk menjumpaimu”. Mrs. Pinkster tentu saja sudah tahu siapa yang disebut “Orang Nazareth” itu. TIDAK BAIK-BAIK SAJA. Awalnya Mrs. Pinkster berpikir ia akan menjawab pertanyaan Jibrail bahwa dirinya dan keluarga besar Pinkster baik-baik saja. Semua kegiatan dalam rumpun keluarga Pinkster memang masih berjalan seperti biasa, mulai dari pusat, daerah-daerah, bahkan sampai ke desa-desa. Meeting-meeting “ARISAN” nasional dan daerah-daerah masih tetap berlangsung seperti dekade-dekade sebelumnya. Pertemuan-pertemuan arisan saat ini justru semakin sering dilakukan dan tampak semakin mewah dan wah, walaupun kesannya lebih tepat disebut ‘foya-foya’. Dan kini muncul lagi satu bentuk kegiatan yang seolah-olah baru, yang diberi nama “Gathering”. Walaupun namanya baru tetapi sesungguhnya esensi acaranya hanyalah untuk happy-happy. Ketika Mrs. Pinkster berusaha merekayasa di dalam pikirannya tentang penjelasan yang akan memberi kesan keadaan keluarganya baik-baik saja, ia tersadar bahwa masalah atau kasarnya, skandal, kasus, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kelurga besar Pinkster tak mungkin lagi ditutup-tutupi dengan cara apapun, bahkan jika ia menjelaskannya dengan kata-kata indah dan bahasa yang santun sekalipun. Mrs. Pinkster juga berpikir bagaimana mungkin ia menyembunyikan kepada yang disebut “Orang Nazareth” tentang semua kegaduhan, kekisruhan, konflik, perpecahan, dan bahkan perkelahian yang telah memporak-porandakan keluarganya mulai dari Sabang sampai Merauke. Mrs. Pinkster tersadar bahwa selama seratus tahun lebih ia hidup di belahan bumi yang disebut Indonesia ini, baru tahun-tahun terakhir ini keluarganya diterpa banyak masalah atau skandal yang benar-benar memalukan dan telah merusak reputasi keluarga besar Mrs. Pinkster. Bagaimana tidak memalukan jika anak-anaknya, cucu-cucunya, sampai cicit-cicitnya sendiri saling gugat menggugat dan berkonfrontasi di meja-meja pengadilan? Bagaimana tidak merusak reputasi atau nama besar keluarga Mrs. Pinkster jika anak, cucu, cicitnya sendiri yang saling menyeret ke markas-markas kepolisian dan saling menuduh sebagai pelaku tindak pidana? Akhirnya Pinks pun mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Jibrail. Ia memilih untuk berdiam dan mendengar apa yang akan dikatakan oleh tamunya itu. AIR MATANYA BERDERAI Menyadari semua kenyataan itu, Mrs. Pinkster tertunduk. Pikirannya menerawang ke masa lalu, menembus waktu untuk menelusuri jalan-jalan riwayat hidup keluarganya sepanjang satu abad. Ia mengenang kembali masa-masa indah ketika keluarganya masih hidup dalam suasana harmoni. Setiap kali anak-anaknya berjumpa, mereka saling menyapa dengan kata-kata yang ramah sambil berpelukan. Ia membayangkan hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun bahagia di masa-masa lalu, ketika kasih sayang masih mengikat setiap anggota keluarganya. Mereka saling menolong dan saling mengangkat. Sakit dirasakan bersama, beban berat dipikul bersama, dan bahagia dinikmati bersama. Namun kenangan-kenangan indah dan bahagia itu justri menggores luka di batin, membangkitkan rasa sedih dan pedih, duka dan luka yang dalam, karena semua itu kini hanya tinggal cerita dan kenangan. Tanpa ia sadari, pipinya telah basah oleh tetes-tetes air mata. Saat menyadari apa yang terjadi pada dirinya, Mrs. Pinkster cepat-cepat menghapus air matanya, mengangkat wajah, menarik nafas panjang-panjang seakan mau mengembalikan energi batin yang terkuras oleh kesedihan. Ia berharap Jibrail tidak melihat air mata kesedihannya. SURGA PUN MALU DAN MARAH Mrs. Pinkster melanjutkan sarapannya yang terhenti beberapa saat ketika ia tenggelam ke dalam kenangan masa lalu. Ia berpikir dengan nyeruput secangkir kopi Arabika yang ditemani ubi goreng, pikirannya dapat terbebas dari semua masalah yang telah dan sedang terjadi dalam keluarganya. Tepat saat ia mengangkat cangkir untuk menyeruput lagi kopi yang sudah mulai dingin itu, tiba-tiba…. “Hei Mrs. Pinkster! Ada apa dengan keluargamu?” Jibrail tidak lagi bertanya tentang diri Mrs. Pinkster. Kini Jibrail bertanya tentang keluarga besar Mrs. Pinkster. “Pinks, aku diutus oleh yang disebut “Orang Nazaret” untuk menyampaikan kepadamu bagaimana perasaan “Orang Nazareth” itu ketika Ia melihat berbagai peristiwa yang terjadi di dalam keluargamu. “Orang Nazaret” bersama seluruh penghuni surga merasa sangat malu, sangat kecewa, dan juga sangat marah melihat perilaku dan sepak terjang anak cucu, dan buyutmu”. “Mrs. Pinkster, tidakkah engkau tahu bahwa setiap hari seluruh penduduk negaramu ini membicakan tentang perilaku kelurga besar Pinkster. Tindakan-tindakan kejam, perilaku moral, dan konflik keluargamu itu menjadi tontonan seluruh penduduk negerimu. Coba kau buka media-media sosial, koran-koran online, FB, Youtube, grup-grup WA. Isinya adalah tentang perilaku moral, sepak terjang jahat, dan tindakan-tindakan buruk dan memalukan dari anak cucu dan cicitmu. Pinks, tidakkah engkau merasa malu melihat dan mendengar semua itu? Atau jangan-jangan engkau dan anak-anakmu sudah tidak lagi punya rasa malu?” Mrs. Pinkster terdiam. Tak berani ia mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Jibrail. Ia menyadari semua yang dikatakan Jibrail itu benar dan bahkan sedang terjadi di mana-mana saat ini. Sementara ia merasa sudah tidak berdaya lagi menghadapi perilaku, sepak terjang, dan tindakan-tindakan memalukan dari keluarganya. Dengan usia yang sudah lebih dari satu abad, Mrs. Pinkster merasa sudah terlalu tua untuk memperbaiki karakter, watak, dan perilaku moral anak-cucu, dan buyutnya. Ada penyesalan mendalam yang menyayat batinnya, namun ia berpikir penyesalan itu sudah terlambat. Mrs. Pinkster bahkan sudah pesimistis, jika karakter, perilaku, atau watak buruk anak-cucu, dan buyutnya masih bisa diperbaiki. NODA SEJARAH “Pinks!”, Jibrail berteriak agak emosi karena ia menunggu penjelasan, tetapi Mrs. Pinkster malahan semakin menunduk seakan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari Jibrail. Tetapi usahanya itu sia-sia, karena Jibrail tetap menatap wajahnya sambil terus berbicara. Dicekam rasa takut, perlahan-lahan Mrs. Pinkster menegakkan posisi duduknya, mengangkat wajahnya untuk menatap Jibrail yang duduk dan menatap tajam padanya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikiran dan mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kegalauan pikiran dan kegundahan batinnya. “Maafkan aku Jib! Ini semua karena kesalahan dan kelalaianku. Tetapi Jib, kalau saja engkau bisa melihat batinku, engkau akan tahu betapa hatikupun hancur oleh kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan penyesalan melihat kondisi keluarga Pinkster. Jib, kalau saja engkau bisa merasakan apa yang kurasakan, engkau akan tahu bahwa aku juga sangat marah dan malu karena setiap kali aku melihat, mendengar, dan mendapat informasi dari media-media sosial tentang perilaku moral dan tindakan-tindakan kejam yang dilakukan anak cucu dan buyutku. Tetapi, Jib, engkau melihat, aku sudah terlalu tua. Usiaku sudah 100 tahun lebih”. “Pinks”, Jibrail cepat-cepat menyela curhatan Mrs. Pinkster yang terkesan minta dikasihani. Jibrail berpikir, dalam kondisi keluarga Mrs. Pinkster yang sudah hancur, carut marut, dan memalukan seperti ini, bukan lagi saatnya untuk mengasihani, tetapi mencambuk, menghakimi, dan meminta tanggung jawab. Tanpa peduli bagaimana perasaan Mrs. Pinkster, Jibrail melanjutkan teguran atau kritiknya terhadap kondisi keluarga besar Mrs. Pinkster. “Pinks, aku kasih tahu kamu ya? Dalam sejarah keluarga Pinkster selama seratus tahun, belum pernah ada kejadian-kejadian seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Maaf Mrs. Pinkster, aku harus terus terang padamu. Sepuluh tahun terakhir ini keluargamu benar-benar hancur berantakan. Degradasi moral keluarga Pinkster saat ini telah melampaui batas-batas kewajaran. Mereka bertengkar dan saling memukul, mereka saling mengusir dan memperebutkan rumah-rumah yang sudah mapan. Bahkan mereka saling menyeret ke markas-markas kepolisian dan berkonfrontasi di meja-meja hijau di ruang-ruang pengadilan. Ada apa dengan keluargamu Mrs. Pinkster?” Mendengar itu, Mrs. Pinkster hanya bisa tertunduk diam, karena ia tahu semua yang diceritakan Jibrail itu benar adanya. Bahkan masih terus berlangsung sampai pada hari ini, dan kondisinya justru semakin hari semakin buruk. Beberapa saat Jibrail menunggu reaksi Mrs. Pinkster, namun yang ditunggu tetap diam membisu, dan Jibrail pun tidak mau mendesak Mrs. Pinkster untuk menanggapi. “Mrs. Pinkster!”, Jibrail melanjutkan kritiknya. “Hampir 100 tahun, keluargamu dikenal sebagai orang-orang yang hidup bersih, jujur, penuh kasih, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral atau dalam bahasa keluargamu “Hidup kudus”. Tetapi mengapa di usiamu yang memasuki satu abad, perilaku moral anak cucu dan buyutmu justru sangat buruk dan memalukan?” “Mrs. Pinkster, ada apa dengan keluargamu….?” “Bagaimana mungkin sebagian dari anak-anakmu bisa terlibat dalam perselingkuhan antar mereka sendiri? Bahkan ada yang memiliki selingkuhan sampai empat orang. Apakah engkau tidak mendengar dan membaca “ISU-ISU” tentang anak-cucumu memiliki anak-anak haram? Mrs. Pinkster, aku tanya padamu ya? Setan apa pula yang telah merasuk anak cucumu sampai mereka berperilaku yang demikian memalukan itu?” Tanpa menunggu jawaban, Jibrail lanjut dengan pertanyaan-pertanyaan kritiknya. “Mrs. Pinkster, untuk pertama kalinya di dalam sejarah keluarga Pinkster selama satu abad, muncul kelompok GENG, atau dalam bahasa Medan disebut ‘Preman Berdasi’. Anggota-anggota geng itu adalah anak cucumu yang merasa memiliki kekuatan, lebih berkuasa, dan merasa memiliki wewenang atas seluruh anggota keluarga Pinkster. Karena merasa punya kekuatan, geng itu sudah sering menggusur saudaran-saudaranya dari rumah-rumah yang dibangun dengan susah payah dan telah didiami turun temurun. Tanpa rasa belas kasihan, anggota geng itu merampas lahan-lahan garapan dan dan bahkan hasil-hasil jerih payah saudara-saudaranya”. Mendengar kata GENG itu, Mrs. Pinkster terkejut, takut, merinding, dan juga merasa sangat malu. Ia bertanya pada dirinya, bagaimana mungkin, aku Mrs. Pinkster yang notabene dikenal sebagai keluarga soleh, tetapi di dalam keluargaku muncul geng atau preman berdasi? Karena sangat malu dan takut, Mrs. Pinkster berusaha untuk lari meninggalkan Jibrail yang terus mengungkap masalah moral keluarga besar Mrs. Pinkster. Tepat saat Mrs. Pinkster mau beranjak dari kursi, Jibrail menatap wajah Mrs. Pinskster dengan tatapan yang sangat serius. Dan tatapan itu mengurungkan niat Mrs. Pinkster untuk melarikan diri. “Tidak hanya itu!,” Jibrail melanjutkan, seakan sedang mangadili Mrs. Pinkster. “Geng anak-cucumu itu, karena merasa kuat dan memegang kekuasaan, mereka memecat anggota-anggota keluarga sesuka hati mereka. Korban berjatuhan di mana-mana, seperti di Sumatra, di Jawa, di Kalimantan, di Jogja, dll. Belum cukup sampai di situ, geng anak-anakmu itu juga berfoya-foya menggunakan uang Arisan keluarga, yaitu hasil iuran setiap bulan dari semua anak cucumu. Dengan mengatasnamakan keluarga Mrs. Pinkster, para preman berdasi itu mengadakan meeting-meeting dan tidur di hotel-hotel mewah di kota metropolitan, menghabiskan uang arisan keluarga sampai ratusan juta rupiah. Sementara sebagian besar dari anak cucumu di daerah-daerah, makan tidak cukup, tinggal di rumah-rumah yang tanpa dinding, tidur di lantai tanah atau papan yang hanya beralaskan selembar tikar. Anak-anak mereka kurang gizi, dan tidak dapat bersekolah karena tidak punya uang”. “Mrs. Pinks, apakah engkau tahu semua itu? Apakah engkau pernah mendengarnya? Atau jangan-jangan engkau sesungguhnya sudah melihat, mengtahui, dan mendengar, tetapi engkau pura-pura tidak tahu atau tidak lihat? Atau engkau justru berusaha untuk menutup-nutupinya? Pinks, kuberitahu padamu ya? Sia-sia engkau berpura-pura tidak lihat dan tidak tahu. Tidak ada gunanya engkau berusaha menutup-nutupi semua perilaku keluargamu”. “Mrs. Pinks, supaya engkau tahu, nilai kerugian materil dan immaterial yang akibat tindakan-tindakan, perilaku, dan gaya hidup dari geng anak-anakmu, sudah tak terhitung lagi. Semua kerugian itu sudah pasti akan tercatat menjadi dokumen sejarah keluarga besarmu, Mrs. Pinkster. Luka-luka hati yang disebabkan oleh perilaku sadis dan tak manusiawi dari geng anak cucumu, tak akan pernah terobati. Rasa sakit karena luka-luka itu akan dirasakan oleh para korban sampai keturunan ketiga dan keempat”. “Mrs. Pinkster!”, nada suara Jibrail terdengar meninggi, dan sambil menatap wajah Mrs. Pinkster yang sudah basah oleh linangan air mata, Jibrail melanjutkan: “Mrs Pinkster, saya mau menegaskan kepadamu bahwa semua bentuk peripaku moral dan tindakan kekerasan atau kejahatan yang dilakukan kelompok geng anak cucumu dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir ini, telah direkam dan dicatat dengan TINTA HITAM oleh para Malaikat. Catatan-catatan itu telah menjadi NODA HITAM dalam sejarah keluarga Mrs. Pinkster selama satu abad”. Mendengar itu, Mrs. Pinkster tampak gugup dan lemas. Rasa sedih, kecewa, putus asa, takut, dan ngeri terasa bagai belati yang menikam batinnya secara bertubi-tubi. Kedua bola mata ibu yang telah berusia lebih dari seratus tahun itu, berkedap-kedip dan mulai berkaca-kaca. Pipinya yang sudah mengeriput dimakan usia, tampak mulai basah, dan tiba-tiba…. “Jibrail!,… Jibrail!,” suara Mrs. Pinkster meledak demikian keras, membuat Jibrail terhentak dan menghempaskan badanya ke sandaran kursi, tetapi dengan mata yang tetap menatap tajam ke wajah Mrs. Pinkster. Jibrail menyadari ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Mrs. Pinkster. Jibrail pun menunggu dengan penuh perhatian, Tetapi Mrs. Pinkster justru terdiam, dan keadaan pun jadi hening….. PENYESALAN YANG TERLAMBAT Selang beberapa menit, setelah bisa menguasai diri, Mrs. Pinkster mengangkat wajahnya. Ia memberanikan diri menatap wajah Jibrail yang sedang duduk bersandar di kursi. Melihat cara memandang Mrs. Pinkster itu, Jibrail menangkap ada hal-hal serius, yang akan dikatakan oleh Mrs. Pinkster, dan….. “Jibrail”, Mrs. Pinkster mulai dengan nada yang terasa memelas. “Ini semua salahku Jib. Aku sangat menyesal, walau aku tahu penyesalanku ini sudah terlambat. Aku harus jujur kepadamu Jibrail. Mengapa kondisi keluarga Pinkster kini berantakan, kacau, berkonflik, dan perilaku moralnya rusak. Aku terlena oleh keberhasilan dan kejayaan masa lalu. Aku terbuai oleh pujian dan sanjungan. Dan aku dininabobokan oleh nama besar keluargaku “Pinkster”. “Jibrail, tadinya aku mengira aku masih jaya seperti 50 – 80 tahun lalu. Aku menyangka namaku masih dipuja-puja dan disanjung-sanjung seperti yang dulu-dulu. Tadinya aku membayangkan nama besar keluargaku “Pinkster” masih disegani dan dihormati seperti yang dulu, dulu, dan duluu…. Ternyata ternyata semua keberhasilan, kejayaan, kehormatan, sanjungan, dan pujian dulu, dulu, dan yang dulu itu, kini hanya tinggal kenangan. Dulu keturunanku pernah mencapai lebih dari dua juta orang, tetapi sekarang tinggal tujuh ratus ribuan”. “Jibrail, banyak anak cucu dan buyutku lari karena merasa tidak aman lagi di rumah. Sebagian keluar dari rumpun keluarga dan masuk ke rumpun keluarga saudara-saudaraku, karena mereka sangat malu melihat perilaku moral anak cucu dan buyutku, dan sebagian lagi pergi dengan membawa kemarahan akibat ulah dari geng anak cucuku. Dan kini aku mulai cemas melihat yang masih tersisa ini, apakah mereka bisa bertahan dalam kondisi keluarga yang kacau balau ini, ditambha lagi jika geng anak cucuku masih merajalela”. Mrs. Pinkster menundukkan wajahnya kembali. Rasa bersalah dan menyesal membuat ia malu memandang wajah Jibrail. Sesaat kemudian, Mrs. Pinkster memberanikan diri mengulurkan tangannya dan memegang tangan Jibrail. Jibrail merasa ada sesuatu yang spesifik yang mau dikatakan oleh Mrs. Pinkster.. “Jibrail”, Mrs. Pinkster melanjutkan. “Aku sudah berusia 100 tahun lebih. Aku sudah terlalu tua untuk memperbaiki semua kerusakan, kehancuran, dan kerugian, yang terjadi akibat ulah dan perilaku buruk serta tindakan-tindakan kejam yang dilakukan oleh geng anak-cucu, dan buyutku. Jibrail, sudah terlalu besar kerusakan yang terjadi di dalam kelurgaku. Sudah terlalu banyak kerugian yang diderita oleh sebagian besar anak cucu dan buyutku”, dan kata-kata Mrs. Pinkster terhenti. Ia menahan emosi kesedihan, penyesalan, dan rasa bersalah yang mendalam, namun ia tidak dapat membendung air matanya. “Jibrail”, Mrs. Pinskter menyambung lagi, “aku mohon kepadamu, tolong sampaikan kepada “Orang Nazareth”, aku sudah tidak mampu lagi memperbaiki karakter dan perilaku keluargaku. Anak, cucu dan buyutku sudah tidak peduli terhadap norma-norma moral dan aturan-aturan yang ada di dalam keluarga Pinkster”. “Jibrail, tolong katakan pada-Nya, andaikan aku masih kuat untuk memperbaiki kondisi keluargaku, mungkin juga sudah TERLAMBAT. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh, sudah terlalu besar kerugian yang diderita, yang hilang tak mungkin dikembalikan, goresan luka-luka di hati takkan pernah terhapus lagi. Jib, aku sangat menyesal, walau aku tahu sudah sangat terlambat, karena semuanya sudah terjadi”. DAN DOA-DOA PUN TAK DIJAWAB. “Jib, sebenarnya keluarga besarku “Pinkster”, sudah berdoa banyak. Mereka berpuasa, mengadakan doa-doa rantai, doa-doa semalam suntuk, konser-konser doa, bahkan di medsos-medsos pun anak cucu dan buyut Pinkster, saat ini sedang berlomba-lomba mengadakan doa-doa pagi dan doa-doa malam. Semua doa ini memohon pemulihan atas kondisi keluargaku: Pinkster.” “Tetapi kenyataan yang aku hadapi saat ini, kondisi keluargaku justru semakin kacau, semakin gaduh, semakin memburuk, semakin banyak konflik dan perpecahan. Di satu sisi kelompok geng semakin bertindak hantam kromo dengan kejam. Di sisi lain anak cucu dan buyutku yang lain mulai bangkit melakukan perlawanan untuk membela dan mempertahankan hak-haknya. Akhirnya “perang Barata Yuda” pun tak terhindarkan lagi”. “Dan aku sebagai ibu yang sudah dimakan usia ini, tak berdaya lagi, selain hanya bisa melihat anak cucu dan buyutku, keluarga besar Mrs. Pinkster, saling mencelakai, menjatuhkan, saling menghancurkan. Dan aku mulai berpikir mungkin Dia yang disebut Orang Nazareth itu tidak lagi peduli doa-doa kami. Mungkin Dia yang di atas sana sudah bosan melihat perilaku keluargaku sehingga doa-doa kami siang hanya bagai angin berlalu”. “Jibrail, ini pesanku yang terakhir. Jika “Orang Nazareth” itu masih bermurah hati pada keluargaku, Pinkster, aku mohon Dia berkenan segera turun mengintervensi dan menghentikan aksi-aksi premanisme para geng yang semakin tak manusiawi dan tak peduli lagi pada aturan kelurga besar kami. Jika Dia tidak menghentikannya dengan ajaran, kiranya Dia berkenan menghentikannya dengan HAJARAN”. “Namun, bila Dia merasa sudah muak dan bosan melihat perilaku buruk, kemunafikan, dan tindakan kejam dari geng anak cucuku, lalu Ia membiarkan saja mereka terus berbuat sesuka hati mereka, aku pun tidak akan kecewa. Aku akan meminjam doa-Nya dulu ketika di taman Getsemani: ” Bapa, jikalau boleh ambillah cawan ini daripadaku, tetapi jika aku harus minum cawan ini, jadilah kehendak-Mu”. Dan, teng….. teng….. teng…..teeng…. Lonceng jam kuno peninggalan Belanda yang digantung di dinding berwarna putih itu membunyikan tanda pukul 4 sore. Jibrail segera mengulurkan tangannya: “Mrs. Pinkster, aku harus kembali. Terima kasih untuk kopi, ubi dan pisang gorengnya ya? Aku harus cepat-cepat pulang. Mrs. Pinkster mungkin lupa, kita belum makan siang kan? Tapi aku ra’ popo! Dan tunggulah apa yang akan dilakukan oleh Orang Nazareth itu. Selamat sore Mrs. PINKSTER!” (ST Jogja) Bagikan Post navigation “TIDAK ADA TEMPAT BAGI MEREKA DI RUMAH PENGINAPAN” REFLEKSI HARI PENTAKOSTA