(Refleksi Natal 2023) “Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7). Situasi politik kekaisaran Romawi ketika itu mengharuskan setiap penduduk kembali ke kota atau kampung asalnya untuk disensus. Dari Nazaret ada satu rombongan pemudik ke kota Betlehem, di antaranya Yusuf dan Maria. Mereka menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 150 km. Tidak disebutkan berapa hari mereka berjalan, tetapi yang jelas, ketika itu Maria dalam kondisi mengandung dan menjelang hari-hari untuk melahirkan. Setibanya mereka di Betlehem, Maria pun melahirkan Yesus. Penulis Injil Lukas mendapatkan informasi dari saksi-saksi mata bahwa Maria melahirkan di kandang domba dan membaringkan Yesus di dalam palungan karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Tidak ada penjelasan mengapa “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”. Apakah karena semua rumah penginapan di Betlehem sudah penuh karena semua perantau pada mudik ke Betlehem, ataukah karena Yusuf dan Maria memang terlalu miskin sehingga mereka tidak mampu membayar penginapan, sementara di rumah-rumah kerabatnya mungkin juga sudah penuh ketika mereka tiba. Sangat Ironis! Seorang Putra, pewaris dinasti Daud, tetapi lahir di kandang domba. Tidak dapat dinalar memang! Seorang Raja Yahudi yang kelahirannya sudah diramalkan para nabi Israel ratusan bahkan ribuan tahun sebelumnya, tetapi saat lahir, Ia hanya dibaringkan di dalam palungan. Sulit dipercaya, Anak Allah, Sang Pencipta dan pemilik alam semesta, tetapi “tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan”. Bagaimana mungkin, Sang Raja Damai, Sang Juruselamat, Sang Kebenaran, Sang Penebus dosa, yang kelahiran-Nya disambut dengan paduan suara ribuan Malaikat di padang Efrata, tetapi “tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan”. Ironis, tidak dapat dinalar, dan sulit dipercaya, tetapi itulah FAKTA, dan FAKTA adalah KEBENARAN. Bandingkan dengan gaya hidup hamba-hamba Tuhan masa kini. Setiap kali ada even gereja, justru dilaksanakan di hotel-hotel mewah di kota-kota besar, dan yang memenuhi hotel-hotel adalah mereka yang menyandang predikat “hamba” Tuhan. Sementara itu banyak gembala jemaat di daerah-daerah pedesaan yang setiap Natal mengeluh karena jika mereka mengundang hamba-hamba Tuhan dari kota untuk pelayanan, salah satu tuntutan mereka adalah penginapan atau hotel. Bagi para pemimpin masa kini, khususnya di kalangan aliran-aliran Pantekosta, menyelenggarakan even-even gereja di hotel-hotel mewah dianggap sebagai sebuah keberhasilan seorang pemimpin. Kemudian, menginap di hotel-hotel berbintang saat melakukan pelayanan, adalah sebuah prestise dan dianggap sebagai keberhasilan pelayanan dan suatu pertanda seorang hamba Tuhan dipakai dan diurapi Tuhan. Masa kini fasilitas-fasilitas penginapan sudah sedemikian mudah didapatkan, sehingga sangat tidak mungkin bagi para pemberita tentang kelahiran Yesus (para pendeta) untuk tidak menapatkan tempat di rumah-rumah penginapan atau hotel-hotel. Hal “tidak ada tempat bagi Yesus di rumah penginapan” tidak hanya terjadi di kota Betlehem lebih dari 2000 tahun lalu, tetapi juga pada masa kini di era milenial, Yesus mengalami kembali hal yang sama, yaitu “tidak ada tempat baginya di dalam “rumah ini”. Fakta-fakta yang ada di depan mata kita sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus masih tetap tidak ada tempat, bukan lagi rumah penginapan tetapi bahkan di tempat yang disebut rumah Tuhan pun, tidak ada tempat bagi Yesus. I. TAK ADA TEMPAT BAGI SANG RAJA DAMAI Salah satu predikat Yesus adalah Raja damai. 700 tahun sebelumnya, Yesaya sudah memberitahukan bahwa ‘Anak yang akan dilahirkan itu memiliki gelar-gelar Ilahi yaitu: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai’. Pada malam kelahiran-Nya di Betlehem, sejumlah besar malaikat muncul di langit padang Efrata yang menyerukan bahwa ‘damai datang ke atas bumi’. 30 tahun setelah kelahiran-Nya di Betlehem, Yesus mengungkapkan kepada murid-murid-Nya: ‘Damai yang Ku-berikan kepadamu, tidak seperti damai yang diberikan oleh dunia’. Yesus bukan hanya Raja yang membawa damai yang memerintah dengan damai, tetapi Yesus adalah sumber damai dan Yesus adalah damai itu sendiri. Saat Yesus melakukan pelayanan secara umum, setiap orang yang berjumpa dengan Yesus, selalu mengalami damai sejahtera, setiap rumah yang disinggahi, dipenuhi dengan damai. Singkatnya, di mana pun Yesus berada, di sana pasti keadaan menjadi damai, bahkan gelora dan amuk laut Galilea pun menjadi tenang dan damai ketika Yesus ada di sana. Namun kini “tidak ada lagi tempat bagi Yesus sang Raja damai di rumah ini”. Lihatlan di sana hanya ada konflik dan konfrontasi antar para “pemberita damai”. Sementara di sudut lain dalam rumah ini hanya kegaduhan, ketegangan, dan kekacauan. Lihatlah ruang-ruang rapat di rumah ini, di sana ada yang menggebrak meja di depan sesama hamba karena ia merasa paling berkuasa di rumah itu, walaupun ia baru satu dua tahun berada di rumah itu, dan mungkin dua tahun lagi ia akan lengser. Tengoklah ke ruang-ruang kantor. Di sana terdapat kelompok-kelompok yang menyandang predikat ‘hamba Tuhan’ sedang berkumpul bukan untuk ber-fellowship tetapi untuk mencari cara, merumuskan ide-ide, serta membuat kesepakatan untuk menciptakan alasan-alasan yang akan digunakan untuk menuduh, menghakimi, kemudian menjatuhkan sanksi untuk menyingkirkan siapa pun yang mereka tidak disukai. Lihatlah pula ke beberapa kampung dan kota, di sana ada gembala-gembala yang digusur dari rumah yang sudah dibangun susah payah, dengan tetesan keringat dan air mata selama puluhan tahun. Di sana ada hamba-hamba Tuhan yang menjadi korban persekongkolan dan kepentingan penguasa. Ada gembala yang dipaksa keluar atau pergi dari ladang pelayanan yang sudah digarap bertahun-tahun bahkan sudah berpuluh tahun. “Tidak ada lagi tempat bagi Sang Raja Damai di rumah ini”, karena rumah ini sudah dipenuhi dan dikuasai oleh sosok-sosok manusia yang menggunakan OTOT untuk membungkam, mengintimidasi, dan menggusur penghuni-penghuni yang dianggap tidak mendukung. Dan korban pun terus berjatuhan. Dan entah sampai kapan keadaan ini akan berlangsung, Sang Raja damai hanya dibaringkan di dalam palungan, karena tidak ada lagi tempat bagi-Nya di rumah penginapan ini. II. TAK ADA TEMPAT BAGI SANG JURUSELAMAT Hal menyelamatkan adalah prinsip yang paling dominan di dalam misi kedatangan Yesus sebagai manusia yang lahir di kandang domba. Kurang lebih setahun sebelumnya, Malaikat sudah memberitahukan kepada Yusuf bahwa bila bayi yang dikandung Maria itu lahir, Yusuf harus menamai-Nya Yesus, karena Yesus itu adalah Sang Penyelamat atau Sang Juruselamat. Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya. Pada malam kelahiran-Nya, Malaikat-malaikat menyerukan kepada para gembala di padang Efrata bahwa malam itu ada seorang bayi yang lahir di kendang domba. Bayi itu adalah Sang Juruselamat. Tetapi sang Juruselamat itu hanya dibaringkan di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Pada waktu Yesus memulai pelayanan-Nya di depan umum, Yesus sengaja membaca bagian kitab suci tentang TEKS MESIANIS yang berisi pesan-pesan: penyelamatan, pembebasan, dan pengentasan dari kondisi sosial yang buruk. Dengarkanlah proklamasi Mesianis Yesus Sang Juruselamat: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”(Luk.4:18-19). Misi penyelamatan Yesus mencakup seluruh aspek hidup manusia; sosial, ekonomi, budaya, hukum, politik, dan aspek spiritual. Maka penyelamatan dalam perspektif misi Yesus mencakup makanan; pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan, kemerdekaan dari penjajahan, pengentasan dari segala kemiskinan, dan pembebasan dari dosa dan akibat-akibatnya. Untuk merealisasikan misi penyelamatan itu, Yesus harus membayar harganya, yaitu relah menjadi korban dengan cara disalibkan. Yesus menjadi Sang Juruselamat, tidak dengan cara menggunakan kekuasaan mutlak-Nya, tetapi melalui sebuah proses perjuangan, penderitaan, bahkan sampai pada kematian. Tetapi saat ini Yesus Sang Juruselamat, Sang Pembebas, atau Sang Penebus, tidak ada lagi tempat di rumah ini. coba Anda tengok ke kiri, kanan, belakang, dan ke depan. Apa yang sedang terjadi di rumah ini? Mereka yang seharusnya menjadi tangan-tangan Sang Juruselamat yang menyelamatkan, membebaskan, mengangkat, membela, melindungi, dan mengentaskan sesamanya, justru berbalik menjadi momok yang mengintimidasi, menindas, memukul, membunuh karakter sesama hamba Tuhan, bahkan mereka sudah tidak punya rasa malu menggusur di sana-sini, merampas hak-hak sesama hamba Tuhan. Lihatlah di pulau Borneo, seorang hamba Tuhan yang merasa terpanggil masuk ke suatu daerah untuk merintis rumah Tuhan sejak tahun 2005. Ia membeli tanah dan membangun rumah Tuhan dengan uang dari kantong sendiri. Selanjutnya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga dan pelayanan, ia harus bekerja setiap hari dari pagi sampai malam. Tetapi ia telah digusur. Awalnya ia didiskreditkan, kemudian diintimidasi, dan akhirnya dengan legalitas organisasi, penguasa ‘membuangnya’ keluar rumah Tuhan. Dengan demikian, bagi hamba Tuhan itu, tidak ada lagi tempat baginya di rumah Tuhan. Tengoklah pula ke Banten, seorang hamba Tuhan yang berjuang dengan susah payah untuk membangun dan membesarkan rumah Tuhan selama 15 tahun. Membeli tanah dengan uang dari kantong sendiri, lalu bersama jemaat membangun dan akhirnya terwujudlah sebuah rumah Tuhan yang indah. Tetapi pada sautu saat, tanpa angin tanpa hujan, pak gembala menerima surat “pemecatan dengan tidak hormat” dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Pmecatan tersebut sama dengan tindakan mengusir atau menggusur sesama hamba Tuhan, dan merampas hak-haknya. Berpalinglah sekarang ke sebuah desa di bawah kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di Jawa Tengah. Di sana terdapat seorang oma, janda hamba Tuhan yang telah melayani dan membangun rumah Tuhan sejak tahun 1969. Melintasi waktu 55 Tahun, ia bersama suami dan anak-anaknya telah berhasil membesarkan pelayanannya. Tetapi saat ini oma janda gembala jemaat itu bersama anaknya sedang merintih dalam situasi terancam kehilangan seluruh hasil perjuangan, kerja keras, jerih payah, dan pengorbanannya bersama keluarga. Coba Anda dengarkan teriakan Oma kepada mereka: “saya gembala di sini, kembalikan pelayanan saya, saya sudah 55 tahun melayani di sini”. Arahkanlah mata Anda ke Pulau Natuna Kepulauan Riau. Di sana terdapat seorang hamba Tuhan yang Ia telah membangun pelayanan di pulau itu selama 7 tahun, dan telah berhasil membangun sebuah rumah ibadah yang ber AC dengan jumlah jemaat sekitar 100 orang, dan membangun rumah tinggal 2 lantai. Tetapi saat ini hamba Tuhan itu telah diusir dari rumahnya dengan alasan-alasan yang dibuat-buat penguasa organisasinya tanpa diberi ongkos jalan. Ia disuruh pergi ke suatu pulau pada hal di pulau itu belum ada rumah untuk dia dan keluarganya. Akhirnya, dengan menahan kepedihan, kekecewaan, luka-luka, dan dengan diiringi tetes-tetes air mata ia dan keluarganya terpaksa kembali ke kampung dan menumpang di rumah kerabat. Ternyata tidak hanya di kota Betlehem “Sang Juruselamat tidak mendapat tempat di rumah penginapan” tetapi juga “di rumah kita” juga sudah tidak ada lagi tempat bagi Sang Juruselamat. Lihatlah kejadian-kejadian di sekitar kita, tidak ada lagi tindakan-tindakan penyelamatan, pembelaan, pembebasan, dan pengentasan. Sebaliknya yang dipertontonkan adalah penggusuran dan pengusiran sesama, serta perampasan dan penyerobotan milik sesama. Mereka yang memiliki kekuasaan, bukannya menggunakan kekuasaan itu untuk menyelamatkan, mengangkat, dan mengentaskan sesama, tetapi justrus digunakan untuk mengggusur dan mengusir orang lain dari lahan-lahan pelayanannya. Kekuasaan bukannya digunakan untuk menolong, melindungi, dan menyejahterakan, tetepai digunakan untuk mengambil hasil-hasil jerih payah dan tetesan keringat dan air mata sesama tanpa merasa bersalah. III. TAK ADA TEMPAT BAGI SANG KEBENARAN Yesus datang ke dalam dunia sebagai kebenaran. Ia mengajarkan dan melakukan kebenaran. Kata-kata-Nya benar dan adalah kebenaran. Yesus membenarkan orang-orang yang berdosa dengan jalan menanggung segala kesalahan dan dosa manusia. Yesus menyatakan: ‘Akulah kebenaran’. Implikasinya adalah bahwa di mana pun Yesus berada, di sana pasti ada kebenaran. Tetapi ketika “Sang Kebenaran datang ke kota Betlehem, ternyata “tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan”. Apakah kebenaran itu? Pertama, Kebenaran adalah fakta. Fakta adalah kenyataan, sesuatu yang nyata dan dapat dilihat. Kebenaran sebagai fakta tidak memutuhkan keyakinan atau konsensus manusia. Anda yakin atau tidak, anda setuju atau tidak, fakta atau kenyataan tetap nyata. Kedua, Kebenaran adalah ketepatan antara konsep atau kata-kata dengan kenyataan. Apa yang anda katakan harus tepat atau persis seperti yang ada dalam kenyataan. Mari kita menengok ke dalam “rumah kita”. Apakah masih ada tempat bagi Sang Kebenaran di sana? Apakah masih prinsip-prinsip dan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan ketulusan di sana? Tengoklah, ke suatu bagian rumah penginapan yang bernama organisasi ini. Di sana terjadi pelanggaran-pelanggaran aturan secara masif, sistematik, terencana, dan disengaja, tetapi para pelakunya tidak merasa bersalah. Malahan pelanggaran-pelanggaran tersebut dilegitimasi dengan cara dicap “DISKRESI”. Dengan cap ‘diskresi’ itu, semua tindakan manipulasi, persekongkolan, pelanggaran, kecurangan, kekerasan, dan amoral kelihatan ‘benar atau legal’, meski sebenarnya sedang menipu diri sendiri. Ya! Ini adalah fakta, bahwa tidak ada tempat bagi Sang Kebenaran di rumah ini”. Di bagian lain, terdapat kelompok dan oknum-oknum yang terus menerus melakukan berbagai movement, memutarbalikkan fakta, menciptakan situasi chaos (keos / kekacauan) yang kemudian dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan. Mereka sengaja memperkeruh air untuk menangkap ikan, sengaja menciptakan kekacauan di ladang-ladang pelayanan orang lain melalui antek-anteknya. Ketika keadaan sudah kacau, mereka muncul bagai dewa penolong, yang menawarkan diri sebagai ‘pendamai, pembina, pembela, pendamping, dan penolong, dan pelaksana tugas. Tetapi apa yang mereka lakukan? Mereka justru menggerogoti, merusak, meracuni, mencuri, dan merampas hak-hak sesama. “Sungguh, tidak ada lagi tempat bagi Sang Kebenaran di rumah ini”. Sementara itu, di sudut lain rumah besar ini, orang-orang yang berbicara jujur sesuai fakta justru dicap sebagai pemberontak atau pembangkang. Orang yang mengkritisi penyimpangan-penyimpangan para pemimpin atau para pemangku kekuasaan, justru dituduh sebagai orang yang mau menjatuhkan pimpinan. Dan orang-orang yang konsisten bertindak berdasarkan aturan-aturan dan tidak mau kompromi terhadap pelanggaran sekecil apapun, justru didiskreditkan, dihakimi, dan bahkan tidak sedikit yang disanksi. IV. SERIGALA LEBIH BERUNTUNG Tiga puluh tahun sudah berlalu sejak kelahiran-Nya di Betlehem. Dalam kurun waktu tiga puluh tahun itu sudah pasti telah terjadi banyak perubahan di dalam masyarakat. Telah terjadi pergeseran nilai-nilai, lalu muncul budaya-budaya baru. Wawasan masyarakat semakin luas dan terbuka, serta gaya hidup sehari-hari dengan sendirinya sudah semakin berkembang. Secara keseluruhan telah terjadi banyak perubahan, kemajuan, dan perkembangan, kecuali untuk satu hal, yaitu ‘masih tidak ada tempat bagi Raja Damai, Juruselamat, dan Sang Kebenaran. Melihat dan mengalami kenyataan bahwa setelah tigapuluh tahun, masih saja tidak ada tempat, Yesus mengungkapkan keprihatinan-Nya: “Serigala mempunyai lubang, dan burung-burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Secara sentimental jika kita menyelami perasaan kemanusiaan Yesus, Ia pasti mengatakan bahwa serigala dan burung-burung masih lebih beruntung karena masing-masing masih memiliki tempat, yaitu lubang dan sarang, tetapi Anak Manusia (Yesus), sejak lahir di Betlehem sampai Ia berusia 30 tahun, tidak ada tempat bagi-Nya. Ternyata sampai pada masa-masa kini, si Serigala itu masih lebih beruntung, karena si Serigala tidak hanya ‘masih mendapatkan tempat di rumah’ malahan ia memposisikan diri sebagai pemilik dan penguasa rumah. Maka jadilah, si Serigala leluasa melakukan aksi-aksinya dan menikmati daging mangsa-mangsanya. Lihatlah, di sana ada aksi menyingkirkan siapa pun yang dianggap tidak mendukung. Lalu di sana lagi ada pemberhentian atau pemecatan orang-orang yang dianggap saingan. Di suatu daerah di Indonesia Bagian Barat, si Serigala beraksi dalam kondisi mabuk kekuasaan, membunuh karakter 17 hamba Tuhan sekaligus. Di hutan Kalimantan Barat, seorang hamba Tuhan dimangsa serigala hanya karena suaranya sempat terdengar mengatakan, ‘aku tidak suka muka serigala’. Sementara yang di sebuah pulau di Kepulauan Riau, satu keluarga hamba Tuhan yang sudah 7 tahun mengabdi dan membangun, dipaksa untuk meninggalkan pulau itu. Dengan terpaksa dan berat hati mereka pergi dari pulau itu membawa luka hati dengan tangan kosong. Saat ini, tepatnya di bawah kaki Gunung Sindoro di Jawa tengah, si Serigala sedang mengaum-ngaum untuk menakut-nakuti seorang ibu janda tua yang sudah lebih dari 55 tahun berada di sana. Hampir di setiap daerah terdapat korban-korban serigala, dan tentunya korban masih akan terus bertambah karena si Serigala masih bebas berkeliaran menyebar ketakutan, mengancam, bahkan menyerang dan menyerobot masuk rumah tanpa ada yang bisa menghentikannya. Petrus mengingatkan kita: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya” V. BERI TEMPAT DI HATIMU Akhirnya, jika tidak ada lagi tempat bagi Yesus di rumah ini, dan jika rumah ini telah dikuasai oleh si Serigala, minimal, berilah tempat bagi Sang Raja Damai, Sang Juruselamat, dan Sang Kebenaran di hati Anda. Dengarkan Dia berkata: “Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk, siapa yang mendengar dan membukakan pintu, Aku akan masuk dan Diam bersama dia”. ST Bagikan Post navigation BANGKITLAH HAI GEMBALA-GEMBALA Mrs. PINKSTER