(Refleksi Menjelang Paskah)

Yesus adalah Sang Benar dan Kebenaran.

Segala kebenaran bersumber dari Yesus. Tetapi Sang Benar dan Kebenaran itu dikorbankan oleh “kebenaran” versi Pilatus. Berikut ini adalah cerita Lukas tentang bagaimana Pilatus mengorbankan Sang Benar dan Kebenaran (Yesus) atas dasar kebenaran versi Pilatus.

” Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin serta rakyat, dan berkata kepada mereka: “Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak ada suatu apapun yang dilakukan-Nya yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.”

Tetapi mereka berteriak bersama-sama: “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!” Barabas ini dimasukkan ke dalam penjara berhubung dengan suatu pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan. Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.”

Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka. Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.

(Luk. 23:16-25)

REFLEKSI!
Berangkat dari cerita versi Lukas ini muncul ide-ide tentang kebenaran Versi Pilatus:

  1. Kebenaran bukan apa kata HATI NURANI tetapi apa kata ORANG BANYAK.
    – Hati nurani Piatus sadar dan akal budinya tahu persis bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi Pilatus melawan dan membungkam suara hati nurani dan akal sehatnya karena mendengar suara orang banyak.
  2. Kebenaran tidak berdasarkan FAKTA tetapi berdasarkan KEPENTINGAN.
    – Faktanya: baik Heodes maupun Pilatus tidak menemukan satupun kesalahan Yesus, tetapi Yesus harus disalahkan demi menjaga kepentingan-kepentingan individu dan kelompok.
  3. Kebenaran faktual harus disingkirkan demi membenarkan kepentingan-kepentingan politik.
    – Pilatus memiliki fakta-fakta tentang Yesus benar, atau Yesus tidak bersalah, tetapi demi kepentingan politik Pilatus dan para Imam, kebenaran tentang Yesus disingkirkan.
  4. Kebenaran tidak diukur dari kenyataan tetapi diukur Kepuasan orang banyak. Kepuasan orang banyak lebih penting daripada kebenaran.
    – Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan demi memuaskan orang banyak, antara lain adalah para pejabat dan elite bait Allah Yahudi.
  5. Kebenaran ditentukan oleh kekuasaan atau Kekuasaan adalah kebenaran.
    – Pilatus sebagai representatif penguasa Roma di tanah Israel, menetapkan dan memutuskan berdasarkan kekuasaannya untuk menyalibkan Yesus.

    – Semoga Renungan ini memberi hikmah kepada kita dalam menyambut hari Paskah. (ST)

 

Bagikan

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *